Tren Inspirasi

Profil Hening Purwati Parlan, Penggerak Eco-Jihad dan GreenFaith

  • Profil Hening Purwati Parlan, aktivis lingkungan yang mengusung Eco-Jihad, GreenFaith Indonesia, dan Green 'Aisyiyah untuk keadilan iklim.
images (2).jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID – Nama Hening Purwati Parlan menjadi salah satu sosok yang konsisten menyuarakan isu lingkungan hidup, perubahan iklim, dan transisi energi di Indonesia. 

Aktivis yang berkiprah di berbagai organisasi lingkungan nasional maupun internasional ini dikenal sebagai penggerak kolaborasi lintas agama dalam mendorong aksi nyata menghadapi krisis iklim.

Melalui berbagai inisiatif seperti Eco-Jihad, Green 'Aisyiyah, hingga Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening berupaya menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan upaya pelestarian lingkungan. Baginya, menjaga bumi bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan bagian dari amanah spiritual yang harus dijalankan setiap manusia.

Lantas, siapa sebenarnya Hening Purwati Parlan? Berikut profil lengkapnya.

Lahir di Wonogiri, Ditempa Nilai Keagamaan dan Kepedulian terhadap Alam

Hening Purwati Parlan lahir di Wonogiri, Jawa Tengah, pada 9 Oktober 1972. Lingkungan pedesaan yang masih asri menjadi bagian penting dalam membentuk kepeduliannya terhadap alam sejak usia dini.

Ia tumbuh dalam keluarga religius. Sang ayah dikenal sebagai tokoh agama yang mengedepankan nilai demokrasi, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama. Dari lingkungan keluarga inilah Hening mulai memahami bahwa hubungan manusia dengan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari hubungan manusia dengan alam.

Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi fondasi dalam berbagai aktivitas advokasi lingkungan yang ia jalankan hingga kini.

Dalam perjalanan akademiknya, Hening memiliki latar belakang multidisiplin yang mendukung kiprahnya di bidang lingkungan hidup

Baca juga : Pohon Bisnis Arsjad Rasjid: Dari Batu Bara, Properti sampai EV

Ia merupakan lulusan Program Studi Sosiologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Selama di kampus Hening aktif sebagai aktivis yang tumbuh di ligkungan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP UNS.

Selanjutnya, ia menempuh pendidikan Magister Manajemen dengan fokus pada isu perubahan iklim serta Magister Ilmu Publik yang menitikberatkan kajian mengenai transisi energi.

Hingga kini, Hening masih melanjutkan pendidikan sebagai mahasiswa Program Doktor (S3) Manajemen Pendidikan Islam, memperkuat pendekatan yang menghubungkan aspek pendidikan, kepemimpinan, dan nilai-nilai keagamaan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Sebelum dikenal sebagai aktivis lingkungan, Hening memulai karier profesionalnya sebagai jurnalis Majalah Tiras di Jakarta.

Pengalaman sebagai wartawan membentuk kemampuannya memahami persoalan sosial dari berbagai sudut pandang sekaligus memperkuat kemampuan komunikasi publik.

Setelah itu, ia sempat menetap di Kupang sebelum kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Di organisasi tersebut, Hening mulai mendalami isu-isu lingkungan hidup, keadilan sosial, hak masyarakat adat, serta pendampingan kelompok rentan yang terdampak kerusakan lingkungan.Pengalaman di WALHI menjadi titik balik yang memperkuat dedikasinya di bidang advokasi lingkungan.

Menempati Berbagai Jabatan Strategis

Saat ini Hening menduduki sejumlah posisi penting di berbagai organisasi lingkungan dan organisasi kemasyarakatan Islam.

Di tingkat internasional, ia menjabat sebagai Direktur GreenFaith Indonesia, organisasi lintas agama yang berfokus pada isu lingkungan hidup dan keadilan iklim. GreenFaith Indonesia merupakan bagian dari GreenFaith International yang berkantor pusat di New York, Amerika Serikat.

Sejak 2023, Hening juga dipercaya sebagai Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, setelah aktif sebagai anggota organisasi tersebut sejak 2018.

Di lingkungan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah, ia menjabat sebagai:

  • Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
  • Wakil Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat 'Aisyiyah.
  • Ketua Divisi Lingkungan Hidup LLHPB PP 'Aisyiyah sejak 2015.

Sebelumnya, Hening juga pernah menjadi:

  • Sekretaris Jenderal Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) periode 2007–2008.
  • Direktur Humanitarian Forum Indonesia pada 2008–2014.

