Nasional & Dunia

Terburuk Sejak Krisis 1998, Ekonomi Thailand Kuartal II-2020 Anjlok 12,2 Persen

  • Hingga kini, baru ada lima dari 10 negara anggota ASEAN yang telah mengumumkan pertumbuhan ekonominya di kuartal kedua 2020. Keempat negara tersebut yaitu Singapura (-41,2%), Filipina (-16,5%), Indonesia (-5,32%), Malaysia (-17,1%), dan Thailand (-12,2%).

<p>Wisata Thailand. / Pixabay</p>

Wisata Thailand. / Pixabay

(Istimewa)

JAKARTA – Thailand mengalami kontraksi tahunan sedalam 12,2% pada kuartal II-2020. Koreksi ekonomi itu tercatat sebagai yang terburuk dalam 22 tahun sejak krisis ekonomi 1998.

Penurunan pertumbuhan ekonomi Thailand bermula dari pandemi COVID-19 yang melumpuhkan sektor pariwisata, ekspor, dan aktivitas domestik.

Meski terkontraksi dalam, negara dengan ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara ini masih lebih baik daripada prediksi Reuters yakni turun 13,3%. Dalam skala kuartalan, ekonomi menyusut 9,7%, lagi-lagi lebih rendah dari prediksi ekonom yaitu 11,4%.

Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional (NESDC) kembali memangkas perkiraan produk domestik bruto (PDB) 2020. Kini, penyusutan ekonomi Thailand diperkirakan minus 7,3% -7,8%, lebih rendah dari sebelumnya di level 5%-6%.

“Pemulihan akan berlangsung lama karena guncangan pada sisi permintaan dan penawaran telah menjadi yang paling parah dalam ingatan yang masih hidup,” Kobsidthi Silpachai, kepala riset pasar modal Kasikornbank, melansir dari Reuters, Rabu, 19 Agustus 2020.

Upaya Pemerintah

Meskipun, pemerintah Thailand telah melonggarakan penguncian aktivitas, namun perekonomian setempat masih loyo akibat jebloknya kinerja transportasi udara yang mengangkut penumpang domestik dan luar negeri.

Jumlah turis asing turun menjadi nol pada April-Juni dan Thailand, badan perencanaan setempat bahkan memperkirakan hanya 6,7 ​​juta turis asing yang datang ke Thailand tahun ini, turun 83% dari rekor tahun lalu 39,8 juta.

Penurunan juga tetap terjadi meskipun pemerintah berupaya mendukung ekonomi dengan merilis paket stimulus fiskal senilai 1,9 triliun baht (US$61,03 miliar). Sementara itu, bank sentral juga telah memangkas suku bunga sebesar 75 basis poin sepanjang tahun ini ke rekor terendah 0,50%.

Di sisi lain, The ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) memprediksi hanya ada empat negara ASEAN yang mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi positif tahun ini.

Keempat negara yang lolos dari jurang resesi tersebut adalah Brunei Darrusalam, Laos, Myanmar, dan Vietnam.

Laos dengan pertumbuhan ekonomi 0,5%, Myanmar 1,1%, Brunei Darrusalam 1,6%, dan Vietnam 3,1%. Sedangkan, ekonomi Indonesia diperkirakan terkontraksi 0,8%, Kamboja turun 1,8%. Kemudian, Malaysia minus 3,2%, Singapura merosot 6%, Filipina melorot 6,6%, dan Thailand anjlok 7,8%.

Hingga kini, baru ada lima dari 10 negara anggota ASEAN yang telah mengumumkan pertumbuhan ekonominya di kuartal kedua 2020. Keempat negara tersebut yaitu Singapura (-41,2%), Filipina (-16,5%), Indonesia (-5,32%), Malaysia (-17,1%), dan Thailand (-12,2%). (SKO)