Per Oktober, Nilai Ekspor Produk Kakao Olahan Terkontraksi 15,59%
- JAKARTA -Kementerian Perindustrian mencatat nilai ekspor produk kakao olahan nasional naik 10,8% sebesar USD1,12 miliar atau naik dibanding tahun sebelumnya yan

Yosi Winosa
Author


JAKARTA -Kementerian Perindustrian mencatat nilai ekspor produk kakao olahan nasional sepanjang Januari - Oktober 2021 mencapai US$787 juta atau setara Rp 11,3 triliun, melambat 15,59% dibanding Januari - Oktober 2020 lalu.
Adapun sepanjang tahun 2020 lalu, ekspor produk olahan kakao Indonesia naik 10,8% menjadi US$1,12 miliar atau setara Rp16,1 triliun (asumsi kurs Rp14.400 per dollar AS) dibanding tahun 2019 yang yang mencapai US$1,01 miliar atau setara Rp14,4 triliun.
Produk ekspor kakao olahan tersebut mencakup liquor, butter, bubuk, dan cake dengan tujuan utama di antaranya Amerika Serikat, Belanda, India, Jerman dan China.
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika menyatakan produk kakao olahan Indonesia dinilai berdaya saing di kancah global karena industrinya telah memiliki standar internasional. Bahkan, produk kakao olahan Indonesia seperti cokelat memiliki cita rasa yang khas.
Hal ini terjadi lantaran olahan tersebut telah didukung dengan memanfaatkan teknologi modern sehingga terciptanya inovasi produk yang unik dan beragam sesuai selera konsumen saat ini.
Saat ini Indonesia menjadi salah satu produsen kakao olahan terbesar di dunia. Kekuatan ini ditopang dari 11 industri pengolahan kakao dengan total kapasitas terpasang mencapai 739 ribu ton per tahun dan ketersediaan bahan baku yang melimpah di dalam negeri.
Menurut laporan International Cocoa Organization (ICCO) pada tahun 2018/2019, produksi biji kakao Indonesia mencapai 220 ribu ton. Indonesia sebagai penghasil biji kakao terbesar keenam di dunia, dibawah Belanda dan Pantai Gading.
- Investor Merapat! Indosat Bakal Bagikan Lagi Dividen Rp4,5 Triliun
- Review Pasar Modal Sepekan: IHSG Koreksi 2,36 Persen
- Penasaran? Inilah Bocoran Spoiler dari Trailer Spider-Man: No Way Home
“Kami mendorong untuk penggunaan teknologi industri kakao yang inovatif, efektif dan ramah lingkungan sehingga produktivitas dan kualitias kakao Indonesia meningkat,” kata Putu kepada TrenAsia, Minggu (28/11/021).
Menurut Putu, produk-produk kakao olahan merupakan bahan baku untuk menghasilkan produk makanan dan minuman berbasis cokelat seperti permen cokelat, biskuit, wafer, roti, dan es krim. Produk tersebut dihasilkan oleh industri pengolahan skala besar serta sektor industri kecil dan menengah (IKM).
Tingkatkan Kemitraan
Putu menambahkan, industri pengolahan kakao ikut berperan penting dalam menumbuhkan wirausaha industri baru, seperti IKM cokelat. Selain itu meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya para petani kakao yang menjadi mitra perusahaan pengolahan kakao.
“Contohnya PT Aneka Coklat Kakao, perusahaan asli Indonesia yang beroperasi di Bandar Lampung,” tambah Putu.
Perusahaan yang berdiri sejak tahun 2013 ini memproduksi fine chocolate products, dengan bisnis proses “Farmer to Bar”, yang memiliki sumber penyedia biji kakao di Lampung, Bali, dan Sulawesi. Saat ini, sudah ada sekitar 1.000 lebih petani yang bekerjasama dengan PT Aneka Coklat Kakao, dan ditargetkan akan mencapai 2.000 petani.
- Pertamina Datangkan Pebalap Bo Bendsneyder ke MotoGP 2022 di Mandalika
- Jangan Langsung Beli, Inilah 6 Barang yang Bisa Dipinjam Agar Anda Semakin Hemat
- Bukan Sea Grup, Bank Bumi Arta Malah Dicaplok Ajaib 24 Persen
Sistem farmer to bar yang diterapkan PT Aneka Coklat Kakao terdiri dari training, harvesting (panen), fermentasi, pengeringan, sorting, roasting, winnowing (pemisahan biji dengan cocoa shell), grinding/refining, tempering/molding, dan wrapping.
Menurut Putu, salah satu cara menjaga pasokan kakao yang berkelanjutan, yaitu dengan meningkatkan produksi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Oleh sebab itu, perlu kemitraan industri pengolahan kakao dengan petani kakao.
“Kemitraan yang terjalin di antara industri dan petani dapat memperkuat industri kakao di dalam negeri dan memajukan para petani kakao sekaligus perekonomian Indonesia,” ujarnya.
Founder dan CEO PT Aneka Coklat Kakao, Sabrina Mustopo menyatakan bahwa pihaknya bertekad untuk berkontribusi bagi penguatan dan pemberdayaan para petani kakao lokal, serta aktif memperhatikan keberlanjutan lingkungan hidup. Upaya ini membuahkan hasil, perusahaannya meraih penghargaan medali Silver dan Bronze untuk kategori packaging, Krakakoa Limited Edition Single Origin Gift set, Tree to Bar, Dark Chocolate dan Dark Milk Chocolate Creamy Coffee dari Academy of Chocolate (AOC) di London, Inggris pada tahun 2017 dan 2018.
PT Aneka Coklat Kakao pada tahun 2016 mengganti brand mereka Kakao menjadi Krakakoa. Bisnis proses Krakakoa meliputi sektor hulu sampai hilir, dari proses pertanian hingga produksi produk cokelat.
Krakaoa saat ini merupakan salah satu brand artisan yang berhasil membawa cokelat asli Indonesia untuk bisa dikenal di berbagai belahan dunia, seperti di Singapura, Korea, Jepang, dan beberapa negara di Eropa. Untuk di Indonesia sendiri, cokelat dengan kemasan unik ini sudah bisa ditemukan di supermarket-supermarket premium di kota-kota besar di Tanah Air.
Kemasan dari Krakakoa terbilang unik karena menggunakan desain bermotif batik dan hewan-hewan khas Indonesia yang dilindungi.
“Desain packaging pun kami sesuaikan dengan motif yang Indonesia banget. Jadi melalui packaging juga kami mencoba perkenalkan cokelat Indonesia,” kata Sabrina.
Berbicara soal produk, Krakakoa memiliki beragam varian jenis dan cita rasa cokelat. Untuk jenisnya dibedakan menjadi flavoured bars, single origin bars, chocolate bark, gourmet nibs, dan blinkies. Sedangkan untuk cita rasanya terdiri dari chili dark chocolate, sea salt & pepper dark chocolate, cinnamon dark milk chocolate, ginger dark milk chocolate, dan creamy coffee milk chocolate.

Rizky C. Septania
Editor
