Puasa Sejak 2014, Vale Indonesia Bagi Dividen Setelah Laba Melejit?
- Emiten tambang nikel yang puasa membagikan dividen sejak 2014, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST)...

Aprilia Ciptaning
Author
JAKARTA – Emiten tambang nikel yang puasa membagikan dividen sejak 2014, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Kamis, 29 April 2021 di Jakarta.
Mengutip laman resmi perseroan, para pemegang saham yang berhak hadir adalah pihak yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham perseroan hingga 30 Maret 2021.
Adapun pemegang saham lain yang hadir secara elektronik, diimbau untuk memberikan surat kuasa melalui fasilitas Electronic General Meeting System KSEI (eASY KSEI) yang disediakan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia.
- Pendapatan PP Properti Naik 27,77 Persen, Tapi Laba Turun Rp160 Miliar
- Beri Dividen Miliaran Rupiah, Pemprov DKI Alot Jual Saham Miras Bir Anker DLTA
- Puasa Sejak 2014, Vale Indonesia Bagi Dividen Setelah Laba Melejit?
Alternatif lain juga bisa dilakukan dengan mengunduh formulir surat kuasa di situs resmi perseroan. Selanjutnya, surat kuasa tersebut diberikan kepada PT Bima Registra selaku biro administrasi efek yang ditunjuk Vale Indonesia.
“Ini dilakukan sebagai mekanisme pemberian kuasa secara elektronik dalam proses penyelenggaraan rapat,” tulis manajemen. Jangka waktu pemberian kuasa tersebut dapat dilakukan sampai tanggal 28 April 2021.
Vale yang sahamnya baru saja didivestasi dan diserap oleh Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum ini digadang-gadang bakal mengakhiri puasa pembagian dividen pada tahun ini.
Terakhir kali, RUPS yang digelar Vale Indonesia memutuskan untuk membagi dividen 2014 sebesar US$100 juta atau setara Rp1,3 triliun, atau US$ 0,01007 per saham.
Presiden Direktur Vale Indonesia Nico Kanter mengatakan RUPS juga menyetujui proposal untuk mengalokasikan dana sebesar US$11,3 juta untuk cadangan umum. Dengan pembayaran ini akan membuat total pembayaran dividen kepada pemegang saham di tahun 2014 menjadi sebesar 58%.
Per 31 Desember 2020, saham INCO digenggam oleh VCL (43,79%), Inalum (20%), Sumitomo Metal Mining Co Ltd (15,03%), Vale Japan Limited (0,55%), Sumitomo Corporation (0,14%) dan publik (20,49%).
Laba Melejit di Tengah Pandemi

Sebagai informasi, sepanjang 2020 perseroan berhasil meraup laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk senilai US$82,8 juta setara Rp1,16 triliun (kurs Rp14.044 per dolar Amerika Serikat). Perolehan laba tersebut melejit 44,2% dari tahun sebelumnya US$57,9 juta.
Pada periode tersebut, EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) perseroan tercatat US$273 juta. Capaian itu terutama didorong oleh produksi dan pengiriman nikel yang lebih tinggi.
Dalam laporan keuangan emiten bersandi saham INCO yang dirilis di BEI, tercatat pendapatan perseroan mencapai US$764,74 juta setara Rp10,74 triliun. Jumlah itu turun tipis 2,2% dari periode tahun sebelumnya US$782,01 juta.
- Harga Emas Hari Ini: Menguat Rp8.000
- Minat KPR Rumah Subsidi? Simak Tips Langkah Pengajuan dan Harga Terbaru
- Sepi Peminat, Lelang Surat Utang Negara Tak Tembus Target Cuma Rp9,1 Triliun
Saat bersamaan, beban pokok pendapatan berhasil ditekan 3,6% dari US$664,3 juta menjadi US$640,3 juta pada 2020. Sehingga, laba kotor naik 5,6% menjadi US$124,3 juta.
Perolehan laba usaha INCO yang naik 16% menjadi US$103,8 juta, rupanya ikut mempengaruhi laba tahun berjalan yang melejit sebesar US$82,8 juta. Sebab, pada 2019 laba tahun berjalan perseroan sebesar US$57,4 juta.
Per akhir Desember 2020, total liabilitas INCO mencapai US$294,2 juta dengan ekuitas US$2,02 miliar. Total aset INCO hingga akhir 2020 mencapai US$2,3 miliar. (SKO)
