Tren Pasar

Siapa Pemimpin Kredit Hijau di Kelompok Bank KBMI IV?

  • Kontestasi ESG bank KBMI IV tahun 2025 tunjukkan Mandiri pimpin kredit hijau dan BRI di pembiayaan sosial. BCA agresif pada EV sementara BNI tetap konsisten.
Peluncuran Kredit Multiguna Usaha - Panji 5.jpg
Peluncuran Kredit Multiguna Usaha MerDeKa (Material, Developer, dan Kontraktor) disela acara BCA UMKM Fest 2025..Produk ini hadir untuk mendukung kebutuhan finansial, transaksi, dan pertumbuhan pelaku usaha bidang perumahan, serta di sektor-sektor terkait. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Kontestasi kinerja empat bank raksasa nasional; PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) kian memanas sepanjang tahun buku 2025. Persaingan yang mengemuka tidak hanya terbatas pada ekspansi kredit konvensional, tetapi juga perebutan posisi strategis dalam portofolio pembiayaan keberlanjutan atau ESG.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh TrenAsia.id dari laporan keuangan tahun buku 2025. Dari data tersebut Bank BRI mendominasi pembiayaan sosial, Bank Mandiri memimpin pendanaan hijau murni, Bank BCA agresif di pembiayaan kendaraan listrik, sementara Bank BNI menjaga komposisi berimbang dengan strategi yang lebih terukur.

Sementara itu, dalam arena penyaluran kredit bruto, Bank Mandiri dan Bank BRI tampil sebagai penguasa volume aset, sementara Bank BNI justru mencatat laju ekspansi tercepat. Di sisi lain, Bank BCA memilih jalur pertumbuhan moderat dengan fokus menjaga kualitas debitur premium dan stabilitas risiko.

Adu Volume Aset dan Ekspansi Konvensional

Memasuki arena penyaluran dana kredit konvensional, takhta tertinggi volume aset resmi digenggam erat oleh emiten Bank Mandiri. Perseroan sukses mencatatkan rekor penyaluran total kredit bruto sebesar Rp1.849,96 triliun, merefleksikan persentase pertumbuhan impresif mencapai 13,97% secara laju Year on Year/YoY sepanjang 2025.

Posisi juara kedua dalam adu volume finansial tersebut ditempati secara mantap oleh Bank BRI. Total portofolio penyaluran kredit bruto perseroan sukses menembus angka Rp1.517,08 triliun. Pencapaian pertumbuhan sebesar 12,50% ini sangat kuat ditopang oleh dominasi kucuran dana segmen usaha mikro nasional.

Kombinasi penyaluran dana mikro senilai Rp585,96 triliun serta kucuran ritel Rp526,17 triliun memberikan rasio imbal hasil yang sangat tinggi. Gabungan kedua segmen strategis tersebut berhasil mendominasi porsi lebih dari 73% terhadap keseluruhan nilai portofolio kredit milik entitas raksasa pelat merah ini.

Laju Kredit Tercepat Melawan Jalur Moderat

Meski takhta volume dikuasai oleh Bank Mandiri dan Bank BRI, gelar laju pertumbuhan paling agresif mutlak diraih Bank BNI. Tingkat ekspansi kredit perseroan melesat tajam menembus 15,93%. Total nilai penyaluran dana perseroan berhasil melonjak drastis hingga menyentuh angka nominal Rp899,53 triliun.

Laju kencang Bank BNI sukses merebut perluasan pangsa pasar korporasi menengah dan atas. Sebaliknya, Bank BCA justru teguh memilih rute eksekusi moderat. Ekspansi kredit perseroan hanya tumbuh 7,65% dengan nilai penyaluran total kredit bruto yang terlihat sangat stabil senilai Rp970,23 triliun.

Manajemen Bank BCA sangat sadar untuk menolak ikut campur dalam kompetisi perang tarif pendanaan murah. Mereka lebih fokus menjaga kualitas kumpulan debitur super premium demi memastikan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan/NPL perusahaan selalu terkendali pada titik angka terendah.

Tuntutan Global dan Dominasi Portofolio Keberlanjutan

Tuntutan tata kelola lingkungan global kini memicu ketatnya persaingan portofolio keberlanjutan antar perbankan nasional. Setiap entitas perbankan wajib menyalurkan dana yang memenuhi standar ketat prinsip pelestarian lingkungan hidup dan sosial sesuai dengan kerangka regulasi keuangan tingkat internasional yang berlaku saat ini.

Dalam kompetisi penyediaan fasilitas pendanaan hijau dan sosial ini, Bank BRI resmi memimpin jauh dengan mencetak nilai total portofolio keberlanjutan fantastis mencapai angka Rp807,8 triliun. Angka raksasa tersebut merepresentasikan porsi mayoritas sebesar 53,24% dari total seluruh penyaluran kredit milik perusahaan.

Pencapaian rasio pembiayaan solid ini terbukti sangat sulit ditandingi oleh berbagai institusi kompetitor lain. Dominasi mutlak Bank BRI tersebut sangat kuat didorong oleh besarnya fasilitas kredit pembiayaan sosial senilai Rp715,5 triliun yang mengakar dalam pada ekosistem usaha tingkat mikro masyarakat.

Manuver Hijau Korporasi dan Transisi Kendaraan Listrik

Berbeda dengan fokus pembiayaan sosial tersebut, Bank Mandiri sukses mendominasi lini pendanaan hijau murni. Mereka membukukan portofolio keberlanjutan senilai Rp316 triliun yang menyumbang porsi 17,08% terhadap kredit, dengan fokus utama pembiayaan proyek infrastruktur ramah lingkungan bernilai fantastis hingga menyentuh Rp166 triliun.

Di sisi lain persaingan bisnis, Bank BCA mencatat akselerasi portofolio hijau progresif senilai Rp240 triliun. Angka luar biasa ini setara porsi tebal 24,8% dari total penyaluran kredit, sangat diuntungkan oleh lonjakan tingginya permintaan pembiayaan kendaraan listrik khusus pada segmen konsumer ritel.

Melengkapi ketatnya persaingan tersebut, Bank BNI tampil dengan wujud strategi operasional yang sangat terukur. Perseroan berhasil mengamankan aset pembiayaan keberlanjutan senilai Rp197 triliun, memastikan 21,90% penyaluran kredit perusahaan telah memenuhi standar ketat prinsip pelestarian lingkungan hidup dan aspek sosial global.

Strategi Pencadangan Risiko Neraca Keuangan

Tren ekspansi masif perbankan ini ternyata diiringi penyusutan tajam nominal Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atau CKPN. Bank BCA membanggakan penurunan beban provisi hingga menyentuh Rp29,75 triliun. Bank Mandiri turut mengekor langkah efisiensi finansial tersebut dengan memangkas saldo pencadangan menjadi senilai Rp48,03 triliun.

Langkah pemangkasan tersebut mencerminkan tingginya rasa percaya diri perseroan atas rasio kredit bermasalah. Berbeda arah, meski nominal provisi menyusut menjadi Rp35,86 triliun, Bank BNI justru berani mencatatkan rasio bantalan ketahanan finansial paling tebal di kelasnya pada kisaran angka statistik sebesar 3,98%.

Secara nominal absolut perbankan, Bank BRI tercatat memarkir sabuk pengaman terbesar bernilai fantastis mencapai Rp82,89 triliun. Bantalan perlindungan super tebal ini merupakan konsekuensi logis mutlak guna memitigasi potensi fluktuasi profil risiko jutaan debitur pada ekosistem usaha kelas mikro secara berkelanjutan.