Pasar Modal

Mirae Sematkan Rating Overweight Untuk Sektor Unggas, JPFA dan MAIN Masih Jadi Unggulan

  • Rata-rata harga ayam broiler bulanan di wilayah Jawa pada bulan April berada pada kisaran Rp21.600 per kilogram atau naik 14,3% secara bulanan, dan melonjak 98,4% secara tahunan.

<p>Ilustrasi peternakan ayam. Sumber: ayamkita.com</p>

Ilustrasi peternakan ayam. Sumber: ayamkita.com

(Istimewa)

JAKARTA – Memasuki momen Ramadan dan Idulfitri, harga ayam broiler cenderung mengalami peningkatan. Hal ini tentu menjadi angin segar tersendiri bagi peternak hingga emiten yang bergerak di sektor unggas.

Rata-rata harga ayam broiler bulanan di wilayah Jawa pada bulan April berada pada kisaran Rp21.600 per kilogram atau naik 14,3% secara bulanan, dan melonjak 98,4% secara tahunan.

Sedangkan, harga bibit ayam ternak (day old chicken/DOC) di Jawa Barat berada pada harga Rp7.100 per ekor atau naik 57,5% secara tahunan.

Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Emma A. Fauni menungkapkan bahwa harga ayam broiler kembali menuju harga normal pada harga Rp18.000 per kilogram saat memasuki Mei 2021. Meskipun begitu, menurutnya hal ini masih memberikan keuntungan bagi para peternak broiler.

“Ini kami anggap masih berada pada level yang sangat baik bagi peternak untuk memperoleh margin keuntungan yang sehat,” ujarnya melalui riset harian yang diterima TrenAsia.com, Senin 17 Mei 2021.

Selain itu, ia menilai pemulihan harga broiler dan DOC turut mendongkrak kinerja sejumlah emiten yang bergerak pada sektor perunggasan atau poultry, seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN).

Hal itu ditunjukkan oleh hasil pendapatan spektakuler yang dicatatkan oleh kedua emiten tersebut pada akhir 2020. Dengan masih positifnya laporan laba bersih JPFA dan MAIN di kuartal I-2021, Emma meyakini momentum laba bersih yang kuat akan terus berlanjut ke depannya.

Meskipun harga saham perusahaan unggas cukup tertekan dalam dua minggu terakhir akibat didorong oleh sentimen negatif terkait impor ayam karkas, namun bagi dia daging broiler Brasil akan kurang kompetitif dibandingkan dengan broiler lokal.

“Oleh karena itu, kami kira sentimen ini sifatnya jangka pendek dan memberikan peluang pembelian,” tambah Emma.

Dengan analisis tersebut, Mirae mempertahankan stance overweight sejalan dengan prediksi pemulihan di sektor perunggasan yang akan terus berlanjut.

Adapun alasan Emma mengunggulkan saham JPFA karena memiliki sejarah ekspansinya, selain menjadi penerima manfaat utama dari pemulihan sektor.

Ia turut memberikan rating buy untuk saham JPFA dengan take profit Rp2.500 per lembar. Selain JPFA, Emma juga merekomendasikan saham MAIN sebagai the next play di sektor poultry dengan peringkat trading buy dan take profit Rp1.060 per lembar saham. (SKO)