Rapor Saham Bank 2025: Big Caps Merah, Second Liner Pesta
- Saham bank raksasa (BBCA Rp7.950, BBRI Rp3.690) terkoreksi, sementara saham lapis dua (SUPA, BBKP, BTPS) justru mencetak cuan besar.

Alvin Bagaskara
Author


KB Kookmin Bank asal Korea Selatan resmi menguasai mayoritas saham Bank Bukopin. / Reuters
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID – Tahun 2025 menjadi periode penuh kejutan bagi pergerakan saham sektor perbankan di pasar modal Indonesia. Dominasi bank berkapitalisasi pasar jumbo justru meredup dengan kinerja yang tertekan di zona merah sepanjang tahun. Sebaliknya saham lapis dua justru tampil gemilang mencuri panggung utama.
Investor cenderung melakukan rotasi aset yang cukup agresif dari saham blue chip menuju saham pertumbuhan tinggi. Fenomena ini menciptakan divergensi kinerja yang sangat lebar antara bank buku empat dengan bank menengah. Anomali pasar ini mewarnai dinamika perdagangan bursa sepanjang dua belas bulan.
Menjelang penutupan perdagangan terakhir tahun ini para pelaku pasar mulai menghitung ulang portofolio investasi mereka. Rapor merah pada bank besar menjadi catatan evaluasi penting bagi strategi investasi menyambut tahun depan. Tahun 2025 resmi menjadi panggung pesta bagi saham bank second liner.
1. Runtuhnya Dominasi Big Caps
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menutup tahun dengan koreksi yang tergolong sangat dalam di level Rp7.950 per saham. Bank swasta terbesar ini mencatatkan penurunan kinerja tahunan hingga 17,31% atau setara kehilangan 1.675 poin. Tekanan jual asing mendominasi pergerakan saham unggulan ini sepanjang tahun berjalan.
Nasib serupa juga dialami oleh saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang melemah ke posisi Rp5.075 per saham. Saham bank pelat merah ini gagal mempertahankan tren positifnya dan sempat menyentuh level terendah Rp5.050. Valuasi yang dianggap premium memicu aksi profit taking masif oleh investor.
Tekanan jual turut menghantam saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang terkoreksi ke level Rp3.690 per saham. Bank dengan fokus segmen mikro ini kehilangan sekitar 10,05% dari harga pembukaan awal tahun 2025. Rapor merah tiga raksasa ini menjadi penekan utama indeks sektor keuangan.
2. Defensifnya BBNI dan Menengah
Di tengah badai koreksi bank besar saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) bertahan di level Rp4.310 per saham. Emiten ini mencatatkan penurunan tahunan yang relatif tipis yakni hanya sebesar 1,61% hingga akhir tahun. Volatilitas harga saham BBNI lebih terjaga dibandingkan rekan sesama bank negara.
Kinerja positif justru sukses ditunjukkan oleh saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yang menguat ke Rp1.165 per saham. Saham bank fokus perumahan ini mampu membukukan kenaikan moderat sebesar 0,88% sepanjang tahun 2025. Sentimen insentif properti pemerintah menjadi katalis penjaga harga saham emiten tersebut.
Tren positif juga terlihat pada saham PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) yang menyentuh harga Rp1.745 per saham. Fundamental keuangan yang solid membuat investor nyaman memegang saham bank swasta ini di tengah ketidakpastian. Saham lapis dua ini menjadi pilihan aman bagi portofolio defensif.
3. Kontras Syariah dan Digital
Sektor perbankan syariah menghadapi tahun yang berat melalui saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) di level Rp2.240. Saham BRIS terperosok cukup dalam dengan penurunan tahunan mencapai angka 17,95% di pasar reguler. Koreksi valuasi terjadi setelah reli panjang yang sempat terjadi pada tahun sebelumnya.
Sementara itu saham bank digital PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) cenderung bergerak stagnan di level Rp228 per saham. Anak usaha BRI ini belum mampu memberikan kejutan berarti bagi investor dan bergerak menyamping. Pelaku pasar terlihat masih menanti bukti profitabilitas yang lebih konsisten dari perseroan.
Perbedaan nasib ini menunjukkan bahwa label syariah atau digital tidak menjamin kenaikan harga saham instan. Investor tahun 2025 terlihat jauh lebih selektif dalam memilih aset berdasarkan kinerja riil perusahaan. Euforia pasar kini telah berganti menjadi rasionalitas berbasis data fundamental keuangan.
4. Bintang Turnaround 2025
Predikat bintang tahun 2025 layak disematkan pada saham PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) yang melesat ke Rp1.210. Saham emiten ini berhasil mencatatkan kenaikan harga fantastis sebesar 30,27% sepanjang tahun perdagangan. Perbaikan kinerja operasional menjadi pendorong utama minat beli investor pada saham ini.
Penguatan yang lebih impresif dicatatkan oleh saham PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) yang stagnan di Rp78 per saham. Meski harganya rendah namun secara persentase tahunan saham ini sukses melesat hingga 42,59%. Kepercayaan pasar kembali pulih seiring masuknya dukungan kuat dari pemegang saham pengendali.
Fenomena ini mengonfirmasi bahwa selera risiko investor beralih ke saham-saham yang sedang bangkit atau turnaround. Strategi membeli saham terdiskon dengan potensi perbaikan kinerja terbukti memberikan cuan maksimal tahun ini. Saham lapis dua ini menjadi penyelamat portofolio di tengah lesunya bank besar.
5. Kejutan Pendatang Baru
Kejutan akhir tahun datang dari emiten baru PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) yang bertengger di Rp915. Meski baru listing bulan Desember saham bank digital ini langsung meroket 43,31% secara tahunan. Momentum penawaran perdana sukses dimanfaatkan pasar untuk mendulang keuntungan jangka pendek.
Sementara itu saham PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) menutup tahun dengan kinerja positif di level Rp1.365. Saham bank ini membukukan kenaikan harga sebesar 3,80% berkat konsistensi pertumbuhan laba bersih perusahaan. Saham ini menjadi pilihan favorit investor yang menyukai dividen dan stabilitas harga.
Secara keseluruhan tahun 2025 mengajarkan pelajaran penting tentang diversifikasi portofolio di sektor perbankan nasional. Mengandalkan bank besar saja tidak lagi menjamin keuntungan maksimal dalam kondisi pasar yang dinamis. Investor yang jeli melihat peluang di lapis kedua menjadi pemenang tahun ini.

Alvin Bagaskara
Editor
