Plastik ‘Ganti Harga’, Bakul Online dan Es Teh Jumbo di Solo Nelangsa
- Pelaku UMKM di Kota Solo pusing tujuh keliling menyusul naiknya harga plastik beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut semakin mengikis keuntungan mereka yang tidak seberapa.

Chrisna Chanis Cara
Author


SOLO, TRENASIA.ID—Sejumlah pedagang dan pelaku UMKM di Kota Solo pusing tujuh keliling menyusul naiknya harga plastik beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut semakin mengikis keuntungan mereka yang tidak seberapa. Ada yang tetap mempertahankan harga jual produknya, ada pula yang terpaksa menaikkan harga.
Seorang penjual es teh jumbo di Laweyan, Solo, Tutik, mengaku pusing lantaran kenaikan harga plastik yang cukup drastis belakangan ini. Hal itu lantaran usahanya tak lepas dari kebutuhan plastik, mulai dari gelas untuk wadah serta plastik kresek.
Dia menyebut gelas plastik yang dulunya dia beli seharga Rp14.000 (isi 50 gelas) kini melambung menjadi Rp30.000. Kenaikannya lebih dari 100%. Jika dikalkulasi, harga per gelas plastik kini menyumbang Rp600 dari harga pokok. “Satu es teh saya hanya jual Rp3.000,” ujarnya saat ditemui TrenAsia di kiosnya, Kamis, 2 April 2026.
Selain gelas, harga tas kresek juga naik dua kali lipat. Tutik menyebut harga plastik ukuran kecil isi 50 buah kini naik dari Rp4.000 menjadi Rp8.000. Perempuan berjilbab itu mengaku belum berpikir menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan. “Sebenarnya keuntungannya sudah sangat mepet, tapi kalau saya naikkan takut malah pembeli pergi,” tuturnya.
Seorang penjual es teh jumbo lain, Kurnia, mengaku terpaksa menaikkan harga lantaran biaya plastik yang semakin meroket. “Dulu Rp3.000 sama seperti lainnya, sekarang saya naikkan jadi Rp4.000. Kalau enggak begitu, enggak jalan,” ujarnya.
Dia tak menampik ada pengurangan omzet usai penyesuaian harga. Ini karena sebagian besar penjual es teh jumbo di Solo masih mematok harga Rp3.000. “Ya saya cuma bisa berdoa harga plastik bisa normal lagi, karena ini sudah benar-benar membebani usaha kecil.”

Kenaikan harga plastik juga menghantam usaha kecil yang menjajakan produknya melalui lokapasar (marketplace). Seorang penjual makanan kemasan via online di Solo, Vivi, mengungkapkan harga bubble wrap untuk pembungkus barang naik signifikan. “Habis perang itu harga bubble wrap yang 20 meteran naik jadi Rp125.000. Padahal biasanya cuma Rp70.000,” ujarnya.
Dia menyayangkan pemerintah yang terkesan lambat dalam merespons fenomena usaha, terutama yang menyangkut UMKM. “Harga plastik sebenarnya sudah naik sejak pertengahan Maret, tapi pemerintah seperti telat merespons. Ini kabarnya harga plastik bakal naik lagi beberapa hari ke depan,” keluhnya.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso angkat bicara soal keluhan masyarakat terhadap kenaikan harga dan kelangkaan plastik di pasar dalam negeri. Ia memastikan kondisi itu bukan akibat kelalaian distribusi, melainkan imbas langsung dari ketegangan geopolitik yang tengah membayangi kawasan Timur Tengah.
Budi menjelaskan, konflik di sana telah memukul pasokan nafta—bahan baku utama plastik yang selama ini banyak didatangkan Indonesia dari kawasan tersebut. “Ini dampak dari perang. Bahan baku plastik impor dari Timur Tengah,” ujar Budi, dikutip dari Antara.
Kementerian Perdagangan tengah menjajaki sumber impor baru di luar Timur Tengah, termasuk dari benua Afrika, India, dan Amerika Serikat. Kendati langkah itu sudah digulirkan, Budi mengakui hasilnya tidak bisa dirasakan dalam waktu singkat.
Perpindahan sumber impor yang tiba-tiba membutuhkan proses dan waktu penyesuaian. “Memang ini butuh waktu, karena kan tiba-tiba dari Timur Tengah terus pindah ke negara lain. Jadi kami harapkan proses ini bisa berjalan dengan baik, sehingga harga bisa kembali normal,” ucapnya.
Eskalasi Berdampak pada Suplai
Konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang memicu terganggunya distribusi bahan baku plastik dunia. Kawasan ini merupakan pusat produksi minyak dan petrokimia, sehingga setiap eskalasi konflik langsung berdampak pada suplai global. Ketika situasi keamanan memburuk, aktivitas produksi dan ekspor ikut terganggu.
Selain itu, ketegangan geopolitik juga meningkatkan risiko logistik, terutama pada jalur distribusi utama. Hal ini membuat pengiriman menjadi lebih lambat, mahal, dan tidak pasti. Dampaknya terasa cepat di pasar global karena industri petrokimia sangat bergantung pada kelancaran distribusi. Berikut sejumlah fakta terkait kenaikan harga plastik di Indonesia.
-Sejumlah produsen menghentikan produksi karena force majeure.
-Sekitar 70% bahan baku petrokimia Indonesia berasal dari Timur Tengah.
-Selat Hormuz terganggu sebagai jalur distribusi utama.
-Menopang sekitar 25% perdagangan polimer global.
Indonesia menghadapi tekanan yang lebih besar karena masih bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika pasokan global terganggu, negara yang belum mandiri secara industri akan merasakan dampak yang lebih signifikan. Hal ini membuat harga di dalam negeri lebih cepat naik.
Di sisi lain, kapasitas produksi dalam negeri belum mampu menutupi kebutuhan industri. Keterbatasan teknologi, fasilitas, dan variasi produk membuat industri hulu petrokimia Indonesia belum kompetitif dibanding negara lain. Akibatnya, ketergantungan impor sulit dihindari.
Baca Juga: Harga Plastik Naik, Konsumen dan UMKM Perlu Terapkan Kebiasaan Baru
Kenaikan harga plastik memberikan dampak langsung pada industri yang menggunakannya sebagai bahan utama, terutama sektor makanan dan minuman. Industri ini sangat bergantung pada plastik untuk kemasan, sehingga kenaikan harga bahan baku langsung meningkatkan biaya produksi.
Selain perusahaan besar, pelaku usaha kecil dan menengah merasakan tekanan yang signifikan. Tanpa perlindungan kontrak jangka panjang, mereka harus menghadapi kenaikan harga secara langsung. Hal ini memaksa banyak pelaku usaha untuk menaikkan harga jual atau mengurangi margin keuntungan.
-Industri mamin menggunakan plastik hingga 60%–70%.
-Harga kemasan naik 30%–50% di industri.
-Di ritel bisa mendekati 100%.
-Produk terdampak: AMDK, minuman ringan, makanan kemasan.
-UMKM paling rentan terhadap kenaikan harga.
-Harga jual naik, margin turun, daya beli tertekan.
“Bisa dibayangkan, produsen kemasan harus menaikkan harga atau memotong margin keuntungan. Pilihan yang sama-sama berat,” ungkap Direktur Eksekutif Indonesia Packaging Federation (IPF), Henky Wibawa.

Chrisna Chanis Cara
Editor
