Tren Global

Papua di Antara Amazon dan Kongo: Hutan Terakhir yang Menentukan Iklim Global

  • Hutan Papua menyumbang sepertiga hutan Indonesia. Bandingkan perannya dengan Amazon dan Cekungan Kongo sebagai paru-paru dunia penentu iklim global.
Reserve-de-Supayang-JM-Bouve-2013-21-homepage1.jpg
Salah satu lansekap hutan di Indonesia. (Kalaweit)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Hutan hujan tropis dunia saat ini bertumpu pada tiga bentang alam raksasa, yakni Amazon di Amerika Selatan, Cekungan Kongo di Afrika Tengah, dan Papua di Indonesia. 

Ketiganya kerap disebut sebagai paru-paru dunia karena perannya yang krusial dalam menyerap karbon, menjaga keseimbangan iklim, serta menopang keanekaragaman hayati global. 

Meski sama-sama berstatus hutan hujan tropis, ketiga kawasan ini memiliki skala, karakter ekologis, dan tekanan pembangunan yang sangat berbeda, sehingga kontribusi dan tantangannya tidak dapat disamakan.

Papua, Jantung Hutan Terakhir Indonesia

Papua merupakan wilayah dengan tutupan hutan terluas dan paling utuh di Indonesia. Berdasarkan pemetaan Badan Informasi Geospasial (BIG) tahun 2022, luas kawasan hutan di Papua mencapai sekitar 33,12 juta hektare atau setara 331.200 kilometer persegi. 

Angka ini menunjukkan bahwa Papua menyumbang sekitar 32,2 persen dari total hutan nasional Indonesia yang luasnya diperkirakan mencapai 102,3 juta hektare. Dengan kata lain, satu dari setiap tiga hektare hutan Indonesia berada di tanah Papua, menjadikannya tulang punggung ekologi nasional.

Tingkat tutupan hutan di Papua juga tergolong sangat tinggi. Dari total daratan Papua yang luasnya sekitar 44,6 juta hektare, lebih dari 74 persen masih tertutup hutan.

Persentase ini jauh melampaui rata-rata tutupan hutan nasional Indonesia yang berada di kisaran 49 hingga 50 persen. Kondisi tersebut menempatkan Papua sebagai salah satu bentang alam hutan tropis paling utuh yang tersisa di dunia saat ini.

Dari sisi iklim, hutan Papua berperan sebagai penyimpan karbon dalam jumlah sangat besar, terutama melalui hutan hujan dataran rendah, hutan pegunungan, serta ekosistem lahan gambut tropis di Papua bagian selatan. 

Berbagai kajian memperkirakan cadangan karbon yang tersimpan di Papua berada pada kisaran 13 hingga 15 miliar ton karbon dioksida ekuivalen, dengan rata-rata stok karbon mencapai 150 hingga 200 ton karbon per hektare. 

Angka ini menegaskan bahwa setiap hektare hutan Papua memiliki nilai strategis yang sangat tinggi dalam mitigasi perubahan iklim.

Selain fungsi iklim, Papua juga merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia. Kawasan ini diperkirakan menjadi habitat bagi sekitar 10 persen spesies tumbuhan dunia, 12 persen mamalia global, dan 17 persen spesies burung di planet ini. 

Tingkat endemisitasnya sangat tinggi, dengan banyak spesies yang hanya ditemukan di Papua, seperti burung cenderawasih, kanguru pohon, dan ratusan jenis anggrek hutan.

Baca juga : Riset Setahun MBG, 34,2 Persen Anggaran Potensi Salah Sasaran

Amazon, Raksasa Hutan Tropis Dunia

Amazon dikenal sebagai hutan hujan tropis terbesar di dunia dan kerap menjadi tolok ukur utama dalam perdebatan global mengenai krisis iklim. 

Secara historis, Amazon memiliki luas sekitar 6,7 juta kilometer persegi, namun akibat deforestasi yang berlangsung selama beberapa dekade, luas hutannya kini menyusut menjadi sekitar 5,5 juta kilometer persegi. 

Sekitar 60 persen kawasan Amazon berada di wilayah Brasil, sementara sisanya tersebar di delapan negara Amerika Selatan lainnya.

Jika dibandingkan secara langsung, luas Amazon sekitar 16 kali lebih besar daripada hutan Papua dan hampir tiga kali lipat lebih luas dibandingkan kawasan hutan di Republik Demokratik Kongo. 

