Aluminium Naik Efek Perang Iran, ADMR dan ADRO Siap Bullish?
- Harga aluminium naik 5% dampak konflik Iran. Analis menyarankan pengamatan terhadap pergerakan saham ADMR, ADRO, dan CITA terkait kenaikan harga komoditas.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan pasukan Iran sejak akhir Februari 2026 kembali memicu kepanikan luar biasa. Ketegangan geopolitik itu secara langsung mengganggu stabilitas rantai pasokan komoditas aluminium utama di pasar perdagangan internasional.
Data yang dihimpun oleh Stockbit Sekuritas pada perdagangan hari Kamis tanggal 5 Maret, harga komoditas aluminium telah ditutup sangat kuat menembus posisi level US$3.296 per metrik ton. Transaksi tersebut mencerminkan lonjakan kenaikan harga mencapai 5% sejak dimulainya eskalasi ketegangan militer internasional tersebut.
Tren kenaikan nilai transaksi tersebut sukses membawa penguatan sepanjang tahun berjalan hingga menyentuh angka 10%. Lonjakan drastis harga jual logam ini sepenuhnya dipicu oleh parahnya gangguan pasokan besar dari 2 fasilitas produsen utama pengolah material di kawasan Teluk.
Kelumpuhan Smelter Aluminium Bahrain
Fasilitas pengolahan raksasa milik perusahaan Aluminium Bahrain atau Alba tercatat mengalami gangguan yang sangat krusial. Perusahaan yang mengoperasikan pabrik peleburan logam terbesar di luar kawasan negara China tersebut secara resmi telah menyatakan status keadaan kahar kepada seluruh mitra bisnis mereka.
Keputusan drastis tersebut terpaksa diambil usai pihak manajemen menghentikan seluruh aktivitas pengiriman barang. Hal ini diakibatkan oleh terganggunya jalur pelayaran logistik armada kapal kargo di perairan Selat Hormuz di mana sebanyak 9% volume produksi aluminium dunia rutin melewati rute tersebut.
Research Analyst Stockbit Sekuritas Theodorus Melvin mengungkapkan dominasi kawasan ini sangat vital dalam menyuplai material bagi seluruh keperluan struktur industri global. “UEA dan Bahrain merupakan negara surplus aluminium terbesar ke-4 dan ke-5 secara global,” tulis Melvin dalam risetnya pada Jumat, 6 Maret 2026.
Operasi Pabrik Qatalum Terhenti
Selain krisis fasilitas produksi di wilayah Bahrain, pukulan telak juga menimpa kawasan Timur Tengah lainnya. Perusahaan logam raksasa Qatalum dilaporkan telah menghentikan seluruh aktivitas operasi pabrik peleburan aluminium miliknya di negara Qatar akibat adanya insiden terputusnya jalur pasokan distribusi gas.
Penghentian fasilitas industri yang memproduksi ribuan ton komoditas logam tersebut diproyeksikan akan berlangsung lama. Pihak manajemen perusahaan mengonfirmasi adanya perkiraan penghentian mesin peleburan secara penuh pada akhir bulan Maret 2026 akibat eskalasi dampak perang yang sedang menghantam rantai pasokan global.
Kerusakan sistem imbas terhentinya bahan bakar utama ini membutuhkan waktu penanganan teknis yang amat panjang. Otoritas pabrik meyakini bahwa proses pemulihan operasional baru bisa diselesaikan sepenuhnya dalam kurun waktu 6 hingga 12 bulan mendatang sebelum fasilitas peleburan tersebut kembali menyala.
Dampak Logistik Pada Harga Global
Menariknya, bencana terhentinya pasokan komoditas di wilayah Timur Tengah ini justru membawa kepastian harga. Kombinasi mematikan antara gangguan arus pengiriman serta matinya perapian pabrik tersebut dinilai sangat berpotensi kuat untuk menopang ketahanan harga jual pada instrumen bursa komoditas internasional saat ini.
Ketidakpastian jadwal pemulihan operasi 2 fasilitas peleburan terbesar tersebut memicu kepanikan luar biasa di kalangan importir logam. Para pembeli mulai memborong sisa persediaan material yang ada di gudang pasar fisik guna memastikan agar lini produksi pabrik elektronik mereka tetap berjalan.
Melonjaknya kebutuhan tanpa diimbangi pasokan mumpuni langsung mendorong penguatan performa harga dengan sangat cepat. Dinamika tersebut disoroti tajam. "Kombinasi gangguan logistik dan berkurangnya kapasitas smelter di kawasan ini berpotensi menopang harga aluminium dalam jangka pendek," ungkapnya.
Peluang Saham ADMR dan ADRO
Potensi pergerakan harga komoditas logam ini membuka peluang cuan emas bagi pelaku industri tambang mineral nasional. Dinamika krisis kawasan tersebut secara langsung dinilai akan menjadi pendorong sentimen positif yang sangat kuat bagi emiten saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR).
Momentum melambungnya nilai transaksi aluminium juga menjadi katalis utama bagi induk perusahaannya yakni PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO). Perusahaan raksasa energi tersebut dipastikan menerima aliran keuntungan karena mereka tercatat memiliki sebanyak 85% porsi kepemilikan saham pada entitas anak korporasinya.
Emiten logam PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) juga diproyeksikan akan menikmati aliran keuntungan yang amat melimpah. Kinerja saham perusahaan ini berpeluang meroket seiring dengan potensi besar melonjaknya angka rata-rata harga jual produk komoditas aluminium pada sepanjang operasional tahun ini.
Target Besar Kalimantan Aluminium
Prospek cerah ketiga perusahaan raksasa tambang domestik tersebut sangat berkaitan erat dengan mega proyek strategis di Pulau Kalimantan. Emiten ADMR dan CITA saat ini diketahui memiliki masing-masing sekitar 65% serta 12,5% porsi penguasaan saham mayoritas di dalam sebuah entitas gabungan.
Entitas korporasi gabungan strategis tersebut bernama PT Kalimantan Aluminium Industry yang kini sedang sibuk melakukan pengembangan peleburan raksasa. Pabrik pengolahan mutakhir tersebut didesain memiliki batas kapasitas hingga mencapai angka 500.000 ton produk logam per tahun pada penyelesaian tahap pertama pembangunannya.
Proyek ambisius ini kemudian akan ditargetkan melonjak drastis hingga menyentuh kapasitas maksimal mencapai 1.500.000 ton pada periode berikutnya. Evaluasi target jangka pendek sangatlah jelas. "Pada 2026, KAI menargetkan produksi 300.000 ton aluminium," pungkas Melvin menutup laporan risetnya.

Alvin Bagaskara
Editor