Selain itu, ia terlibat dalam berbagai proyek nasional maupun internasional bersama organisasi seperti UNDP Project on REDD+, UNOPS, Land Equity, HEKS, MFP4, hingga Palladium International Indonesia.

Baca juga : BRILink Agen Simalungun, Literasi Keuangan yang Dimulai dari Warung Kecil

Mengusung Konsep Eco-Jihad dan Green 'Aisyiyah

Salah satu gagasan yang paling dikenal dari Hening Purwati Parlan adalah konsep Eco-Jihad. Konsep ini mulai diperkenalkan pada 2022 sebagai bentuk perjuangan spiritual dalam menghadapi krisis iklim.

Menurut Hening, istilah jihad tidak semata dimaknai sebagai perjuangan fisik, tetapi sebagai upaya sungguh-sungguh menjaga keseimbangan alam dan melindungi bumi dari kerusakan.

Melalui pendekatan tersebut, ajaran agama dijadikan sebagai inspirasi untuk membangun kesadaran masyarakat sekaligus mendorong aksi nyata dalam pelestarian lingkungan.

Selain Eco-Jihad, Hening juga aktif mengembangkan Green 'Aisyiyah, sebuah gerakan lingkungan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam praktik pelestarian lingkungan.

Program ini mengajak masyarakat menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari melalui pengelolaan sampah, konservasi air, penghijauan, hingga penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.

Menurut Hening, pendekatan berbasis agama dinilai lebih mudah diterima masyarakat karena menyentuh aspek moral sekaligus spiritual.

Eco Bhinneka Muhammadiyah

Program lain yang dikembangkan Hening adalah Eco Bhinneka Muhammadiyah. Program ini menggabungkan nilai keberagaman dan kepedulian terhadap lingkungan melalui kerja sama lintas agama.

Sebagai proyek percontohan, program tersebut dijalankan di Pontianak, Ternate, Surakarta, dan Banyuwangi yang memiliki latar belakang budaya serta keberagaman masyarakat yang berbeda.

Hingga kini, Eco Bhinneka Muhammadiyah telah menjangkau lebih dari 5.000 generasi muda dari berbagai latar belakang.

Hening juga menjadi salah satu penggerak Program 1000 Cahaya. Program ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dengan mendorong penggunaan energi terbarukan di lingkungan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah.

Sasarannya meliputi sekolah, masjid, pondok pesantren, hingga ranting organisasi agar mulai memanfaatkan energi bersih sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi nasional.

Dalam penanganan bencana kabut asap akibat kebakaran hutan, Hening menggagas Rumah Oksigen 'Aisyiyah. Program tersebut menyediakan ruang dengan penyaring udara bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat yang terdampak polusi udara.

Inisiatif ini menjadi salah satu bentuk respons cepat organisasi terhadap dampak perubahan iklim yang semakin sering terjadi.

Meraih Planet Award dari Pemerintah Inggris

Atas dedikasinya dalam bidang lingkungan hidup, Hening menerima Planet Award dari Kedutaan Besar Inggris pada 2024. Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Inggris.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey.

Hening menjadi satu dari 18 tokoh penerima penghargaan dalam kategori People dan Planet, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam memperkuat keberlanjutan lingkungan serta kerja sama internasasional.

Sebelumnya, pada 2013, ia juga menerima penghargaan Tokoh Inspiratif Reksa Utama Anindha atas kontribusinya dalam bidang pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.

Aktif di Forum Nasional dan Internasional

Selain berkegiatan di Indonesia, Hening juga aktif dalam berbagai forum internasional yang membahas isu perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Ia tercatat pernah terlibat dalam berbagai jaringan dan forum seperti Harvard Kennedy School, ADRRN, Al Gore Climate Project, GreenFaith International, Active Asia, hingga INSIST.

Melalui GreenFaith Indonesia, ia juga memimpin pelatihan keadilan iklim yang pada 2024 telah melibatkan sekitar 280 generasi muda dari berbagai agama dan kepercayaan.

Jaringan kolaborasinya bahkan menjangkau berbagai negara, mulai dari Afrika Selatan hingga Jepang.

Bagi Hening Purwati Parlan, perubahan iklim bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga krisis moral dan spiritual. Ia meyakini bahwa manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah di bumi untuk menjaga keseimbangan alam.

Karena itu, ia terus mendorong kolaborasi lintas agama, organisasi masyarakat, pemerintah, akademisi, hingga generasi muda dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Melalui pendekatan yang memadukan nilai agama, pendidikan, dan aksi nyata, Hening berharap isu lingkungan tidak lagi dipandang sebagai persoalan kelompok tertentu, melainkan menjadi tanggung jawab bersama demi menjaga bumi bagi generasi mendatang.