Tren Pasar

Tarif Trump Picu Emas Anjlok: Investor Gen Z Harus Apa?

  • Harga emas anjlok ke US$5.168, namun bank sentral justru memborong 863 ton. Simak analisis makroekonomi, proyeksi JP Morgan, dan literasi investasi Gen Z.
Perdaganagn Emas Logam Mulia - Panji 5.jpg
Nampak karyawan menunjukkan logam mulia di sebuah gerai emas di kawasan BSD Tangerang. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Harga emas dunia kini sedang mencari titik keseimbangan baru pada perdagangan Selasa, 24 Februari 2026. Tepat pada pukul 08.41 WIB, logam mulia ini berbalik memerah menuju level US$5.168,23 per troy ounce, mencatatkan tingkat penurunan sebesar pelemahan 1,13%.

Mengutip data dari pihak Bloomberg, pergerakan harga emas pada awal pembukaan sesi Asia sempat naik tipis 0,1% menuju level US$5.230,19 tepat pukul 07.50 WIB. Dinamika pasar tersebut terjadi setelah instrumen emas membukukan tren kenaikan secara beruntun selama 4 hari sebelumnya.

Dalam 4 sesi terakhir tersebut, harga emas dunia secara akumulatif telah berhasil menguat lebih dari batas angka 7%. Posisi harga aset lindung nilai ini terbukti masih mampu bertahan sangat kokoh di atas batas level psikologis US$5.000 per ons saat ini.

1. Aksi Beli Bank Sentral

Institusi keuangan global JP Morgan pada awal Februari lalu telah menaikkan target harga emas menjadi US$6.300 per ons. Kenaikan drastis proyeksi tersebut utamanya didorong oleh masifnya aksi pembelian emas oleh berbagai bank sentral yang dinilai lebih kuat dari perkiraan pasar.

Bank sentral dunia tercatat memborong 230 ton emas pada kuartal 4 tahun 2025. Total pembelian agresif sepanjang tahun 2025 tersebut sukses mencapai 863 ton, meskipun harga dasar aset lindung nilai ini telah berada jauh di atas batas psikologis US$4.000 per ons.

Analis JP Morgan, Gregory Shearer, menegaskan ekspektasi kuatnya dalam laporan riset terbaru. "Kami memperkirakan permintaan yang cukup kuat dari bank sentral dan investor akan mendorong harga emas hingga US$6.300 per ons pada akhir 2026," ujar Gregory Shearer dalam risetnnya dikutip pada Selasa, 24 Februari 2026.

2. Proyeksi Berbeda untuk Perak

Memasuki tahun 2026, JP Morgan memperkirakan tingkat permintaan bank sentral global masih akan tertahan pada kisaran 800 ton. Angka tersebut secara langsung mencerminkan tren berlanjutnya diversifikasi cadangan devisa dunia, sehingga emas tetap menjadi instrumen lindung nilai portofolio yang sangat multifaset.

Kondisi emas tersebut berbanding terbalik dengan prospek pergerakan komoditas logam mulia lainnya. Tim analis JP Morgan mengambil sikap jauh lebih berhati-hati terhadap perak karena dinilai rentan terhadap guncangan harga tanpa adanya peran bank sentral sebagai pihak pembeli struktural pasar utamanya.

Berdasarkan data proyeksi JP Morgan, harga dasar perak hanya diperkirakan mampu bertahan pada level US$75 hingga rentang US$80 per ons. Oleh karena itu, instrumen emas tetap menjadi sebuah aset lindung nilai portofolio yang dinamis dan multifaset di tengah ketidakpastian tinggi kondisi global.

3. Dampak Tarif dan Geopolitik

Laju pergerakan harga komoditas logam ini turut dipengaruhi oleh kebingungan pasar global menyusul rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pengumuman menaikkan tarif impor menjadi 15% dilakukan usai Mahkamah Agung secara resmi membatalkan mekanisme tarif timbal balik yang sebelumnya terus berlaku.

Sejumlah mitra dagang utama melaporkan kesulitan besar untuk menyelaraskan kebijakan baru tersebut dengan kesepakatan internasional. Pihak Uni Eropa bahkan menilai regulasi sepihak itu berpotensi mendorong bea masuk atas ekspor mereka jauh melampaui batas wajar yang diizinkan dalam perjanjian dagang global.

Selain masalah perdagangan dunia, sentimen geopolitik Timur Tengah turut memicu peningkatan permintaan emas. Amerika Serikat secara resmi telah mengerahkan kekuatan militer terbesarnya sejak tahun 2003 akibat berlanjutnya pembicaraan alot mengenai program nuklir Iran dengan ancaman serius Presiden AS Donald Trump.

4. Data Makroekonomi dan Inflasi

Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menjelaskan bahwa kenaikan harga dipicu oleh rilis Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti yang menembus 3%. "Kebijakan tarif memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik perdagangan internasional yang lebih luas," ungkapnya dalam keterangannya pada Selasa, 24 Februari 2026.

Dari sisi fundamental makroekonomi, laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto Amerika Serikat terbukti mengalami kemerosotan. Realisasi kuartal 4 tahun 2025 tercatat anjlok tajam menjadi 1,4% secara tahunan, jauh lebih rendah dari pencapaian 4,4% pada kuartal sebelumnya serta berada di bawah ekspektasi.

Perlambatan laju pertumbuhan ekonomi di tengah tingginya angka inflasi ini dinilai telah menciptakan sebuah dilema kebijakan moneter bagi Federal Reserve. Secara catatan historis, kondisi ekonomi menantang seperti ini selalu memberikan dukungan tambahan yang solid bagi siklus tren penguatan harga emas.

5. Proyeksi Teknikal dan Peluang Investasi

Secara teknikal, analis Dupoin Futures memproyeksikan harga emas dunia masih berpeluang besar menguji level resistansi pada angka US$5.220 per troy ounce. Momentum pergerakan logam mulia ini semestinya dapat menjadi sebuah edukasi literasi finansial penting bagi para pemodal muda saat ini.

Meski tren jangka pendek menjanjikan, pelaku pasar tetap diminta mewaspadai risiko koreksi wajar dengan level dukungan terdekat di kisaran US$5.004 per troy ounce. Dinamika harga emas ini mengajarkan generasi Z bahwa volatilitas komoditas merupakan keniscayaan dalam dunia investasi pasar riil.

Ketidakpastian ekonomi global menjadi peringatan bagi pemuda untuk tidak sekadar mengejar aset spekulatif berisiko tinggi. Solusi rasional bagi generasi Z di Indonesia adalah mulai menyicil tabungan emas digital secara disiplin guna membangun sebuah benteng pertahanan finansial yang sangat solid kelak.