Paradoks Literasi Indonesia: Malas Baca, Sering Pakai AI
- Adopsi AI di Indonesia tumbuh pesat, sementara skor literasi membaca dan kegemaran membaca masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Merayakan Hari Kunjung Perpustakaan yang diperingati setiap 14 September, Indonesia menghadapi paradoks di tengah percepatan transformasi digital.
Di satu sisi, kemampuan membaca dan kegemaran membaca masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah. Di sisi lain, penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) justru tumbuh pesat dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemimpin adopsi AI di Asia Tenggara.
Kontras tersebut menunjukkan jika persoalan literasi Indonesia saat ini bukan lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis. Tantangannya semakin luas, yakni bagaimana masyarakat mampu memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi serta teknologi secara kritis.
Salah satu gambaran kemampuan membaca terlihat dari hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022. Berdasarkan data OECD, siswa Indonesia berusia 15 tahun memperoleh skor rata-rata 359 poin dalam kemampuan membaca, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 476 poin.
Data tersebut menggambarkan tantangan literasi yang lebih kompleks daripada sekadar kemampuan mengenali huruf. Dalam konteks PISA, literasi membaca mencakup kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan, dan terlibat dengan teks.
Baca juga : Sido Muncul Kembali Salurkan Bantuan Korban Gempa Bumi NTT
Kondisi serupa terlihat dari indikator kegemaran membaca masyarakat. Perpustakaan Nasional mencatat Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional 2025 sebesar 54,8, yang masih berada dalam kategori rendah. Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz juga menyoroti persoalan kemampuan membaca teks panjang dan dampaknya terhadap kemampuan analisis.
Artinya, tantangan literasi Indonesia bukan hanya membuat masyarakat membaca lebih banyak, tetapi juga membangun kebiasaan membaca secara mendalam dan memahami informasi yang dikonsumsi.
Menurut data World Population Review 2025, waktu yang dihabiskan masyarakat Indonesia untuk membaca rata-rata mencapai 129 jam dalam setahun. Durasi tersebut masih jauh di bawah India yang mencapai 352 jam dan Amerika Serikat sebesar 357 jam per tahun.
"Salah satu problem utama literasi di Indonesia bukan semata ketiadaan minat baca, juga masih rendahnya tingkat ketersediaan dan keterjangkauan akses terhadap bahan bacaan yang bermutu," ujar Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, dikutip Senin, 14 September 2026.
Indonesia Justru Memimpin Adopsi AI
Di tengah persoalan tersebut, perkembangan penggunaan AI di Indonesia menunjukkan arah yang sangat berbeda. Laporan e-Conomy SEA 2025 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company menunjukkan Indonesia memiliki momentum adopsi AI yang sangat kuat.
Pendapatan aplikasi berbasis AI di Indonesia tumbuh 127% pada paruh pertama 2025 dibandingkan periode yang sama 2024, menjadi pertumbuhan tertinggi di Asia Tenggara.
Indonesia juga mencatat tingkat interaksi harian yang tinggi dengan AI. Sebanyak 80% pengguna di Indonesia berinteraksi dengan AI setiap hari, sementara 79% pengguna aktif menyatakan mempelajari atau meningkatkan keterampilan yang berkaitan dengan AI.
Fenomena ini menunjukkan masyarakat Indonesia relatif cepat mengadopsi teknologi baru. AI digunakan untuk mencari informasi, membuat konten, meningkatkan produktivitas, hingga mempelajari keterampilan baru. Namun, tingginya penggunaan AI tidak otomatis menunjukkan tingginya literasi AI.
Inilah paradoks yang perlu mendapat perhatian. Masyarakat dapat menggunakan chatbot AI untuk mencari jawaban, membuat tulisan, menerjemahkan dokumen, atau menghasilkan gambar.
Tetapi kemampuan tersebut berbeda dengan kemampuan untuk memeriksa kebenaran informasi, memahami bias, mengevaluasi sumber, dan mengetahui keterbatasan AI.
Baca juga : Gandeng UI, Kredivo Rilis Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi
Tanpa kemampuan tersebut, AI berpotensi membuat masyarakat semakin cepat memperoleh informasi yang keliru. Karena itu, literasi membaca menjadi semakin penting di era AI.
Kemampuan membaca tidak berhenti pada memahami kalimat, tetapi juga mencakup kemampuan bertanya siapa sumber informasi tersebut, apa buktinya, apakah konteksnya lengkap, dan apakah informasi tersebut dapat dipercaya.
Dengan kata lain, AI dapat mempercepat proses memperoleh informasi, tetapi literasi menentukan apakah informasi tersebut dipahami dengan benar.
Dalam konteks tersebut, perpustakaan seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tempat menyimpan buku. Perpustakaan dapat menjadi ruang untuk membangun budaya membaca, pembelajaran sepanjang hayat, dan kemampuan memilah informasi.
Perpusnas sendiri menegaskan literasi merupakan fondasi dalam membangun sumber daya manusia unggul dan memperkuat ketahanan nasional. Persoalan ketersediaan sumber bacaan juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan literasi masyarakat.
Perpustakaan juga perlu beradaptasi dengan perubahan perilaku masyarakat. Kehadiran koleksi digital, akses internet, ruang belajar, diskusi, pelatihan literasi digital, hingga edukasi penggunaan AI dapat membuat perpustakaan semakin relevan bagi generasi muda.
Baca juga : BRICS Dorong Mata Uang Lokal, Apa Dampaknya bagi Rupiah?
Hari Kunjung Perpustakaan yang diperingati setiap 14 September dapat menjadi momentum untuk melihat kembali hubungan antara membaca dan teknologi.
AI dapat membantu seseorang mencari dan mengolah informasi secara cepat. Namun, buku, jurnal, perpustakaan, dan sumber pengetahuan yang kredibel tetap diperlukan untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam.
Indonesia kini memiliki modal berupa masyarakat yang cepat mengadopsi teknologi. Tantangannya adalah memastikan kecepatan tersebut berjalan bersama peningkatan kualitas literasi.
Sebab, masyarakat yang mampu menggunakan AI tetapi tidak mampu mengevaluasi informasi akan menjadi konsumen teknologi. Sebaliknya, masyarakat dengan kemampuan membaca, berpikir kritis, dan memahami AI dapat menjadi pengguna teknologi yang lebih mandiri dan produktif.

Chrisna Chanis Cara
Editor
