Tren Inspirasi

Profil Farwiza Farhan, Sosok di Balik Perlindungan Hutan Leuser

  • Profil Farwiza Farhan, aktivis lingkungan asal Aceh yang menjaga Ekosistem Leuser dan masuk daftar 22 Sosok Reset Indonesia berkat kiprahnya.
2019_-_planet-tech_-_Day_1_HM2_7170_(49018328788).jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID - Nama Farwiza Farhan masuk dalam daftar 22 Sosok Reset Indonesia, sebuah buku yang mengangkat figur-figur inspiratif dari berbagai bidang yang dinilai memiliki gagasan, keberanian, dan kontribusi nyata dalam mendorong perubahan mendasar di Indonesia. 

Farwiza dipilih karena kiprahnya yang konsisten menjaga Kawasan Ekosistem Leuser, salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati dunia sekaligus sumber kehidupan jutaan masyarakat di Aceh dan Sumatra Utara.

Di tengah ancaman deforestasi, pembukaan lahan, pertambangan, hingga perubahan iklim, Farwiza menjadi salah satu suara paling berpengaruh dalam gerakan konservasi Indonesia. 

Aktivis lingkungan asal Aceh ini bahkan memperoleh berbagai penghargaan internasional, mulai dari TIME 100 Next, Ramon Magsaysay Award, hingga Whitley Gold Award 2026, berkat dedikasinya melindungi hutan hujan tropis Leuser.

Siapa Farwiza Farhan?

Farwiza Farhan lahir di Banda Aceh pada 1 Mei 1986. Ia merupakan anak sulung dari lima bersaudara, pasangan Dr. Ahmad Farhan Hamid, seorang politisi sekaligus akademisi Fakultas Farmasi Universitas Syiah Kuala, dan Ir. Ferry Soraya, M.Si, dosen Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala.

Sejak kecil, Farwiza bercita-cita menjadi ahli biologi kelautan. Ketertarikannya terhadap dunia konservasi tumbuh setelah sering menyaksikan dokumenter alam Planet Earth produksi BBC yang memperlihatkan kekayaan biodiversitas dunia.

Minat tersebut kemudian membawanya menempuh pendidikan di bidang lingkungan hingga jenjang doktoral.

Perjalanan akademik Farwiza ditempuh di berbagai negara. Ia meraih gelar Sarjana Biologi Kelautan dari Universiti Sains Malaysia pada 2007. Setelah itu, ia melanjutkan studi Magister Manajemen Lingkungan di The University of Queensland, Australia, pada 2009–2010.

Keinginannya memahami hubungan antara manusia dan lingkungan membawanya melanjutkan studi doktoral di Radboud University, Belanda, dengan fokus pada Antropologi Budaya dan Studi Pembangunan. Ia juga memperdalam kajian antropologi di Universitas Amsterdam.

Bekal akademik tersebut menjadi fondasi penting dalam pendekatannya terhadap konservasi yang tidak hanya berbasis ekologi, tetapi juga melibatkan masyarakat lokal.

Mengawali Karier Melindungi Leuser

Sepulang dari Australia pada 2011, Farwiza bergabung dengan Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL), lembaga pemerintah yang bertugas menjaga kawasan Leuser dari pembalakan liar, perambahan, perburuan satwa, dan aktivitas pertambangan.

Namun perjalanan itu tidak berlangsung lama. Ketika Pemerintah Aceh membubarkan BPKEL, Farwiza bersama sejumlah mantan pegawai memilih tidak berhenti memperjuangkan Leuser.

Mereka kemudian mendirikan Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), organisasi nirlaba yang fokus pada konservasi, advokasi kebijakan, penelitian, serta pemberdayaan masyarakat dalam menjaga Ekosistem Leuser.

Sejak saat itu, HAkA berkembang menjadi salah satu organisasi lingkungan paling berpengaruh di Indonesia.

Berbeda dengan pendekatan konservasi yang hanya mengandalkan penegakan hukum, Farwiza menempatkan masyarakat sebagai aktor utama perlindungan hutan.

Menurutnya, keberhasilan menjaga kawasan hutan tidak mungkin dicapai tanpa melibatkan warga yang tinggal di sekitar kawasan konservasi.

Ia juga menaruh perhatian besar pada pemberdayaan perempuan. Salah satu program inovatifnya adalah pembentukan Mpu Uteun, yang berarti "pemilik hutan", yakni kelompok penjaga hutan perempuan pertama di Aceh.

Kelompok ini melakukan patroli hutan, menjaga sumber mata air, melakukan penanaman kembali kawasan kritis, sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya konservasi.

Program tersebut juga menjadi simbol perubahan sosial karena membuka ruang kepemimpinan perempuan di tengah budaya yang masih kuat dipengaruhi sistem patriarki.

