IHSG Rekor, Saham Fundamental Bersiap Jadi Bintang 2026
- Di balik reli indeks, saham-saham fundamental justru tertinggal dan membuka peluang re-rating di 2026.

Ananda Astri Dianka
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Sepanjang 2025, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang terlihat impresif. Sepanjang tahun lalu, indeks acuan pasar saham Indonesia itu melonjak sekitar 22%. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, gambarnya tidak sesederhana itu.
Kenaikan IHSG ternyata tidak dinikmati secara merata. Indeks LQ45, yang berisi saham-saham paling likuid dan berfundamental kuat, hanya menguat sekitar 2,4%. Ini memberi sinyal bahwa reli pasar lebih banyak ditopang oleh segelintir saham tertentu, bukan oleh pergerakan luas saham-saham unggulan.
Berdasarkan analisis Tim Analis Bareksa, Rabu 7 Januari 2026, sekitar 80% kenaikan IHSG sepanjang 2025 disumbang oleh saham-saham konglomerasi. Tanpa dorongan kelompok saham ini, pergerakan IHSG sebenarnya cenderung datar.
Di sisi lain, banyak saham berfundamental kuat, terutama perbankan besar mencatatkan pertumbuhan laba yang solid. Sayangnya, kinerja bisnis tersebut belum sepenuhnya tercermin pada harga saham. Tekanan daya beli masyarakat dan sentimen jangka pendek membuat valuasi saham-saham ini tertahan, meski kinerja keuangannya tetap kuat.
Kondisi inilah yang membuka peluang re-rating, yakni kenaikan valuasi saham seiring membaiknya sentimen pasar dan arah kebijakan ekonomi ke depan.
Apa Maknanya bagi Investor di 2026?
Memasuki 2026, prospek pasar saham dinilai masih menjanjikan. Konsumsi domestik dan belanja pemerintah diperkirakan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. IHSG pun ditargetkan bergerak menuju area 8.960.
Dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia masih tergolong murah dibandingkan bursa Asia lainnya, dengan potensi imbal hasil dividen di kisaran 4,4%. Di saat yang sama, laba emiten diproyeksikan tumbuh sekitar 11,6%, dengan sektor perbankan, telekomunikasi, consumer, dan komoditas menjadi motor utama.
Situasi ini menjadikan 2026 sebagai momentum bagi saham-saham fundamental dan sektor siklikal untuk kembali mengambil alih peran sebagai penggerak pasar.
Tabel: Proyeksi Kinerja Emiten per Sektor
Strategi Saat Suku Bunga Turun
Di tengah tren penurunan suku bunga, Analis Bareksa menyarankan investor untuk lebih selektif dan disiplin dalam menyusun portofolio. Fokus utama sebaiknya diarahkan pada saham-saham dengan fundamental kuat, valuasi menarik, dan sensitivitas tinggi terhadap pemulihan ekonomi, seperti perbankan besar dan sektor konsumsi.
Saham konglomerasi masih bisa dimanfaatkan untuk peluang jangka pendek, tetapi tidak ideal dijadikan tumpuan utama portofolio. Menjaga porsi kas tetap ada juga penting, agar investor memiliki ruang manuver saat volatilitas pasar meningkat.
Lonjakan IHSG sepanjang 2025 belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental pasar saham Indonesia. Justru pada 2026, ketika suku bunga cenderung turun dan laba emiten diperkirakan tumbuh, peluang kebangkitan saham-saham berfundamental kuat semakin terbuka.
Bagi investor, kunci utamanya bukan mengejar reli sesaat, melainkan konsisten memilih bisnis berkualitas, memperhatikan valuasi, dan tetap disiplin pada tujuan investasi jangka panjang.
Tabel: Saham Pilihan 2026
| Saham | Kode Saham | Target Price Konsensus (Rp) | Upside | Max Buy Price (Rp) |
|---|---|---|---|---|
| Bank Central Asia Tbk | BBCA | 11.000 | 32,53% | 8.750 |
| Bank Negara Indonesia Tbk | BBNI | 5.000 | 16,01% | 4.600 |
| Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk | BBRI | 4.750 | 29,43% | 4.200 |
| Bank Mandiri (Persero) Tbk | BMRI | 5.500 | 11,11% | 5.000 |
| Kalbe Farma Tbk | KLBF | 1.650 | 38,66% | 1.400 |
Sumber: Tim Analis Bareksa, upside berdasar harga 8/12/2025

Ananda Astri Dianka
Editor
