Sarjana Susah Cari Kerja, Tapi Kelas Menengah Hobi Belanja!
- Data Bank Indonesia Februari 2026 catat IKK turun ke 125,2. Lulusan sarjana makin sulit cari kerja, namun ironisnya kelas menengah justru makin hobi belanja

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Fenomena sulitnya mendapat panggilan kerja di media sosial bagi para lulusan baru kini tervalidasi secara langsung oleh otoritas moneter. Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen pada Februari 2026 merosot tajam menjadi 125,2 dibandingkan capaian positif pada bulan sebelumnya.
Survei bulanan ini menyasar 4.600 rumah tangga di 18 kota besar menggunakan sampel acak bertingkat. Penghitungan datanya memakai metode balance score di mana indeks di atas 100 menandakan optimisme publik, sedangkan angka di bawah 100 mencerminkan kondisi ekonomi pesimistis.
Penurunan keyakinan ini dipengaruhi langsung oleh memburuknya ekspektasi generasi muda terhadap masa depan karier mereka. Para lulusan perguruan tinggi semakin cemas memandang prospek ketersediaan lapangan pekerjaan di tengah badai ekonomi nasional yang terbukti kian tidak menentu saat ini.
Laporan resmi tersebut mengonfirmasi bahwa mencari sumber penghasilan layak bagi angkatan kerja baru menjadi tantangan super berat. Pencari kerja bersiap menghadapi realitas pahit karena mayoritas sektor korporasi diprediksi membatalkan proses rekrutmen pegawai baru dalam beberapa bulan yang akan datang.
Harapan Cari Kerja Pupus
Ancaman krisis lapangan kerja ini terbukti mulai menghantui banyak pelamar pemula dari hasil survei. "Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari 2026 yang berada pada level optimis sebesar 125,2, meskipun lebih rendah dari IKK bulan sebelumnya," jelas Bank Indonesia, dalam keterangannya pada Senin, 9 Maret 2026.
Rincian data membuktikan indeks ekspektasi ketersediaan lapangan kerja turun signifikan dari 135,1 menjadi 131,7. Angka mengerikan ini menunjukkan betapa sulitnya peluang bagi para lulusan baru untuk segera diserap oleh berbagai industri perusahaan yang beroperasi di wilayah luas nasional Indonesia.
Pesimisme tersebut diperparah oleh indeks ekspektasi penghasilan yang anjlok dari 146 ke 140,7. Hal ini selaras dengan indeks ekspektasi kegiatan usaha yang ikut terpuruk dari posisi 135,3 menjadi hanya 130,9 menjelang akhir kuartal pertama pada awal jalannya tahun ini.
Ironi Belanja Saat Krisis
Di tengah suramnya ekspektasi karier, Indeks Kondisi Ekonomi saat ini justru naik tipis dari 115,1 menjadi 115,9. Fenomena tersebut menunjukkan sebuah anomali di mana masyarakat tetap memaksakan diri berbelanja meskipun sadar betul bahwa jumlah lowongan lapangan kerja semakin menyusut tajam.
Indeks penghasilan saat ini tercatat naik dari 123,7 menjadi 125 secara meyakinkan bagi publik. Artinya, pekerja berstatus tetap sangat menikmati gajinya dan membelanjakan konsumsi. "Secara umum, keyakinan konsumen terhadap penghasilan saat ini tercatat meningkat," jelas Bank Indonesia.
Anomali ini sangat kontras di mana arus konsumsi pekerja berpenghasilan menengah berbanding terbalik dengan kelompok lainnya. "Berdasarkan pengeluaran, kelompok pengeluaran Rp2,1-5 juta mencatatkan peningkatan indeks, sedangkan kelompok pengeluaran Rp1-2 juta dan >Rp5 mengalami penurunan indeks," ungkap Bank Indonesia.
Ironi Pengangguran Terdidik
Sebagai catatan tambahan, Badan Pusat Statistik pada Februari 2026 merilis data tingkat pengangguran terbuka yang menurun ke angka 4,74%, menyisakan 7,35 juta orang. Namun, tingkat partisipasi angkatan kerja justru naik menjadi 70,95%, membuktikan 155,27 juta penduduk sangat aktif mencari peluang.
Dari antusiasme tersebut, terdapat tambahan 1,37 juta pekerja baru yang berhasil terserap, terutama di sektor makanan dan minuman. Sayangnya, kelompok terdidik justru mendominasi pengangguran nasional, di mana lulusan SMK menyumbang rekor tertinggi 8,45% disusul oleh lulusan SMA umum sebesar 6,55%.
Lulusan jenjang perguruan tinggi juga menyumbang pengangguran cukup besar yakni 5,38%, sedangkan tamatan sekolah dasar ke bawah paling rendah di angka 2,29%. Fenomena ini terjadi karena pekerja berpendidikan rendah cenderung menerima segala pekerjaan, sementara sarjana bersikap sangat selektif menahan diri.

Alvin Bagaskara
Editor
