Tren Ekbis

Perang Iran - Amerika : Dimana Posisi Eropa, China, dan Rusia?

  • Eropa terbelah soal perang Iran. Spanyol tolak AS, NATO bimbang. Lalu di mana posisi China dan Rusia jika konflik ini makin meluas?
perang iran.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID - Perang AS-Israel terhadap Iran yang dimulai 28 Februari 2026 telah memunculkan pertanyaan besar, seberapa jauh Eropa akan terseret? Dan jika benua itu benar-benar bersatu di balik Washington, apa yang akan terjadi? Jawabannya bergantung pada dinamika yang saat ini sedang berlangsung, di mana Eropa justru memperlihatkan wajah yang terbelah, bukan satu suara.

Alih-alih bersatu, respons Eropa dalam konflik ini mencerminkan kepentingan yang berbeda-beda. Prancis mengumumkan akan mengirim sistem antimisil dan antidron ke Siprus, sementara Inggris menyusul dengan pengiriman kapal perang untuk mempertahankan pangkalannya di sana.

Kondisi tersebut bukan berarti Inggris terlibat penuh. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa penggunaan pangkalan Akrotiri semata-mata bersifat defensif. 

Di sisi lain, Spanyol menuai perhatian, Perdana Menteri Pedro Sánchez menyebut serangan AS dan Israel terhadap Iran sebagai intervensi militer yang "tidak dapat dibenarkan" dan "berbahaya", serta memperingatkan bahwa perang ini berisiko menjadi seperti "roulette Rusia" dengan jutaan nyawa. 

Menteri Luar Negeri José Manuel Albares menyatakan bahwa pangkalan militer bersama AS di wilayah Spanyol tidak digunakan dan tidak akan digunakan untuk operasi terhadap Iran.

Baca juga : Harga Minyak Mendidih, ELSA Siap Genjot Aktivitas Hulu

Sikap Madrid memicu konfrontasi langsung dengan Washington. Trump merespons dengan mengancam memutus seluruh hubungan dagang dengan Spanyol, seraya menyebut Madrid "sangat buruk". AS juga merelokasi 15 pesawat, termasuk tanker pengisian bahan bakar, dari pangkalan Rota dan Morón di Spanyol ke Ramstein, Jerman.

Sekjen NATO Mark Rutte mengambil posisi yang lebih mendukung AS, menyebut Iran sebagai "ancaman eksistensial" bagi Israel dan "ancaman besar bagi Eropa". Ia menyatakan bahwa NATO "tidak terlibat langsung" dalam konflik, namun akan mempertahankan setiap jengkal wilayah NATO jika diperlukan.

Para analis dari lembaga kajian keamanan Eropa, European Union Institute for Security Studies (EUISS), menilai situasi ini kritis. Menurut EUISS, serangan AS-Israel telah memicu spiral eskalasi yang berbahaya, memberikan dampak langsung pada keamanan Eropa, dan mengirimkan guncangan ke seluruh Timur Tengah serta pasar minyak global. Eropa, menurut para analis lembaga ini, masih memiliki peran diplomatik penting untuk dimainkan.

Seandainya seluruh negara Eropa, termasuk Spanyol, akhirnya bergabung dalam koalisi militer melawan Iran, para analis memperingatkan konsekuensi yang jauh lebih luas.

Menurut Richard Clarke, mantan pejabat keamanan AS mengungkap bagi Iran, perang ini bersifat eksistensial. Karena itu, Richard sepenuhnya memperkirakan Teheran akan mengaktifkan sel tidur yang dimilikinya di Barat untuk membuat kondisi tersebut menyakitkan bagi AS dan Israel. 

Ancaman energi juga menjadi senjata utama. Pada 2 Maret, QatarEnergy, perusahaan LNG terbesar di dunia, menghentikan produksi setelah menjadi target drone Iran, menyebabkan harga gas di Eropa melonjak hingga 50 persen. Sementara itu, sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia dan seperempat pasokan LNG global melewati Selat Hormuz yang kini terancam.

Posisi China dan Rusia 

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menyatakan bahwa pembunuhan pemimpin tertinggi Iran merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan keamanan Iran serta melanggar tujuan dan prinsip Piagam PBB. 

Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyampaikan kepada mitranya dari Israel bahwa negosiasi antara Washington dan Teheran sebelum perang telah membuat kemajuan signifikan, termasuk menangani kekhawatiran keamanan Israel. 

Wang menegaskan bahwa China menentang setiap serangan militer yang dilakukan Israel dan AS terhadap Iran dan mendesak penghentian segera operasi militer.

Namun di balik kecaman itu, Beijing punya kalkulasi tersendiri. Minyak Iran menyumbang lebih dari 13 persen impor minyak China melalui jalur laut, sebagian besar menuju kilang independen yang memproses minyak tersanksi. 

Namun Xi Jinping memahami bahwa China lebih banyak bergantung pada stabilitas Timur Tengah secara keseluruhan, dari mana negaranya mengimpor sekitar separuh kebutuhan minyaknya.

Jodie Wen, peneliti postdoctoral dari Centre for International Security and Strategy (CISS) Universitas Tsinghua, menegaskan kepada Al Jazeera bahwa Beijing sejak lama menetapkan batasan yang jelas dalam kemitraannya dengan Iran, terutama soal keterlibatan militer.

Xi kemungkinan akan berupaya memposisikan China sebagai kekuatan yang stabil, berbanding terbalik dengan citra AS yang dianggap sebagai sumber ketidakstabilan. Konflik ini juga akan memperkuat alasan Beijing untuk mempertahankan hubungan eratnya dengan Moskow.

Baca juga : Aluminium Naik Efek Perang Iran, ADMR dan ADRO Siap Bullish?

Meskipun Kementerian Luar Negeri Rusia mengutuk serangan tersebut sebagai tindakan agresi bersenjata yang telah direncanakan dan tidak diprovokasi, Putin sendiri tidak berbicara secara publik mengenai situasi ini. Perang di Ukraina telah menguras kapasitas Rusia untuk memproyeksikan kekuatan di luar perbatasannya.

Tapi secara ekonomi, kondisi ini justru menguntungkan Moskow. Harga minyak naik lebih dari 8 persen, dan Kirill Dmitriev, kepala Dana Investasi Langsung Rusia, menulis di X, "Minyak US$100+ per barel segera hadir. Bukan hanya guncangan minyak tapi juga guncangan gas alam." tulis Kirill

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov memperingatkan bahwa tindakan AS dan Israel berpotensi menghasilkan efek sebaliknya dari yang mereka inginkan: mendorong Iran untuk benar-benar mengembangkan senjata nuklir. 

Andrey Kortunov, mantan Direktur Jenderal Russian International Affairs Council dan anggota Valdai Discussion Club, menegaskan kepada Al Jazeera bahwa Rusia tidak memiliki kewajiban untuk terlibat secara militer membela Iran, karena perjanjian yang ada antara kedua negara tidak mencakup klausul pertahanan bersama, berbeda dengan perjanjian Rusia dengan Korea Utara yang lebih mengikat.

Laporan dari Special Eurasia, lembaga analisis geopolitik independen, menyimpulkan bahwa meskipun Rusia dan China telah berperan sebagai "mata" bagi Iran dengan menyediakan aset strategis berteknologi tinggi, mulai dari pengawasan orbital hingga panduan rudal lanjutan, keduanya tidak mampu membiarkan Iran runtuh karena hal itu akan merepresentasikan "Skakmat terhadap jembatan darat Eurasia". Namun keterlibatan militer langsung tetap merupakan garis merah yang tidak akan mereka lewati.