Ritel Pesta Pora, Asing Borong BBRI, TLKM, dan GOTO
- IHSG All Time High! Jangan terjebak FOMO. Data tunjukkan asing masuk deras ke BBRI, TLKM, dan GOTO saat harganya belum lari.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Sejarah baru resmi tercipta di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan Senin, 5 Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya "pecah telur" dengan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa alias All Time High (ATH) di level 8.859,19.
Kenaikan impresif sebesar 1,27% atau 111,06 poin ini diwarnai oleh euforia transaksi yang "ugal-ugalan". Nilai transaksi harian tembus angka fantastis Rp30,32 triliun, menandakan pasar saham sedang kebanjiran likuiditas.
Sebanyak 446 saham kompak menghijau, dipimpin oleh pesta pora saham sektor energi dan barang baku, khususnya dari Grup Bakrie. Namun, di tengah hingar-bingar ritel yang sibuk mengejar saham-saham yang sedang terbang, investor asing (foreign) justru melakukan manuver senyap yang mencurigakan.
Data perdagangan sore menunjukkan adanya anomali: Asing tidak ikut FOMO, melainkan sibuk "memungut" saham-saham raksasa yang sedang tertidur pulas.
1. Pesta Duit Rp30 Triliun
Pencapaian level 8.859,19 bukan sekadar angka, melainkan konfirmasi bahwa bull market di awal tahun 2026 sangat bertenaga. Lonjakan nilai transaksi hingga Rp30,32 triliun menunjukkan partisipasi pasar yang sangat luas, mulai dari ritel hingga institusi besar yang agresif masuk ke pasar.
Sektor energi menjadi motor penggerak utama pesta ini, sejalan dengan memanasnya harga komoditas global. Saham-saham komoditas yang sebelumnya terkoreksi, kini kembali menjadi primadona dan diburu oleh pelaku pasar domestik yang takut ketinggalan kereta keuntungan.
Namun, investor perlu waspada dengan euforia berlebihan. Kenaikan tajam dalam waktu singkat seringkali memicu aksi profit taking sesaat. Rekor ATH ini menjadi ujian mental: apakah pasar masih kuat menanjak atau perlu "napas" dulu sebelum menembus level psikologis 9.000?
2. Strategi Kontrarian Asing
Di saat investor ritel sibuk melakukan aksi Hajar Kanan (HAKA) pada saham-saham yang sudah naik tinggi, investor asing justru menerapkan strategi contrarian atau melawan arus. Data menunjukkan mereka menghindari saham yang sudah overheat dan memilih masuk ke saham blue chip yang harganya masih tertinggal (laggard).
Strategi ini adalah ciri khas Smart Money. Mereka mengakumulasi barang bagus di harga diskon saat perhatian pasar teralihkan ke tempat lain. Ketika rotasi sektor terjadi nanti, mereka sudah memegang posisi di harga bawah, sementara ritel baru akan masuk saat harga sudah tinggi.
Pola akumulasi senyap ini terdeteksi jelas pada tiga saham raksasa yang pergerakan harganya terlihat "mager" alias malas gerak pada perdagangan kemarin. Ketiga saham tersebut adalah BBRI, TLKM, dan GOTO.
3. BBRI: Misteri Transaksi Nego
Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi sorotan utama. Di pasar reguler, BBRI memang terlihat merah dan menjadi pemberat indeks karena banyak ritel yang membuang barang demi pindah ke saham gorengan. Namun, ada "drama" menarik di Pasar Negosiasi.
Tercatat adanya transaksi jumbo senilai Rp164,8 miliar di pasar negosiasi dengan harga rata-rata Rp3.669. Harga ini tergolong premium alias lebih mahal dibandingkan harga penutupan di pasar reguler. Ini adalah "kode keras" bahwa ada institusi besar atau "Paus" yang berani membayar mahal untuk mengamankan stok BBRI dalam jumlah besar.
Pembelian di harga premium ini biasanya mengindikasikan optimisme jangka panjang dari investor institusi. Mereka tidak peduli dengan fluktuasi harian di pasar reguler, karena mereka melihat valuasi BBRI saat ini sudah sangat menarik untuk dikoleksi.
4. TLKM: Raksasa Tidur Diserok
Sementara saham batu bara beterbangan, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) terlihat "mager" di level harga Rp3.530. Secara Year to Date (YTD), saham pelat merah ini baru naik tipis 0,85%, membuatnya terlihat tidak menarik bagi trader harian yang ingin cuan instan.
Justru karena harganya yang belum lari inilah asing masuk deras. Tercatat Net Buy asing mencapai Rp78,61 miliar dalam satu hari perdagangan kemarin. Asing menyadari bahwa fundamental TLKM tetap solid, namun harganya sedang undervalued dibandingkan sektor lain.
Akumulasi ini menjadi sinyal bahwa TLKM sedang dipersiapkan untuk menjadi penggerak indeks berikutnya jika sektor energi mulai kehabisan bensin. Investor asing sedang memposisikan diri sebelum "raksasa tidur" ini bangun.
5. GOTO: 'Si Gocap' Dilirik Bule
Banyak investor ritel yang skeptis dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) karena harganya yang kerap parkir di kisaran Rp69. Namun, data menunjukkan performa yang cukup solid dengan kenaikan 7,81% sejak awal tahun (YTD).
Mirip dengan BBRI dan TLKM, asing tercatat diam-diam mengakumulasi saham teknologi ini sebesar Rp57,79 miliar. Untuk saham dengan nominal harga puluhan perak, nilai akumulasi puluhan miliar rupiah adalah jumlah yang sangat signifikan dan tidak bisa diabaikan.
Masuknya dana asing ke GOTO menjadi indikasi bahwa Smart Money mulai melihat potensi perbaikan kinerja atau sentimen positif jangka pendek pada emiten teknologi ini. Mereka berani mengambil posisi di saat ritel masih ragu-ragu.

Alvin Bagaskara
Editor
