Tren Ekbis

Seberapa Besar Potensi Kerugian Ekonomi Akibat Kebakaran Hutan Kalimantan?

  • Karhutla dan kabut asap Kalimantan berdampak pada ekonomi. Simak kerugian, serta dampaknya terhadap pendidikan, penerbangan, UMKM, pariwisata dan kesehatan.
a33cd274-gp0sttqib_.jpg
Ilustrasi kebakaran hutan. (Greenpeace)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan bukan hanya persoalan lingkungan dan kualitas udara. Kabut asap yang ditimbulkan juga membawa dampak ekonomi ke berbagai sektor, mulai dari pendidikan, penerbangan, perdagangan, pariwisata hingga produktivitas pekerja.

Tidak ada satu angka tunggal yang secara khusus menghitung total kerugian ekonomi akibat kabut asap Kalimantan pada 2026. Namun, sejumlah penelitian dan data pemerintah menunjukkan dampaknya dapat mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah jika dihitung secara nasional.

Menteri Lingkungan Hidup pada 2026 menyebut potensi kerugian negara dan biaya pemulihan lingkungan dari 30 perusahaan yang diproses hukum dalam kasus karhutla mencapai sekitar Rp15 triliun. Angka tersebut belum menggambarkan keseluruhan dampak ekonomi karena hanya berkaitan dengan perusahaan dan perkara yang diproses.

Sebagai pembanding, World Bank memperkirakan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada 2015 menimbulkan kerugian ekonomi sekitar Rp221 triliun, setara 1,9% PDB Indonesia. Angka tersebut mencakup dampak kebakaran dan kabut asap dalam berbagai aktivitas ekonomi selama sekitar lima bulan.

Baca juga : 6 Alasan Brand Kecantikan Lokal Makin Kuat Lawan Merek Global

Sementara itu, kajian Indonesia Economic Quarterly Desember 2019 memperkirakan kebakaran hutan dan lahan 2019 menimbulkan kerusakan langsung sekitar US$157 juta dan kerugian dari aktivitas ekonomi yang terdampak sekitar US$5 miliar. Perhitungan tersebut mencakup sektor pertanian, industri, perdagangan, pariwisata, transportasi dan lingkungan.

Dampaknya juga terasa kuat di tingkat daerah. World Bank memperkirakan pertumbuhan PDB regional di provinsi yang terdampak karhutla dapat turun sekitar 0,3-1,5 poin persentase pada 2019. Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan kerugian relatif terbesar, mencapai 7,9% dari PDB regional, disusul Kalimantan Barat sebesar 6,1%.

Besarnya dampak tersebut menunjukkan bahwa kerugian karhutla tidak berhenti pada lahan yang terbakar. World Bank mencatat pertanian, transportasi, perdagangan dan industri sebagai sektor dengan kerugian ekonomi terbesar. 

Dampak jangka panjang juga dapat muncul melalui gangguan kesehatan, penurunan kualitas pendidikan, berkurangnya konsumsi dan investasi, serta tekanan terhadap sektor kelapa sawit yang menyediakan pekerjaan langsung maupun tidak langsung bagi sedikitnya 16,2 juta orang Indonesia.

Baca juga : Kasus Aa Juju Jadi Ujian, Akankah Mobil Listrik Bisa Gantikan Mobil Bensin?

Sektor Terdampak

Pendidikan

Kabut asap dapat memaksa sekolah menghentikan kegiatan belajar tatap muka. Di Kalimantan Barat, sekitar 3.524 satuan pendidikan dan 571.338 murid dilaporkan terdampak karhutla.

Kerugiannya tidak hanya berupa hilangnya hari belajar. Sekolah juga dapat menghadapi biaya tambahan ketika pembelajaran dialihkan secara daring, sementara kesehatan siswa dan guru yang terganggu berpotensi menurunkan kualitas proses belajar.

Dampak tersebut bahkan dapat melewati batas Indonesia. Di Sarawak, Malaysia, kabut asap regional pernah menyebabkan ratusan sekolah ditutup dan berdampak terhadap sekitar 200.000 siswa.

Penerbangan

Sektor transportasi menjadi salah satu yang paling cepat merasakan dampak kabut asap. Penurunan jarak pandang dapat membuat pesawat tidak dapat mendarat atau lepas landas sehingga penerbangan dibatalkan, ditunda atau dialihkan.

Gangguan tersebut tidak hanya merugikan maskapai dan penumpang. Distribusi barang, perjalanan bisnis, pariwisata dan rantai pasok juga ikut terdampak.

Bagi maskapai, pembatalan penerbangan dapat menimbulkan kehilangan pendapatan sekaligus biaya tambahan berupa perubahan jadwal, refund dan layanan kepada penumpang.

UMKM Kehilangan Konsumen

Kabut asap juga mengubah perilaku masyarakat. Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas di luar rumah cenderung berkurang.

Kondisi ini dapat menekan omzet restoran, pedagang kaki lima, pasar, transportasi lokal hingga usaha jasa. UMKM menjadi kelompok yang rentan karena banyak bisnis mengandalkan transaksi harian.

Jika mobilitas masyarakat terganggu selama berhari-hari, pendapatan usaha dapat langsung turun. Distribusi barang juga berpotensi mengalami hambatan sehingga biaya logistik dan pengadaan bahan baku meningkat.

Pariwisata dan Ekonomi Lokal Terpukul

Sektor pariwisata turut terkena dampak karena kabut asap membuat aktivitas luar ruangan menjadi kurang menarik. Aktivitas wisata dan transportasi sungai di kawasan seperti Sungai Kapuas dapat menurun ketika jarak pandang memburuk. Pelaku usaha seperti operator sampan, pedagang, restoran dan penyedia jasa wisata kemudian kehilangan sebagian pendapatan.

Event olahraga dan kegiatan luar ruangan juga menghadapi risiko penundaan atau pembatalan ketika kualitas udara memburuk.

Baca juga : Ekonomi Berputar di Balik Hajatan 17-an Warga RW 10 Sawahan

Produktivitas Pekerja Menurun

Dampak lain berasal dari sisi tenaga kerja. Paparan asap dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan sehingga pekerja kehilangan jam kerja atau tidak dapat menjalankan aktivitas secara normal.

Sektor yang mengandalkan pekerja lapangan seperti konstruksi, perkebunan, pertambangan, transportasi dan perdagangan menjadi lebih rentan.

World Bank juga mengidentifikasi pertanian, transportasi, perdagangan dan industri sebagai sektor yang mengalami dampak ekonomi besar akibat kebakaran.

Pada sektor pertanian, kebakaran dapat menghancurkan lahan dan tanaman. Sementara pada industri, gangguan produksi dan distribusi dapat terjadi ketika rantai pasok terdampak.

Biaya Kesehatan Ikut Membengkak

Salah satu biaya ekonomi yang sering tidak terlihat adalah biaya kesehatan.

Paparan kabut asap dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan, terutama bagi kelompok rentan. Ketika kasus gangguan pernapasan meningkat, masyarakat dan pemerintah harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pemeriksaan, obat-obatan dan layanan kesehatan.

Jika karhutla terjadi berulang, akumulasi biaya kesehatan dan kehilangan produktivitas dapat menjadi semakin besar.