Dari sisi iklim global, Amazon menyimpan sekitar 100 hingga 120 miliar ton karbon dalam biomassa dan tanah, atau sekitar 10 persen dari total simpanan karbon hutan dunia.

Namun, tekanan terhadap Amazon semakin berat dalam satu dekade terakhir. Laju deforestasi tahunan berada di kisaran 7.000 hingga 10.000 kilometer persegi per tahun, terutama akibat pembukaan lahan untuk peternakan, pertanian skala besar, serta kebakaran hutan. 

Sejumlah studi menunjukkan beberapa bagian Amazon kini telah beralih dari penyerap karbon menjadi sumber emisi karbon bersih. Padahal, Amazon memiliki peran penting dalam membentuk fenomena “flying rivers”, yakni aliran uap air yang mengatur curah hujan di sebagian besar Amerika Selatan.

Baca juga : Riset Setahun MBG, 34,2 Persen Anggaran Potensi Salah Sasaran

Cekungan Kongo

Cekungan Kongo merupakan hutan hujan tropis terbesar kedua di dunia dan saat ini dipandang sebagai penyerap karbon tropis paling stabil secara global. 

Secara regional, kawasan ini membentang seluas sekitar 3,3 juta kilometer persegi dan mencakup enam negara di Afrika Tengah. Republik Demokratik Kongo menjadi jantung kawasan ini dengan luas hutan sekitar 1,82 juta kilometer persegi, atau sekitar 65 persen dari total Cekungan Kongo.

Keunggulan utama Cekungan Kongo terletak pada keberadaan lahan gambut tropisnya yang sangat luas. Lahan gambut di kawasan ini diperkirakan mencakup area sekitar 145.000 kilometer persegi dan menyimpan sekitar 30 miliar ton karbon. 

Jika dikonversikan ke karbon dioksida ekuivalen, jumlah tersebut setara dengan sekitar 20 tahun emisi karbon global dari sektor energi.

Berbeda dengan Amazon yang mulai menunjukkan gejala pelemahan fungsi penyerap karbon, hutan di Cekungan Kongo hingga kini masih berfungsi sebagai carbon sink bersih. 

Selain itu, kawasan ini berperan sebagai mesin pembentuk hujan bagi benua Afrika, memengaruhi pola curah hujan hingga wilayah Afrika Timur dan Sahel. Gangguan besar terhadap hutan Kongo berpotensi memicu kekeringan ekstrem di sebagian Afrika.

Baca juga : Pesta Pora Dividend Hunter: BMRI Tebar Tunai Rp9,3 Triliun

Perbandingan Kuantitatif Tiga Hutan Dunia

Jika dilihat secara kuantitatif, perbedaan peran ketiga hutan ini menjadi semakin jelas. Hutan Papua memiliki luas sekitar 331.200 kilometer persegi dan menyumbang sekitar dua persen dari total hutan tropis dunia, dengan cadangan karbon diperkirakan mencapai 13 hingga 15 miliar ton karbon dioksida ekuivalen. 

Amazon, dengan luas sekitar 5,5 juta kilometer persegi, menyumbang hampir 40 persen hutan tropis dunia dan menyimpan sekitar 100 hingga 120 miliar ton karbon.

Sementara itu, Cekungan Kongo mencakup sekitar 1,82 juta kilometer persegi hutan di RD Kongo saja, dengan keunggulan cadangan karbon gambut sekitar 30 miliar ton karbon.

Meski sama-sama vital, ketiga kawasan ini menghadapi ancaman dengan karakter yang berbeda. Di Papua, tekanan utama datang dari ekspansi industri berskala besar seperti perkebunan kelapa sawit, penebangan hutan, dan proyek infrastruktur. 

Meski demikian, Papua masih memiliki peluang besar untuk dipertahankan sebagai benteng terakhir hutan Indonesia apabila tata kelola lahan dan pengakuan hak masyarakat adat diperkuat.

Amazon berada pada titik kritis yang sering disebut sebagai tipping point. Para ilmuwan memperingatkan bahwa jika deforestasi melampaui ambang 20 hingga 25 persen dari total luasnya, sebagian Amazon dapat mengalami keruntuhan ekologis permanen. 

Adapun masa depan Cekungan Kongo sangat bergantung pada stabilitas politik dan upaya pengentasan kemiskinan. Tanpa perbaikan kesejahteraan masyarakat, tekanan terhadap hutan di kawasan ini diperkirakan akan terus meningkat.