Sejarah “ARIRANG” dan Makna di Balik Album Terbaru BTS
- Mengapa BTS memberi judul album tersebut “ARIRANG”? Mari simak keputusan BTS untuk menamai album kelima mereka.

Distika Safara Setianda
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Momen yang ditunggu-tunggu para penggemar BTS akhirnya tiba. Daftar lagu untuk album terbaru mereka yang bertajuk “ARIRANG” resmi dirilis pada Rabu, 4 Maret 2026. Banyak dari 14 lagu tersebut mencerminkan bagaimana ketujuh anggota telah mengalami pasang surut kehidupan.
Hal ini tentu memunculkan pertanyaan, “Mengapa BTS memberi judul album tersebut “ARIRANG.” Bagaimana nama itu mencerminkan perjalanan band tersebut?”
Sebagai lagu rakyat Korea yang telah berusia berabad-abad, “ARIRANG” dikenal oleh hampir seluruh orang Korea, terlepas dari faktor-faktor seperti usia atau tempat tinggal. Jika lagu ini diputar secara spontan di tengah keramaian, orang-orang hampir pasti akan ikut bersenandung atau menyanyikannya bersama.
Namun, keputusan BTS untuk menamai album kelima mereka “ARIRANG” kemungkinan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar popularitas lagu tersebut.
The Korea JoongAng Daily menyoroti bagaimana lagu rakyat ini mungkin mencerminkan upaya grup tersebut untuk kembali terhubung dengan akar budaya mereka sekaligus meninjau kembali identitas mereka.
Apa itu “ARIRANG”?
Dilansir dari Korea JoongAng Daily,sering disebut sebagai lagu kebangsaan tidak resmi Korea, “ARIRANG” merupakan kumpulan lagu rakyat yang telah lama dikenal dan memiliki refrain yang sama, yaitu “Ari” atau “Arirang.”
Lagu ini diwariskan secara lisan di seluruh Semenanjung Korea saat orang-orang bekerja di ladang, menempuh perjalanan panjang, atau berkumpul selama aksi protes politik selama berabad-abad.
Diperkirakan sudah ada setidaknya sejak era Dinasti Joseon (1392-1910), pencipta asli lagu ini tidak pernah diketahui, begitu pula asal-usul pasti kata “arirang.” Namun, istilah tersebut kerap dimaknai sebagai “kekasih,” karena secara historis “ari” berarti “cantik,” dan “rang” sering diartikan sebagai “sayang.”
Seiring waktu, berbagai teori bermunculan untuk menjelaskan asal-usul judul lagu ini. Dari sekitar 30 tafsir yang diajukan, para sejarawan paling sering merujuk pada tiga teori utama.
Teori pertama, yang dikenal sebagai teori Arang, mengaitkan lagu ini dengan legenda Arang, putri seorang pejabat di Miryang, Gyeongsang Selatan, yang dibunuh setelah menolak rayuan seorang pegawai pada masa pemerintahan Raja Myeongjong (1545-1567). Masyarakat memanggil namanya dengan penuh duka, dan sebutan “Arang” diyakini lambat laun berubah menjadi “ARIRANG.”
Teori Alyeong menelusuri asal katanya pada Lady Alyeong, istri pendiri kerajaan Silla, Park Hyeokgeose (69 SM-4 M). Dalam versi ini, sang raja kerap memuji permaisurinya dengan menyanyikan namanya, yang kemudian berkembang menjadi “ARIRANG.”
Teori ketiga mengaitkan lagu tersebut dengan pembangunan Istana Gyeongbok, yang menyebutkan bahwa seruan para pekerja untuk memprotes pajak lambat laun berubah secara fonetis menjadi “ARIRANG.”
Apa pun asal-usul sebenarnya, “ARIRANG” semakin dikenal luas pada 1896 ketika misionaris Amerika, Homer Hulbert, mentranskripsikan melodinya dalam jurnal The Korean Repository, di mana ia membandingkan pentingnya lagu tersebut bagi orang Korea dengan pentingnya beras.
“ARIRANG” yang paling akrab bagi masyarakat saat ini berasal dari film ARIRANG (1926) karya Na Woon-gyu. Berlatar masa setelah Gerakan Kemerdekaan 1 Maret, film tersebut menampilkan adegan ketika melodi “ARIRANG” terdengar saat seorang pekerja diseret polisi Jepang, memperkuat makna lagu ini sebagai simbol kesedihan sekaligus perlawanan.
Saat ini, lagu tersebut bahkan kata itu sendiri, telah digunakan sebagai nama berbagai proyek nasional dan inisiatif budaya, termasuk satelit multiguna Korea yang diberi nama ARIRANG.
