Dunia

Semakin Terancam Dengan Yuan China, Dominasi Dolar AS Bakal Terguncang?

  • Dolar Amerika Serikat (AS) tengah menghadapi ancaman dari yuan Tiongkok
Semakin Terancam Dengan Yuan China, Dominasi Dolar AS Bakal Terguncang?

WASHINGTON- Dolar Amerika Serikat (AS) tengah menghadapi ancaman dari yuan Tiongkok. Sebagaimana diungkapkan kepala ekonom di Atlas Capital Team, Nouriel Roubini, ancaman tersebut termasuk berakhirnya dominasi dolar dalam sistem keuangan global.  

Mengutip Financial Times Selasa, 7 Februari 2023, Roubini mengatakan bahwa dunia semakin terpecah antara pengaruh AS dan China. Ekonom yang dijuluki Dr. Doom itu juga mengatakan adanya kemungkinan terjadi rezim mata uang bipolar yang bisa menghentikan rezim unipolar.

Roubini mengatakan bahwa para skeptis biasanya memperingatkan bahwa kontrol mata uang China yang kaku harus mencegah yuan menyalip dolar AS yang memiliki versinya sendiri sebagai penurun daya tarik dolar.

“Ini termasuk sanksi keuangan terhadap saingannya, pembatasan investasi masuk di banyak sektor dan perusahaan yang peka terhadap keamanan nasional, dan bahkan sanksi sekunder terhadap teman yang melanggar yang utama,” tulis Roubini sebagaimana dikutip TrenAsisa.com Selasa 7 Februari 2024.

Sebagai informasi, tahun lalu, AS dan sekutu Baratnya membekukan cadangan devisa Rusia dan mengeluarkannya dari sistem keuangan SWIFT. Selain itu, pemerintahan Biden telah berupaya memutus akses China ke teknologi dan investasi utama yang dapat membantu militernya.

Upaya lain untuk mengikis dominasi dolar juga muncul baru-baru ini. Di antaranya adalah pembicaraan pembukaan Rusia dan China tahun lalu untuk mengembangkan mata uang cadangan baru dengan negara-negara BRICS lainnya. Lainnya, adalah ada upaya Rusia dan Iran untuk menciptakan mata uang kripto yang didukung oleh emas . 

Di samping  itu, China dan Arab Saudi telah bertransaksi untuk minyak dalam yuan pada Desember lalu.

"Tidak masuk akal untuk berpikir bahwa Beijing dapat menawarkan Saudi dan Dewan Kerjasama Teluk lainnya untuk memperdagangkan minyak dalam RMB dan untuk memegang bagian yang lebih besar dari cadangan mereka dalam mata uang Cina," tulis Dr. Doom.

Para analis memprediksi, munculnya apa yang disebut petroyuan diprediksi akan mendapatkan momentum karena China meningkatkan statusnya sebagai importir minyak terbesar dunia.

Selain itu, Roubini memperkirakan bahwa meningkatnya minat terhadap mata uang digital bank sentral, atau CBDC, akan membantu mempercepat erosi dolar sebagai mata uang cadangan global selama dekade berikutnya. 

"Kontes geopolitik yang semakin intensif antara Washington dan Beijing pasti akan dirasakan dalam rezim mata uang cadangan global bipolar juga," kata Roubini. 

Di sisi lain argumen, ekonom top Paul Krugman mengatakan investor tidak boleh kehilangan momen karena potensi ancaman terhadap dominasi dolar. Ekonom pemenang Hadiah Nobel itu mengatakan bahwa dia tidak mengharapkan untuk melihat greenback digeser sebagai mata uang utama untuk perdagangan internasional dalam waktu dekat.