Menang Gugatan Bersejarah terhadap Perusahaan Sawit

Salah satu pencapaian terbesar Farwiza adalah keberhasilannya mendorong gugatan warga (citizen lawsuit) terhadap perusahaan kelapa sawit yang terbukti merusak kawasan Leuser.

Pengadilan menjatuhkan denda sekitar US$26 juta atau setara lebih dari Rp400 miliar kepada perusahaan tersebut.

Putusan tersebut menjadi salah satu preseden penting dalam penegakan hukum lingkungan di Indonesia karena dana hasil putusan dialokasikan untuk rehabilitasi kawasan hutan yang rusak.

Farwiza bersama HAkA juga berhasil mengadvokasi penghentian pembangunan bendungan pembangkit listrik tenaga air yang dinilai mengancam habitat gajah Sumatra.

Bagi Farwiza, pembangunan tidak boleh mengorbankan kawasan dengan nilai ekologis tinggi, terutama Leuser yang merupakan satu-satunya tempat di dunia tempat orangutan, harimau Sumatra, gajah Sumatra, dan badak Sumatra masih hidup berdampingan di alam liar.

Baca juga : Profil Hening Purwati Parlan, Penggerak Eco-Jihad dan GreenFaith

Kolaborasi dengan Leonardo DiCaprio

Perjuangan Farwiza mendapat perhatian internasional. Ia bekerja sama dengan aktor sekaligus aktivis lingkungan Leonardo DiCaprio dalam produksi film dokumenter Before the Flood pada 2016.

Setahun kemudian, DiCaprio mengunjungi Aceh untuk melihat langsung kondisi Ekosistem Leuser serta ancaman yang dihadapi kawasan tersebut. Kolaborasi tersebut semakin memperkuat perhatian dunia terhadap pentingnya menjaga hutan hujan tropis Indonesia.

Peran Farwiza tidak hanya terlihat dalam isu konservasi. Ketika Topan Senyar menerjang Aceh pada 2025, HAkA menjadi salah satu organisasi yang pertama turun membantu masyarakat terdampak.

Melalui analisis spasial, tim HAkA menemukan lebih dari 15.000 hektare hutan di daerah tangkapan air telah hilang. Kondisi tersebut diduga memperparah dampak banjir dan longsor yang menewaskan lebih dari seribu orang serta memaksa ratusan ribu warga mengungsi.

Temuan tersebut memperkuat hubungan antara kerusakan hutan dan meningkatnya risiko bencana alam.

Kiprah Farwiza memperoleh pengakuan luas dari berbagai lembaga internasional. Pada 2016 ia menerima Whitley Award, yang kerap dijuluki sebagai Green Oscars. Setahun kemudian, ia meraih Future for Nature Award.

Namanya semakin dikenal ketika menerima Pritzker Emerging Environmental Genius Award dan menjadi TED Fellow pada 2021.

Pada 2022, Farwiza masuk daftar TIME 100 Next, yang memuat tokoh-tokoh paling berpengaruh di dunia. Profilnya dalam daftar tersebut bahkan ditulis oleh primatolog legendaris Jane Goodall.

Pada 2024, ia dianugerahi Ramon Magsaysay Award untuk kategori Emergent Leadership, penghargaan yang sering disebut sebagai Nobel Asia.

Terbaru, pada 2026, Farwiza menerima Whitley Gold Award, penghargaan lanjutan yang hanya diberikan kepada penerima Whitley Award dengan dampak konservasi luar biasa.

Baca juga : UMKM Furnitur Sukoharjo Tembus Pasar Ekspor Berkat Pelatihan BRI Peduli

Misi Baru Melindungi Hampir Satu Juta Hektare Hutan

Melalui pendanaan Whitley Gold Award 2026, Farwiza akan memperluas program pemantauan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Tamiang dan Jambo Aye yang mencakup hampir satu juta hektare.

Pemantauan dilakukan menggunakan teknologi geospasial modern untuk menghasilkan data ilmiah yang dapat digunakan pemerintah dalam menyusun kebijakan konservasi.

Selain itu, HAkA juga akan memperluas program pelatihan bagi komunitas lokal, organisasi pemuda, dan berbagai mitra masyarakat sipil agar perlindungan Leuser semakin kuat.

Bagi Farwiza Farhan, menjaga hutan bukan hanya soal melindungi satwa liar, melainkan juga menjaga sumber air, ketahanan pangan, hingga keselamatan jutaan manusia yang bergantung pada Ekosistem Leuser.

Filosofi itu tercermin dalam salah satu pernyataannya bahwa perubahan yang bertahan lama tidak pernah digerakkan oleh satu orang, melainkan oleh komunitas yang setiap hari memilih untuk peduli, melindungi, dan bertindak.

Atas dedikasi tersebut, tidak mengherankan jika Farwiza Farhan menjadi salah satu nama yang dipilih dalam 22 Sosok Reset Indonesia, sebagai representasi tokoh yang menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari keberanian menjaga alam untuk generasi mendatang.