Industri

Tren Istilah: Memahami Ekonomi Sirkular dan Praktiknya di Indonesia

  • Belakangan ini pendekatan sirkular mulai diimplementasikan dalam perekonomian dalam negeri.
ekonomi sirkular.jpg
Ilustrasi ekonomi sirkular (IStockphoto.com)

JAKARTA — Sistem ekonomi di Indonesia selama ini masih sangat bergantung pada model linear, model yang dinilai mampu memaksimalkan hasil dan keuntungan. Nilai yang tercipta dalam sistem ekonomi jenis ini diambil dengan memproduksi dan menjual sebanyak mungkin barang. Sederhananya, buat-pakai-buang. 

Belakangan ini pendekatan sirkular mulai diimplementasikan dalam perekonomian dalam negeri. Lalu apa itu ekonomi sirkular? Ekonomi sirkular adalah model yang berupaya memperpanjang siklus hidup dari sebuah produk, bahan baku maupun sumber daya agar dapat dipakai selama mungkin. 

Prinsip ekonomi sirkular termasuk upaya mengurangi polusi dan limbah, meregenerasi alam dan menjaga produk dan material agar bisa lebih awet. Di Indonesia, pendekatan ekonomi sirkular yang mulai diterapkan yakni 5R (Reduce, Reuse, Recycle, Refurbish, Renew). Melalui ekonomi sirkular, kita dapat mencapai lebih banyak dengan menggunakan lebih sedikit.

Berikut lima sektor prioritas penerapan ekonomi sirkular di Indonesia, dikutip dari lcdi-indonesia.id:

Makanan dan Minuman

Sektor ini menyumbang 9,3% dari total PDB pada 2019 dan merupakan subsektor terbesar dari sektor manufaktur. Sektor manufaktur sendiri merupakan sektor industri terbesar di Indonesia. 

Ekonomi sirkular tidak hanya dapat membantu menghindari kehilangan pangan dan limbah makanan (misal dengan memperpendek rantai pasok), tapi juga dapat membantu memanfaatkan kehilangan pangan dan limbah makanan untuk tujuan produktif seperti pembuatan kompos dan biogas. 

Tekstil

Sektor tekstil mempekerjakan sekitar 4,2 juta orang atau lebih dari 26% lapangan kerja di sektor manufaktur Indonesia. Indonesia termasuk dalam 10 besar negara penghasil tekstil di dunia. Ekonomi sirkular dalam manufaktur tekstil akan membawa banyak manfaat bagi perekonomian Indonesia. 

Hal itu misal menghemat biaya material dan mengurangi eksposur terhadap volatilitas harga sumber daya input, peluang keuntungan untuk bisnis melalui layanan baru (fesyen sebagai layanan), dan pertumbuhan ekonomi tambahan melalui rantai nilai yang lebih regeneratif dan restoratif. 

Grosir dan Eceran

Indonesia menghasilkan 6,8 juta ton limbah plastik setiap tahun, Angka ini diperkirakan akan menjadi 13,6 juta ton pada tahun 2040. Pada tahun 2017, hanya 30% limbah plastik Indonesia yang dikelola. Sisa limbah plastik yang tak terkelola dibakar secara terbuka, dibuang di daratan, dikirim ke tempat pembuangan resmi, atau bocor ke laut atau saluran air. 

Pemerintah berkomitmen mengurangi sampah plastik laut hingga 70% pada tahun 2025 dan memulai inisiatif untuk mengurangi limbah plastik dan beralih dari pendekatan daur ulang limbah yang terbentuk (end-of-pipe) ke model ekonomi sirkular. 

Menurut Forum Ekonomi Dunia, pengurangan polusi plastik hingga mendekati nol pada tahun 2030 di Indonesia dapat menciptakan 150.000 pekerjaan secara langsung serta peluang investasi senilai US$13,3 miliar antara tahun 2025 dan 2040.

Konstruksi

Sektor konstruksi di Indonesia menyumbang 10% dari total PDB dan ditargetkan untuk terus tumbuh di masa depan. Konstruksi dan infrastruktur membutuhkan sumber daya yang cukup besar untuk energi dan air bersih. Secara global, pembangunan dan pengoperasian infrastruktur menghabiskan sekitar 40% anggaran energi suatu negara. Sektor ini juga dapat menjadi penyumbang besar limbah padat dan memiliki potensi daur ulang yang signifikan.

Elektronik

Produksi logam, komputer, produk optik, dan elektronik menyumbang 1,9% terhadap PDB Indonesia pada tahun 2019. Penduduk Indonesia adalah pengguna ponsel pintar terbesar keempat di dunia (78 juta pengguna) dan jumlah pengguna internet seluler terbesar ketiga di dunia (65,2 juta pengguna). Secara global, penerapan ekonomi sirkular hanya dari ponsel dan materialnya saja berpotensi bernilai lebih dari US$11 miliar per tahun .