Royco vs Masako, Siapa Penguasa Bisnis Penyedap Rasa di Indonesia?
- Royco dan Masako bersaing memperebutkan pasar bumbu penyedap Indonesia. Simak perbandingan pemilik, pangsa pasar, hingga kinerja Unilever dan Ajinomoto.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Persaingan industri bumbu penyedap di Indonesia tidak hanya berlangsung di rak-rak supermarket, tetapi juga menjadi pertarungan dua raksasa FMCG dunia.
Di satu sisi ada Royco, merek yang diproduksi PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan menjadi bagian dari grup Unilever. Di sisi lain terdapat Masako, produk andalan PT Ajinomoto Indonesia yang merupakan bagian dari Ajinomoto Group asal Jepang.
Keduanya telah menjadi pelengkap dapur jutaan rumah tangga Indonesia selama puluhan tahun. Namun, di balik popularitas tersebut terdapat persaingan menarik, mulai dari penguasaan pasar, kekuatan merek, hingga kinerja perusahaan yang menaungi kedua produk tersebut.
Lalu, siapa yang lebih unggul? Berikut ulasan lengkapnya,
Siapa Menguasai Pasar Bumbu Penyedap?
Royco merupakan salah satu merek bumbu penyedap milik Unilever Group, perusahaan multinasional yang berakar dari Inggris dan Belanda. Di Indonesia, produk ini diproduksi dan dipasarkan oleh PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang telah lama menjadi salah satu perusahaan barang konsumsi terbesar di Tanah Air.
Secara global, Royco berada dalam keluarga produk yang di berbagai negara dipasarkan menggunakan merek Knorr, salah satu merek makanan terbesar milik Unilever.
Sementara itu, Masako diproduksi oleh PT Ajinomoto Indonesia, anak usaha Ajinomoto Group yang berbasis di Jepang. Produk ini mulai dipasarkan di Indonesia sejak 1989 dan berkembang menjadi salah satu bumbu penyedap paling dikenal masyarakat.
Baca juga : Pohon Bisnis Oesman Sapta Odang, dari Properti Hingga Tambang
Selain memproduksi Masako, Ajinomoto Indonesia juga memasarkan berbagai produk penyedap dan makanan olahan yang telah lama hadir di pasar domestik.
Kekuatan kedua merek tersebut tercermin dalam laporan Brand Footprint 2025 yang diterbitkan Kantar Worldpanel Indonesia. Dalam daftar merek FMCG yang paling banyak dipilih konsumen Indonesia, Royco berada di peringkat kelima, sedangkan Masako menempati peringkat kesembilan.
Adapun daftar 10 besar merek FMCG paling banyak dipilih konsumen Indonesia terdiri atas:
- Indomie
- SoKlin
- Mie Sedaap
- Roma
- Royco
- Indofood
- Kapal Api
- Nabati
- Masako
- Daia

Pada laporan Brand Footprint tahun sebelumnya, Royco bahkan berada di posisi keempat. Produk ini disebut dibeli oleh sekitar 60% rumah tangga Indonesia, atau sekitar 42 juta rumah tangga, dengan rata-rata pembelian mencapai 14 kali dalam setahun.
Data tersebut menunjukkan bahwa Royco memiliki jangkauan konsumen yang sangat luas dan menjadi salah satu merek paling sering dibeli masyarakat Indonesia.
Meski Royco lebih tinggi dalam peringkat Brand Footprint, kondisi berbeda terlihat pada kategori bumbu penyedap. Berdasarkan berbagai laporan media dan pernyataan manajemen perusahaan, Masako diklaim menguasai sekitar 60% pangsa pasar bumbu penyedap nasional.
Sementara itu, hingga kini belum terdapat data publik yang secara khusus mempublikasikan pangsa pasar nasional Royco di kategori tersebut.
Pada kanal e-commerce, khususnya Shopee kuartal I-2026, Royco justru mencatat pangsa penjualan sekitar 4,61% dan berada di posisi kedua, sedangkan Masako sekitar 1,24% di posisi kesepuluh.
Namun, angka tersebut hanya mencerminkan performa penjualan di platform Shopee sehingga tidak dapat disamakan dengan pangsa pasar nasional.
Baca juga : Pohon Bisnis Keluarga Riady: Dari Bank, RS Sampai Properti
Unilever Tertekan, Ajinomoto Melesat
Di balik merek Royco, PT Unilever Indonesia Tbk masih menghadapi tantangan bisnis. Sepanjang 2024, perseroan membukukan penjualan bersih Rp35,1 triliun, turun sekitar 8,99% dibandingkan 2023 yang mencapai Rp38,6 triliun.
Laba bersih juga turun cukup dalam menjadi Rp3,4 triliun, dibandingkan Rp4,8 triliun pada tahun sebelumnya atau turun sekitar 29,8%. Marjin laba kotor turun menjadi 47,6%, sementara pangsa pasar berdasarkan volume pada kuartal II-2025 tercatat sekitar 33,1%.
Penurunan tersebut terjadi di tengah transformasi distribusi, pengurangan persediaan distributor, serta tekanan terhadap permintaan sejumlah kategori produk.
Meski demikian, Royco tetap menjadi salah satu merek strategis Unilever Indonesia bersama Pepsodent, Bango, dan Sunlight. Bahkan pada 2023, Royco menjadi satu-satunya merek Unilever yang masih bertahan dalam daftar 10 besar merek FMCG paling banyak dipilih konsumen Indonesia versi Kantar.
Baca juga : Siapa Penguasa Bisnis Telur Ayam di Indonesia?
Berbeda dengan Unilever Indonesia, PT Ajinomoto Indonesia mencatat pertumbuhan laba yang cukup kuat. Pada 2024, laba bersih perusahaan mencapai sekitar Rp286,57 miliar, meningkat sekitar 83,66% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp156,04 miliar.
Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan penjualan berbagai produk unggulan perusahaan, termasuk Masako. Di tingkat global, Ajinomoto Group juga membukukan penjualan sekitar ¥1,53 triliun pada tahun buku 2024, tumbuh sekitar 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Perusahaan juga terus meningkatkan kapasitas produksi pabriknya di Karawang untuk memenuhi permintaan pasar domestik.
Jika melihat berbagai indikator, Royco dan Masako memiliki keunggulan yang berbeda.
Royco unggul dari sisi kekuatan merek dan tingkat penetrasi ke rumah tangga Indonesia. Posisinya yang konsisten masuk lima besar merek FMCG nasional menunjukkan loyalitas konsumen yang tinggi.
Di sisi lain, Masako memiliki posisi yang kuat pada kategori bumbu penyedap. Berdasarkan klaim perusahaan dan sejumlah laporan media, merek ini menguasai sekitar 60% pasar nasional serta didukung pertumbuhan kinerja Ajinomoto Indonesia yang positif sepanjang 2024.

Chrisna Chanis Cara
Editor
