Tren Inspirasi

Tak Harus Sukses di Usia 20-an, Ini Pesan Tokoh Buat Gen Z

  • “Titik terendah dalam hidup justru menjadi fondasi kuat untuk membangun kembali hidup saya.” (JK Rowling)
trader-sukses.jpg
Ilustrasi pekerja muda bermain saham. (Ajaib)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Tekanan untuk “cepat sukses” di usia 20-an semakin kuat dirasakan generasi muda, khususnya Gen Z. Media sosial dipenuhi narasi pencapaian dini, karier mapan, bisnis melejit, hingga kekayaan di usia muda. 

Namun sejumlah tokoh dunia justru menegaskan bahwa usia 20-an bukanlah garis akhir kesuksesan, melainkan fase pencarian dan pembentukan diri.

Pendiri Tesla dan SpaceX, Elon Musk, misalnya, pernah menekankan proses panjang jauh lebih penting daripada pencapaian instan.

“Failure is an option here. If things are not failing, you are not innovating.”
“Kegagalan adalah sebuah pilihan. Jika tidak ada yang gagal, berarti tidak ada inovasi.” ujar Elon dalam salah satu kesempatan, dikutip Rabu, 7 Januari 2025.

Musk sendiri baru benar-benar mencapai lonjakan besar kariernya setelah melewati berbagai kegagalan bisnis di usia 20-an dan awal 30-an.

Pandangan serupa disampaikan Jack Ma, pendiri Alibaba Group. Di usia 20-an, Jack Ma berkali-kali ditolak kerja dan gagal dalam berbagai seleksi.

“If you don’t give up, you still have a chance.”
“Jika kamu tidak menyerah, kamu masih punya kesempatan.” ujar Jack Ma

Alibaba baru berdiri ketika Jack Ma berusia 35 tahun, jauh dari gambaran sukses instan yang kini sering dilekatkan pada anak muda. Bagi Ma, usia muda adalah waktu untuk belajar menghadapi penolakan, bukan untuk terobsesi pada hasil cepat.

Baca juga : 6 Produk Baru Apple yang Siap Diluncurkan 2026

Sukses Tak Kenal Usia, Medsos Beri Tekanan

Aktor Hollywood Morgan Freeman menjadi bukti nyata bahwa kesuksesan tidak memiliki jadwal baku. Ia baru mendapatkan peran besar yang benar-benar mengubah hidupnya ketika usianya telah melewati 50 tahun. 

Dalam sebuah wawancara, Freeman menegaskan bahwa perjalanan hidup tidak bisa diukur dengan kecepatan orang lain, melainkan dengan keteguhan menjalani proses.

“I didn’t get my big break until I was over 50.”
“Saya baru mendapatkan kesempatan besar ketika usia saya sudah lebih dari 50 tahun.” ujar Freeman.

Bagi Freeman, hidup bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat mencapai puncak, melainkan ujian tentang ketahanan, konsistensi, dan kesediaan untuk terus berjalan meski hasil belum terlihat.

Tekanan terbesar generasi muda hari ini datang dari media sosial. Bagi Gen Z, fenomena fear of missing out (FOMO) kerap memunculkan perasaan tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain di usia yang sangat muda. 

Padahal, apa yang terlihat di linimasa sering kali hanyalah potongan terbaik, bukan keseluruhan perjalanan. Oprah Winfrey mengingatkan bahwa setiap orang memiliki ritme hidup yang berbeda dan tidak bisa diseragamkan.

“You don’t become what you want, you become what you believe.”
“Kamu tidak akan menjadi apa yang kamu inginkan, tetapi menjadi apa yang kamu yakini.” ungkap Oprah Winfrey

Baca juga : IHSG Rekor, Saham Fundamental Bersiap Jadi Bintang 2026

Oprah menekankan usia muda seharusnya menjadi fase untuk membangun keyakinan diri, nilai hidup, dan keberanian mengambil keputusan, bukan sekadar mengejar validasi atau pengakuan dari luar.

Kisah serupa datang dari J.K. Rowling, penulis seri Harry Potter, yang justru mengalami masa paling gelap di akhir usia 20-an. Ia hidup dalam kondisi miskin sebagai orang tua tunggal, menghadapi penolakan penerbit, dan merasa berada di titik terendah hidupnya.

“Rock bottom became the solid foundation on which I rebuilt my life.”
“Titik terendah dalam hidup justru menjadi fondasi kuat untuk membangun kembali hidup saya.” Jelas Rowling

Kesuksesan besar Rowling baru datang ketika ia memasuki usia 30-an, membuktikan bahwa keterpurukan di usia muda bukanlah akhir cerita, melainkan sering kali awal dari perubahan besar.

Berbagai kisah tokoh dunia tersebut memperlihatkan satu benang merah yang sama, usia 20-an bukan kewajiban untuk sukses, melainkan kesempatan untuk membangun fondasi, mental, karakter, keahlian, dan ketahanan hidup. 

Bagi Gen Z, kegagalan di usia muda bukan aib, melainkan bagian tak terpisahkan dari proses bertumbuh. Dunia nyata tidak bergerak secepat linimasa media sosial. 

Seperti pesan yang tercermin dari para tokoh tersebut, kesuksesan bukan soal siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling mampu bertahan dan terus melangkah.