“ARIRANG” juga kerap dipentaskan dalam festival daerah maupun acara budaya yang digelar pemerintah di luar negeri. Salah satunya adalah Festival Arirang Seoul yang diselenggarakan setiap tahun sejak 2013, setelah lagu ini terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan oleh UNESCO. Festival tersebut menghadirkan lomba menyanyi “ARIRANG,” parade, dan beragam kegiatan lainnya.
Perpaduan Berbagai Emosi

Dalam siaran langsung BTS, ketika ketujuh anggota membahas album terbaru mereka, RM menyampaikan bahwa grup tersebut ingin album ini merangkul seluruh spektrum emosi yang telah mereka rasakan sepanjang perjalanan karier mereka.
Pernyataan tersebut sejalan dengan siaran pers terbaru dari BigHit Music yang memuat deskripsi singkat setiap lagu dalam album itu.
Sebagai contoh, “Merry Go Round” merefleksikan keteguhan dalam menghadapi siklus hidup yang terus berputar tanpa henti; “Normal” menggali emosi mereka, baik di atas maupun di luar panggung; “Like Animals” mengekspresikan tekad untuk menjalani hidup dengan penuh gairah; sementara “2.0” melambangkan langkah mereka memasuki babak terbaru dalam perjalanan karier.
Keragaman emosi ini bisa menjadi alasan mengapa grup tersebut memilih nama “ARIRANG” untuk album mereka.
Dengan sejarah yang berlapis dan tafsir yang terus berkembang, “ARIRANG” sejak lama menjadi wadah untuk berbagai macam emosi, mulai dari han atau kesedihan mendalam yang terpendam, hingga kerinduan, cinta, pembebasan, harapan, ketahanan, dan kebersamaan.
Pada masa kolonial Jepang 1910-1945, “ARIRANG” secara simbolis mengekspresikan han dari mereka yang hidup di bawah penindasan. Liriknya sering menyampaikan rasa sakit dan keputusasaan.
Dan dilaporkan dinyanyikan pada pertemuan dengan orang-orang terkasih atau selama istirahat dari pekerjaan pertanian sebagai cara bagi orang-orang untuk berbagi dan meringankan kesedihan kolektif mereka. Pada tahun-tahun sekitar Perang Korea 1950-1953, “ARIRANG” dinyanyikan oleh mereka yang terpisah dari keluarga mereka, membawa tema kerinduan yang kuat.
Pada tahun 1970-an dan 1980-an, “ARIRANG” juga berfungsi sebagai lagu solidaritas, ketika para pekerja menyanyikannya untuk saling menyemangati saat aksi protes. Dalam peristiwa Pemberontakan Gwangju, mahasiswa dan warga kerap menyanyikan “ARIRANG” di akhir demonstrasi. Di tengah bentrokan yang keras, lagu tersebut menjadi simbol kuat persatuan dan tekad bersama.
Sebelum menjelma menjadi superstar global, BTS melewati perjalanan yang tidak mudah. Setelah debut di bawah naungan BigHit Music yang saat itu masih merupakan label kecil pada 2013, grup ini kerap diabaikan, diremehkan, dan dikritik oleh sesama pelaku industri, kritikus, penyiar, serta pihak lain, terutama karena konsep hip-hop awal mereka dan nama grup yang dianggap tidak lazim.
Namun lewat lagu-lagu yang sarat pesan dan penampilan yang penuh energi, grup ini perlahan meraih pengakuan, baik di Korea maupun di kancah internasional. Titik baliknya hadir melalui mini album ketiga mereka, The Most Beautiful Moment in Life, Pt. 1 (2015), yang berhasil menarik banyak penggemar berkat kisah pendewasaan diri yang terasa dekat dengan kehidupan anak muda.
Energi yang meledak-ledak dan daya tarik lagu “Dope” (2015) dari album tersebut juga turut mendorong nama mereka semakin dikenal di panggung global.
Kesulitan di awal karier, ketekunan, dan kesetiaan antarsesama anggota mencerminkan lanskap emosi yang selama ini melekat pada “ARIRANG,” lagu yang secara historis memuat kesedihan, harapan, daya tahan, dan solidaritas.
Dengan konteks tersebut, judul “ARIRANG” terasa sangat tepat untuk sebuah album yang menggali beragam emosi yang telah dialami BTS sepanjang perjalanan karier mereka.
Lagu-lagu Tentang Cinta
Lagu utama dalam album ini, “Swim,” merupakan lagu pop alternatif yang menyuarakan kecintaan terhadap kehidupan dan tekad seseorang untuk terus melangkah dengan ritmenya sendiri menghadapi gelombang kehidupan, menurut BigHit Music. Sementara itu, lagu penutup “Into the Sun” membawa pesan, “Aku akan berlari kepadamu.”
