Sejarah 17 Agustusan, Kapan Lomba dan Pesta Rakyat Mulai Digelar?
- Bagaimana awal mula lomba 17 Agustus dan malam tirakatan di Indonesia? Simak sejarah lengkap tradisi perayaan kemerdekaan dari 1945 hingga kini.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Bagi banyak masyarakat Indonesia, Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan identik dengan panjat pinang, balap karung, makan kerupuk, malam tirakatan, hingga karnaval kampung. Tradisi tersebut kini seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perayaan 17 Agustus.
Namun, apakah lomba-lomba dan pesta rakyat itu sudah ada sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945?
Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, jawabannya tidak, pada tahun-tahun awal kemerdekaan, suasana peringatan Hari Kemerdekaan justru berlangsung sederhana, khidmat, bahkan berada di tengah situasi perang mempertahankan kemerdekaan.
Seiring kondisi keamanan yang mulai membaik pada dekade 1950-an, peringatan 17 Agustus berkembang menjadi pesta rakyat yang dipenuhi perlombaan, pentas seni, hingga tradisi malam tirakatan yang masih bertahan hingga kini.
Baca juga : Mendorong Reorientasi BUMN, Dari Beban jadi Mesin Cuan
Tahun-tahun Awal Belum Ada Lomba 17-an
Perayaan pertama kemerdekaan Indonesia terjadi pada 17 Agustus 1945 ketika Presiden Soekarno membacakan Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. Upacara berlangsung sederhana dengan pengibaran Sang Merah Putih yang dijahit Fatmawati.
Pada masa revolusi fisik 1945–1949, fokus pemerintah dan rakyat bukan menggelar pesta, melainkan mempertahankan kemerdekaan dari upaya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.
Karena situasi keamanan yang belum stabil, peringatan Hari Kemerdekaan juga tidak selalu berlangsung di Jakarta. Pada 17 Agustus 1946, upacara peringatan pertama digelar di Yogyakarta yang saat itu menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia.
Baru pada 17 Agustus 1950, setelah Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), upacara resmi digelar di Istana Merdeka, Jakarta. Sejak saat itu, Istana Merdeka menjadi pusat penyelenggaraan upacara kenegaraan setiap Hari Kemerdekaan.
Baca juga : Warisan Michael Hartono: BCA Jadi Raja Laba Fortune Indonesia 2026
Kapan Lomba 17 Agustus Mulai Ada?
Tradisi lomba 17 Agustus mulai berkembang sekitar awal hingga pertengahan 1950-an, ketika kondisi keamanan nasional mulai pulih setelah pengakuan kedaulatan Indonesia.
Menurut sejumlah sejarawan, termasuk JJ Rizal, masyarakat mulai mencari cara baru untuk merayakan kemerdekaan secara lebih meriah. Lomba-lomba sederhana kemudian muncul sebagai bentuk ekspresi kegembiraan sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.
Berbeda dengan upacara yang bersifat formal, lomba menghadirkan ruang kebersamaan bagi masyarakat tanpa memandang usia maupun status sosial.
Presiden Soekarno bahkan diketahui mendukung penyelenggaraan pesta rakyat tersebut. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah menyediakan hadiah bagi perlombaan yang digelar masyarakat.
Sejak itulah tradisi lomba 17-an berkembang hampir di seluruh Indonesia dan terus diwariskan hingga sekarang.
Dari Pawai Hingga Karnaval Kampung
Sebelum lomba menjadi tradisi utama, pesta rakyat pada era awal kemerdekaan lebih banyak diisi pawai dan dekorasi lingkungan. Arsip-arsip surat kabar menunjukkan pada 1951 kawasan Pasar Baru Jakarta telah dihiasi gapura dan dekorasi kemerdekaan.
Setahun kemudian muncul pawai sepeda hias, disusul pawai kendaraan hias pada 1957. Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi karnaval budaya, pawai kostum, hingga pertunjukan seni yang kini rutin digelar pemerintah daerah di berbagai kota.
