RAPBN 2027 Ekspansif, 5 Sektor dan Saham Ini Potensi Diuntungkan
- RAPBN 2027 mengalokasikan anggaran besar untuk sejumlah sektor strategis. Ini 5 sektor dan saham yang berpotensi menjadi perhatian investor.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 membawa sejumlah kebijakan dan alokasi anggaran yang berpotensi memengaruhi kinerja berbagai sektor di pasar modal.
Lewat pendekatan anggaran yang ekspansif dan fokus pada delapan klaster prioritas nasional, sejumlah sektor mulai menjadi perhatian investor, mulai dari perbankan, infrastruktur, energi, hilirisasi, hingga pertahanan.
Beberapa saham yang berpotensi mendapat sentimen positif dari arah kebijakan tersebut antara lain BBRI, BMRI, BBNI, BBTN, PTBA, CTRA, ANTM, TINS hingga MBMA.
Yang perlu dicatat dan dipahami, bahwa RAPBN 2027 masih berupa rancangan sehingga angka dan kebijakannya masih dapat berubah sebelum ditetapkan menjadi APBN.
1. Perbankan BUMN
Sektor pertama yang berpotensi mendapatkan manfaat adalah perbankan BUMN, terutama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).
Salah satu kebijakan yang menjadi perhatian adalah rencana perubahan mekanisme pengelolaan ekspor komoditas sumber daya alam (SDA). Ekspor sejumlah komoditas seperti CPO, batu bara, dan paduan besi direncanakan dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk sebagai pengekspor tunggal.
Perubahan tersebut berpotensi mengubah arus transaksi ekspor. Menurut analisis Maybank Sekuritas, perbankan BUMN berpotensi memperoleh manfaat apabila dana hasil ekspor semakin banyak mengalir melalui rekening bank BUMN.
Peningkatan arus transaksi dapat memberikan dampak positif terhadap dana pihak ketiga (DPK), transaksi perbankan, serta pendapatan berbasis biaya.
Selain itu, target defisit RAPBN 2027 yang dipatok sekitar 2,4% terhadap produk domestik bruto (PDB) juga menjadi sentimen yang perlu diperhatikan investor. Defisit yang lebih rendah berpotensi mendukung stabilitas pasar obligasi domestik dan memberikan dampak positif terhadap lingkungan operasional perbankan.
Baca juga : Bank SMBC Indonesia Hadirkan Musisi Kelas Dunia Andrea Bocelli
2. Infrastruktur dan Konstruksi
Sektor berikutnya adalah infrastruktur dan konstruksi. Pemerintah mengalokasikan anggaran infrastruktur sekitar Rp435,49 triliun dalam RAPBN 2027.
Anggaran tersebut diarahkan untuk berbagai kebutuhan pembangunan, termasuk perumahan, jalan, infrastruktur energi, pangan, serta teknologi informasi dan komunikasi.
Sejumlah target pemerintah pada 2027 antara lain pembangunan 345.310 unit hunian baru dan peningkatan kualitas 400.000 unit rumah. Pemerintah juga menargetkan pembangunan 201,2 kilometer jalan nasional dan 13,5 kilometer jalan tol.
Di sektor teknologi, anggaran diarahkan untuk memperkuat infrastruktur broadband, SATRIA-1, dan Palapa Ring. Sementara itu, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman membutuhkan tambahan anggaran sekitar Rp94,23 triliun untuk mengejar target pembangunan 2,08 juta unit rumah pada 2027.
Besarnya kebutuhan pembangunan tersebut berpotensi membuka peluang kontrak baru bagi perusahaan konstruksi dan pengembang kawasan.
Beberapa saham yang dapat menjadi perhatian antara lain WIKA, PTPP, ADHI dan CTRA. PTBA juga disebut dalam sejumlah rekomendasi sekuritas karena memiliki eksposur terhadap sektor energi dan infrastruktur.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati kondisi keuangan masing-masing emiten, terutama tingkat utang, arus kas, serta kemampuan memperoleh kontrak baru.
Baca juga : Siapa Penguasa Bisnis Layanan Internet Indonesia? Ini Jawabannya
3. Energi dan Batu Bara
Sektor energi juga berpotensi mendapatkan sentimen dari RAPBN 2027. Salah satu indikatornya adalah kenaikan anggaran subsidi energi. Pemerintah mengalokasikan subsidi energi sekitar Rp272,94 triliun pada RAPBN 2027, meningkat 20,1% dibandingkan outlook 2026 sebesar Rp227,25 triliun.
Peningkatan subsidi menunjukkan upaya pemerintah menjaga stabilitas harga energi bagi masyarakat dan dunia usaha.
Kebijakan tersebut dapat menjaga permintaan energi domestik, termasuk batu bara yang masih menjadi salah satu sumber energi utama dalam sistem kelistrikan Indonesia.