Bahkan sebelum daftar lagu dirilis, sudah ada petunjuk yang mengarah bahwa cinta akan menjadi salah satu tema utama album ini.
BigHit Music menggambarkan album tersebut sebagai album yang mengangkat emosi umum seperti cinta yang mendalam. Poster promosi yang dipasang di Seoul, New York, dan London pun mengajukan pertanyaan, “Apa lagu cintamu?” dan mengajak pendengar merenungkan ikatan emosional mereka sendiri.
Tak mengherankan, meski “ARIRANG” kerap dikaitkan dengan kerinduan dan perlawanan, banyak versinya, termasuk tiga tradisi utama, yakni Miryang, Jindo, dan Jeongseon, juga berakar pada tema-tema romantis.
“Miryang Arirang” misalnya, terkenal dengan bait berulang, “Lihat aku, lihat aku, lihat aku. Lihat aku seolah-olah kau telah melihat bunga di tengah musim dingin.” Penuturnya tampak memohon perhatian seseorang secara khusus, sementara ungkapan “seolah-olah melihat bunga di musim dingin” menggambarkan kebahagiaan langka saat menemukan sesuatu yang begitu berharga.
Lirik “Jindo Arirang” pun kerap mengangkat tema cinta, kerinduan, dan perpisahan, meskipun setiap baitnya sangat fleksibel. Secara struktur, lagu ini biasanya dinyanyikan dalam baris-baris pendek berpasangan yang membentuk fragmen narasi yang saling terhubung secara longgar.
Beragam legenda rakyat dikaitkan dengan asal-usulnya, banyak di antaranya berpusat pada kisah cinta dan duka, termasuk cerita tragis Seol Ihyang dan Pangeran Soyoung.
Sementara itu, “Jeongseon Arirang,” yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Provinsi Gangwon No. 1, mengekspresikan berbagai emosi, termasuk hasrat romantis.
Dalam sebuah kajian akademik, Prof. Maeng Mun Jae dari Anyang University menganalisis 28 lirik “Jeongseon Arirang” yang dinyanyikan perempuan dan menemukan bahwa 15 di antaranya lebih dari separuh berfokus pada tema cinta romantis.
Kini, grup K-pop berskala global tersebut tampaknya siap menghadirkan versi lagu cintanya sendiri, entah itu tentang mencintai diri sendiri maupun mencintai orang lain.
“ARIRANG” di Seluruh Kota Asal para Anggota
Menariknya, sejumlah versi terkenal “ARIRANG” berasal dari daerah yang juga merupakan kampung halaman para anggota BTS.
Jin dan RM berasal dari Gyeonggi, wilayah asal variasi “Gyeonggi Arirang,” versi yang paling populer, terutama setelah kemunculannya dalam film Arirang (1926). Versi ini bernuansa relatif cerah dan diawali dengan refrein “Arirang, arirang, arariyo.” Hingga kini, “Gyeonggi Arirang” kerap dipentaskan dalam berbagai acara, baik di dalam negeri maupun internasional.
J-Hope berasal dari Gwangju, kota yang lekat dengan kawasan budaya Jeolla. Di wilayah ini, “Jindo Arirang” yang berasal dari Kabupaten Jindo di sekitarnya, menjadi varian paling representatif. Diakui sebagai salah satu dari tiga tradisi utama “Arirang” di Korea, “Jindo Arirang” memiliki pola nyanyian saling sahut (call-and-response) serta memadukan han dengan semburat energi yang dinamis.
Salah satu variasi “Arirang” yang paling kuat merepresentasikan identitas Busan, kampung halaman Jungkook dan Jimin, adalah “Dongnae Arirang,” yang direkam oleh Seo Yeong-sin untuk Okeh Records pada 1937. Lagu ini diyakini dinyanyikan pada masa penjajahan Jepang, sehingga sarat dengan nuansa kesedihan dan penderitaan pada era tersebut.
Pada 2015, liriknya berhasil dipulihkan sepenuhnya. Baris pembuka yang lama tak diketahui, “Saat kapal berlayar, kekasihku tak tak dapat ditemukan” dengan menyayat hati membangkitkan penderitaan orang Korea yang dibawa ke Jepang pada tahun 1930-an.
Suga dan V berasal dari Daegu, tempat varian regional yang dikenal sebagai “Daegu Arirang” direkam oleh Choi Gye-ran untuk Million Records pada 1936. Rekaman tersebut diiringi oleh Seonyang Orchestra, yang memadukan alat musik tradisional Korea seperti janggu (gendang) dan gayageum (kecapi petik) dengan biola Barat.
iriknya menyebutkan ciri geografis yang berkaitan dengan Daegu, seperti Sungai Nakdong dan Sungai Geumho, yang menyoroti rasa identitas regional.

Distika Safara Setianda
Editor
