Tren Pasar

Pilah Saham MEDC, AKRA, dan PGAS di Tengah Konflik Iran

  • Konflik Israel–Iran memicu lonjakan harga minyak global. Analis melihat peluang pada saham energi MEDC, AKRA, dan PGAS di tengah risiko gangguan pasokan.
image001.jpg
Pertamina Hulu Energi (PHE) Temukan Tiga Cadangan Migas Baru (PERTAMINA)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Eskalasi konflik geopolitik antara Israel dan Iran sejak akhir Februari 2026 kembali memicu ketidakpastian hebat di pasar energi global. Ketegangan di Timur Tengah tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia dari produsen utama dunia.

Setiap peningkatan tensi geopolitik di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga komoditas energi karena posisi Iran yang sangat strategis. Analis CGS International Sekuritas Indonesia, Bob Setiadi dan Rut Yesika Simak, menilai dinamika ini membuka peluang bagi saham MEDC, AKRA, serta PGAS.

Sektor perdagangan distribusi bahan bakar turut menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar modal yang tengah mencari instrumen lindung nilai. "Kami juga percaya AKRA dapat diuntungkan dari spread bensin yang lebih tinggi dan peningkatan pangsa pasar jika terjadi gangguan di pasar kilang global," tulis analis dalam laporan risetnya dikutip pada Kamis, 5 Maret 2026.

  • Baca Juga: Menteri Prabowo Main Saham, Koleksi Siapa Paling Menggurita?

Peran Penting Pasokan Iran

Asal tahu saja, Iran diakui sebagai salah 1 negara produsen sekaligus pemasok utama komoditas minyak mentah dunia saat ini. Negara tersebut berhasil mencatatkan volume tingkat produksi hingga 3.2 juta barel setiap hari pada 2025 yang mencerminkan porsi pasokan sebesar 3% secara global.

Sementara itu, tingkat volume ekspor mereka menembus angka 1.5 hingga 1.6 juta barel setiap harinya dengan mayoritas jalur pengiriman ditujukan menuju China. Produksi energi tersebut telah membaik secara perlahan hingga berhasil mendekati tingkat stabilitas normal sebelum periode tahun 2018 lalu di pasar internasional.

Berkat tingkat produksi raksasa tersebut, setiap ancaman gangguan operasional logistik akan langsung berdampak sangat signifikan terhadap kestabilan rantai pasokan. Hal ini semakin krusial mengingat negara Iran memiliki kendali teritorial secara penuh terhadap perairan Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan dunia.

Risiko Penutupan Selat Hormuz

Kawasan perairan tersebut merupakan jalur lalu lintas titik krusial yang dilewati sekitar 20% pasokan minyak mentah secara global setiap hari. Selain itu, kawasan strategis perairan tersebut juga secara aktif memfasilitasi kelancaran distribusi logistik sekitar 30% hingga 35% volume gas alam cair dunia.

Skenario penutupan jalur laut tersebut terus membayangi pasar energi di tengah ketidakpastian keamanan wilayah yang kian memanas saat ini. "Kami berpikir bahwa penutupan Selat Hormuz akan menjadi upaya terakhir bagi Iran karena hal itu akan merugikan ekspornya sendiri," tulis analis CGS dalam risetnya.

Kendati perairan strategis tersebut masih terbuka secara penuh, gejolak geopolitik telah memberikan dampak buruk bagi biaya asuransi pelayaran global. Para pelaku logistik mengonfirmasi lonjakan harga premi asuransi perlindungan armada kapal komersial saat melintasi jalur tersebut sudah resmi meningkat hingga angka 50%.

Lonjakan Harga Minyak Brent

Ketidakpastian arah konflik militer tersebut langsung mendorong tren kenaikan nilai komoditas energi bursa secara masif di pasar global. Harga acuan minyak mentah Brent terpantau menanjak pesat menuju level US$76,1 per barel atau mencatatkan posisi kenaikan 4,3% pada saat riset tersebut ditulis pada 2 Maret 2026.

Dok/CGS International Sekuritas 

Lonjakan tajam harga terjadi setelah instrumen pasar menyentuh rekor harga tertinggi transaksi harian senilai US$78 per barel. "Kami percaya ini menunjukkan bahwa para investor mengharapkan penyelesaian cepat terhadap konflik ini namun menerapkan premi risiko sebesar US$5-10 per barel untuk ketidakpastian," ujar tim analis.

Jika skenario terburuk berupa penutupan selat terjadi di lapangan, analis percaya harga energi akan berpeluang memecahkan rekor US$100 per barel. Kekacauan tersebut secara otomatis langsung merombak struktur fundamental saham seluruh korporasi pengelola eksplorasi pertambangan nasional yang melantai di bursa lokal.

Dampak Valuasi MEDC

Merespons ketidakpastian pasokan energi global, analis CGS International Sekuritas Indonesia mengambil proyeksi yang relatif konservatif. Mereka menetapkan asumsi harga dasar minyak Brent di kisaran US$65 hingga US$68 per bareluntuk periode 2026 hingga 2027.

Dengan asumsi tersebut, analis kemudian menghitung potensi dampaknya terhadap kinerja emiten energi di dalam negeri, terutama MEDC dan PGAS. “Untuk setiap kenaikan harga minyak sebesar US$5 per barel, kami memperkirakan EPS 2026 MEDC dan PGAS masing-masing dapat meningkat sekitar 20% dan 2%. Sementara dampak pada valuasi tersirat diperkirakan mencapai 9% untuk MEDC dan 2% untuk PGAS,” tulis mereka dalm laporannya.

Berdasarkan proyeksi tersebut, analis merekomendasikan MEDC dengan status add dan target harga Rp1.730. “Kami melihat potensi kenaikan harga saham pada 2026 karena MEDC selama ini menjadi proksi pergerakan harga minyak, yang saat ini sedang naik,” ujar analis.

Peluang Bisnis AKRA dan PGAS

Sementara itu, PGAS juga dinilai masih menarik dengan target harga Rp2.250. Bisnis distribusi gas melalui jaringan pipa dinilai mampu menghasilkan arus kas yang stabil, sehingga dapat membantu mempercepat pelunasan utang sekaligus menjaga kemampuan perusahaan membagikan dividen.

Setali tiga uang, AKRA yang bergerak di bisnis distribusi bahan bakar dan bahan kimia diperkirakan ikut diuntungkan dari dinamika pasar energi global saat ini. CGS mempertahankan rekomendasi add dengan target harga Rp1.530, seiring potensi peningkatan pangsa pasar ketika terjadi gangguan pada pasokan kilang global.

Meski demikian, CGS mengingatkan investor tetap mencermati sejumlah risiko. “Sector upside risk: eskalasi lebih lanjut dari konflik Israel-Iran dan negosiasi tarif AS yang positif. Sector downside risk: perlambatan ekonomi global dan output dari pengembangan minyak dan gas baru,” pungkas mereka.