Beberapa emiten yang memiliki eksposur terhadap sektor tersebut antara lain PTBA, ADRO, INDY dan BUMI. Di sisi lain, kebijakan perubahan mekanisme ekspor SDA perlu menjadi perhatian. Jika ekspor komoditas dilakukan melalui BUMN sebagai pengekspor tunggal, perusahaan tambang swasta berpotensi menghadapi perubahan dalam rantai pemasaran dan perdagangan.
Artinya, kenaikan anggaran energi tidak serta-merta menjadi katalis positif bagi seluruh emiten batu bara. Investor perlu melihat dampaknya terhadap volume penjualan, harga jual, margin, serta dividen perusahaan.
Baca juga : Bank SMBC Indonesia Hadirkan Mahakarya Musik Andrea Bocelli di Indonesia
4. Hilirisasi dan Industrialisasi
Hilirisasi dan industrialisasi menjadi salah satu klaster prioritas dalam RAPBN 2027. Pemerintah terus mendorong pengolahan sumber daya alam di dalam negeri agar memberikan nilai tambah lebih besar sebelum produk diekspor.
Kebijakan tersebut berpotensi memberikan keuntungan bagi perusahaan yang memiliki eksposur terhadap rantai pasok mineral dan industri pengolahan.
Beberapa saham yang dapat menjadi perhatian antara lain PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), serta sejumlah perusahaan yang terlibat dalam ekosistem kendaraan listrik.
Pemerintah juga menargetkan produksi hingga 1 juta unit motor listrik nasional per tahun dengan dukungan berbagai kebijakan dan insentif.
Target tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap baterai, nikel, komponen kendaraan listrik, hingga infrastruktur pendukung.
Selain perusahaan tambang dan material, pengembangan ekosistem kendaraan listrik juga dapat membuka peluang bagi perusahaan seperti VKTR Teknologi Mobilitas dan TBS Energi Utama.
Namun, prospek sektor hilirisasi tetap bergantung pada realisasi investasi, permintaan global, harga komoditas, serta keberhasilan proyek pengolahan di dalam negeri.
5. Pertahanan dan Keamanan
Sektor pertahanan menjadi sektor lain yang menarik perhatian dalam RAPBN 2027. Anggaran pertahanan direncanakan mencapai sekitar Rp329,5 triliun, atau meningkat sekitar 10% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan anggaran tersebut dapat meningkatkan belanja pemerintah untuk pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista), pembangunan infrastruktur pertahanan, serta penguatan industri pertahanan nasional.
Sejumlah perusahaan strategis seperti PT PAL Indonesia dan PT Dirgantara Indonesia belum tercatat di Bursa Efek Indonesia. Karena itu, investor saham tidak dapat memperoleh eksposur secara langsung melalui kedua perusahaan tersebut.
Meski demikian, peningkatan belanja pertahanan berpotensi memberikan efek tidak langsung kepada perusahaan yang memasok material, komponen, teknologi, konstruksi, maupun kebutuhan pendukung industri pertahanan.
Salah satu emiten yang dapat diperhatikan dari sisi material strategis adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO), meskipun hubungan dengan belanja pertahanan bersifat tidak langsung dan bukan merupakan eksposur utama bisnis perseroan.
Baca juga : Target PPN 2027 Naik 13,4 Persen, Akankah Harga Barang Bakal Ikut Melonjak?
RAPBN 2027 Jadi Katalis, tetapi Bukan Jaminan Kinerja Saham
RAPBN 2027 dapat menjadi salah satu katalis penting bagi pasar saham Indonesia karena mencerminkan arah kebijakan dan prioritas belanja pemerintah.
Namun, dampak terhadap setiap emiten tidak akan sama. Perbankan BUMN, misalnya, dapat memperoleh manfaat dari peningkatan transaksi, tetapi emiten komoditas justru dapat menghadapi risiko apabila mekanisme ekspor baru mengurangi fleksibilitas pemasaran.
Begitu pula sektor konstruksi. Besarnya anggaran infrastruktur memang dapat meningkatkan peluang kontrak, tetapi investor tetap perlu melihat kualitas proyek, margin keuntungan, kebutuhan modal kerja, dan kondisi neraca perusahaan.
Untuk sektor pertambangan, harga komoditas global tetap menjadi faktor utama yang dapat menentukan kinerja laba.
Dengan demikian, saham-saham seperti BBRI, BMRI, BBNI, BBTN, PTBA, CTRA, ANTM, TINS, MBMA dan emiten terkait lainnya lebih tepat dipandang sebagai saham yang berpotensi memperoleh katalis dari RAPBN 2027, bukan sebagai rekomendasi beli.
RAPBN 2027 sendiri masih dalam tahap pembahasan sehingga besaran anggaran maupun sejumlah kebijakan di dalamnya masih dapat mengalami perubahan sebelum disahkan menjadi APBN 2027.

Chrisna Chanis Cara
Editor