Salah satu lomba paling ikonik adalah panjat pinang. Menariknya, tradisi ini justru berasal dari masa kolonial Belanda.
Pada awal abad ke-20, panjat pinang menjadi hiburan yang digelar pemerintah kolonial dalam berbagai pesta untuk orang Eropa. Warga pribumi diminta memanjat batang pinang yang dilumuri minyak demi memperebutkan hadiah, sementara para tamu Belanda menyaksikannya sebagai tontonan.
Baca juga : Peta Persaingan Marketplace RI: Shopee-Tiktokshop Dominasi Pasar
Setelah Indonesia merdeka, makna panjat pinang berubah. Batang pinang yang licin dipandang sebagai simbol beratnya perjuangan bangsa Indonesia, sedangkan hadiah di puncaknya melambangkan kemerdekaan yang hanya dapat diraih melalui kerja sama dan pengorbanan.
Kini, panjat pinang menjadi salah satu perlombaan yang paling ditunggu setiap perayaan HUT RI.
Balap Karung hingga Makan Kerupuk
Balap karung juga memiliki sejarah yang erat dengan masa penjajahan. Pada masa pendudukan Jepang, banyak masyarakat menggunakan karung goni sebagai pakaian karena sulit memperoleh kain.
Kondisi tersebut kemudian diabadikan menjadi permainan yang mengingatkan generasi berikutnya pada masa-masa sulit perjuangan bangsa. Sementara itu, lomba makan kerupuk mulai populer sejak dekade 1950-an.
Kerupuk dipilih bukan tanpa alasan. Pada masa itu kerupuk merupakan makanan murah yang mudah ditemukan di hampir seluruh wilayah Indonesia, sehingga perlombaan tersebut menjadi simbol kesederhanaan masyarakat pascakemerdekaan.
Adapun lomba tarik tambang, balap bakiak, estafet air, hingga bakiak panjang lebih menonjolkan nilai gotong royong, kerja sama, dan kekompakan, nilai yang dianggap menjadi modal utama perjuangan kemerdekaan.
Dari Tirakatan hingga Doa Bersama
Selain lomba, masyarakat Indonesia juga mengenal tradisi malam tirakatan yang biasanya digelar pada malam 16 Agustus.
Kata "tirakat" berasal dari tradisi Jawa yang berarti menahan diri, berdoa, dan melakukan perenungan sebagai bentuk rasa syukur serta permohonan keselamatan.
Tradisi ini diperkirakan berkembang pada dekade 1950-an, terutama di Jawa, ketika masyarakat mulai menggabungkan budaya lokal dengan peringatan Hari Kemerdekaan.
Malam tirakatan biasanya diisi doa bersama, pembacaan sejarah perjuangan, menyanyikan lagu-lagu nasional, sambutan tokoh masyarakat, hingga makan bersama menggunakan nasi tumpeng atau hidangan sederhana.
Di banyak daerah, malam tirakatan juga menjadi momen pembagian hadiah lomba, pengumuman warga teladan, hingga pentas seni yang melibatkan seluruh warga kampung.
Baca juga : Menilik Pergeseran Ekonomi Indonesia: Dari Agraris ke Digital
Meski bentuknya berbeda di setiap daerah, esensinya tetap sama, yakni mensyukuri kemerdekaan sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat.
Delapan dekade setelah Proklamasi 1945, cara masyarakat Indonesia merayakan kemerdekaan terus berkembang. Dari upacara sederhana di tengah revolusi, pesta rakyat pada era 1950-an, hingga festival budaya dan karnaval modern saat ini, seluruh tradisi tersebut menjadi bagian dari identitas Hari Kemerdekaan Indonesia.
Lomba 17 Agustus mungkin tampak sederhana, tetapi di balik balap karung, panjat pinang, makan kerupuk, dan malam tirakatan tersimpan sejarah panjang tentang perjuangan, gotong royong, rasa syukur, dan kebersamaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Chrisna Chanis Cara
Editor
