Tren Global

Ransomware Intai ASEAN, Penjualan Data Curian Naik 3 Kali Lipat

  • Penjualan data curian di ASEAN meningkat tiga kali lipat di tengah kenaikan aktivitas ransomware. Kenali sektor dan langkah pertahanan yang perlu diperkuat.
Cara Melindungi dan Mencegah Terkena LockBit Ransomware
Cara Melindungi dan Mencegah Terkena LockBit Ransomware (Freepik.com/rawpixel)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Aktivitas ransomware di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) meningkat seiring dengan semakin tingginya nilai data dan identitas yang menjadi sasaran pencurian. Ensign InfoSecurity mencatat aktivitas ransomware di ASEAN meningkat dua kali lipat, sementara penjualan data curian meningkat hingga tiga kali lipat.

Temuan tersebut menjadi bagian dari Cyber Threat Landscape Report 2026 yang memetakan perkembangan ancaman siber di kawasan ASEAN.

Ensign mencatat seluruh 18 kelompok ransomware terkemuka yang dipantau terdeteksi menargetkan kawasan ASEAN. Peningkatan aktivitas tersebut berlangsung di tengah tingginya lalu lintas keuangan dan perdagangan, basis manufaktur yang terus berkembang, serta digitalisasi yang semakin pesat di kawasan.

Mengapa Ransomware Menargetkan ASEAN?

Ransomware merupakan salah satu ancaman yang menjadi perhatian dalam lanskap keamanan siber ASEAN. Peningkatan aktivitasnya berjalan bersamaan dengan meningkatnya nilai data yang dapat dicuri dan diperjualbelikan.

Ensign mencatat penjualan data curian meningkat tiga kali lipat. Dalam paparan tersebut, peningkatan nilai data dikaitkan dengan semakin ketatnya regulasi privasi dan keamanan siber yang membuat data memiliki nilai lebih tinggi bagi pelaku ancaman.

Di sisi lain, aktivitas ransomware tercatat meningkat dua kali lipat. Ensign mengaitkan kondisi ini dengan karakteristik ASEAN sebagai kawasan dengan aktivitas perdagangan dan keuangan yang tinggi, manufaktur yang berkembang, serta proses digitalisasi yang semakin cepat.

Ancaman siber di ASEAN berasal dari beberapa kelompok aktor. Ensign membagi profil aktor ancaman menjadi tiga kategori utama.

  • Kejahatan terorganisasi memiliki porsi terbesar, yakni 45,2 persen.
  • Aktor yang didukung negara dengan porsi 35,7 persen,
  • Hacktivisme mencapai 19,1 persen.

Komposisi tersebut memperlihatkan jika lanskap ancaman siber di ASEAN melibatkan berbagai jenis aktor dengan karakteristik berbeda.

“Di ASEAN, aktivitas siber datang dari berbagai pihak, mulai dari pelaku kejahatan siber, aktor yang didukung negara, hingga kelompok hacktivis. Kondisi ini membuat risiko siber semakin menjadi bagian penting dari ketahanan bisnis.” ujar Adithya Nugraputra, Head of Consulting, PT Ensign InfoSecurity Indonesia.

Karena itu, organisasi tidak hanya menghadapi risiko dari kelompok kriminal yang mengejar keuntungan finansial. Aktivitas aktor yang didukung negara dan hacktivis juga menjadi bagian dari lingkungan ancaman yang perlu diperhatikan.

Lima Sektor Menjadi Target Utama

Ensign mengidentifikasi lima kelompok industri yang menjadi target utama serangan siber di ASEAN. Sektor tersebut meliputi, 

  • Perbankan,
  • Kuangan dan asuransi;
  • Layanan bisnis dan profesional;
  • Manufaktur dan industri;
  • Sektor publik;
  • Telekomunikasi, media dan teknologi.

Kelima sektor tersebut memiliki ketergantungan tinggi terhadap sistem digital dan pengelolaan data. Dalam konteks ransomware, gangguan terhadap sistem dapat berdampak pada operasional organisasi.

Karena itu, pertahanan terhadap ransomware tidak hanya berkaitan dengan upaya mencegah penyerang masuk. Organisasi juga perlu memiliki kemampuan untuk tetap memulihkan sistem apabila serangan berhasil terjadi.

Ensign juga menekankan jika cadangan data, layanan, dan akses administrator dapat menjadi sasaran penyerang. Artinya, cadangan tidak boleh dianggap sekadar sebagai fasilitas tambahan yang hanya digunakan ketika terjadi gangguan teknis.

Organisasi perlu memastikan proses pemulihan telah diuji dan divalidasi serta berada di luar jangkauan penyerang. Selain itu, organisasi perlu memiliki prosedur untuk membangun kembali sistem dari awal, kewenangan pengambilan keputusan yang telah dilatih, serta target waktu pemulihan yang disepakati dengan pihak bisnis.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena serangan siber dapat berlangsung ketika organisasi masih menjalankan aktivitas operasional.

Apa yang Perlu Dilakukan Organisasi?

Selain kemampuan pemulihan, Ensign menempatkan pengamanan identitas sebagai salah satu prioritas pertahanan.

Penyerang disebut semakin sering masuk menggunakan kredensial yang valid dibandingkan menerobos sistem secara langsung. Karena itu, organisasi perlu menyediakan autentikasi yang tahan terhadap phishing untuk karyawan, pemasok, dan administrator.

Organisasi juga perlu mengelola seluruh aset yang terekspos ke internet, termasuk akses jarak jauh, perangkat edge, dan layanan cloud. Inventaris aset yang lengkap serta proses patching yang jelas diperlukan untuk mengurangi celah yang dapat dimanfaatkan penyerang.

Selain itu, keamanan pihak ketiga juga perlu diperhatikan. Pemasok dan penyedia layanan terkelola yang memiliki akses langsung ke lingkungan organisasi perlu memenuhi standar keamanan yang sama.

Ensign juga mendorong organisasi untuk memantau data yang keluar, bukan hanya lalu lintas yang masuk. Volume dan tujuan data keluar perlu dipantau sehingga aktivitas yang mencurigakan dapat ditindaklanjuti.

Dengan aktivitas ransomware yang meningkat dua kali lipat dan seluruh 18 kelompok ransomware terkemuka yang dipantau menargetkan ASEAN, kemampuan organisasi untuk mencegah, mendeteksi, merespons, dan memulihkan diri dari serangan menjadi semakin penting dalam menghadapi lanskap ancaman siber kawasan.