Tren Global

Miliki 440 kg Uranium, Iran Bisa Produksi 10 Bom Nuklir

  • IAEA laporkan Iran punya 440,9 kg uranium 60%. Belum bisa jadi bom, namun jika diperkaya ke 90% berpotensi cukup untuk 10–12 hulu ledak nuklir.
t-penguin-mld26nIul0c-unsplash.jpg
Ilustrasi Bom Nuklir (unsplash)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Laporan terbaru International Atomic Energy Agency (IAEA) pada akhir Februari 2026 menyebutkan bahwa Iran memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Jumlah tersebut dinilai signifikan karena mendekati tingkat kemurnian yang biasa dikaitkan dengan kebutuhan senjata nuklir, yakni sekitar 90 persen.

Data tersebut termuat dalam laporan rahasia IAEA yang kemudian dilihat dan dikutip sejumlah kantor berita internasional, termasuk Associated Press dan Reuters. Laporan ini dirilis menjelang pertemuan Dewan Gubernur IAEA pada awal Maret 2026.

Menurut estimasi sebelum serangan militer Amerika Serikat (AS) pada Juni 2025, IAEA memperkirakan stok uranium Iran yang telah diperkaya hingga 60 persen mencapai 440,9 kg. Beberapa sumber sempat menyebut angka mendekati 460 kg, namun angka 440,9 kg paling sering dikutip dalam dokumen resmi.

Secara teknis, uranium yang diperkaya hingga 60% tidak bisa langsung digunakan untuk membuat bom nuklir, karena senjata nuklir berbasis uranium umumnya memerlukan tingkat kemurnian sekitar 90% U-235 (highly enriched uranium/HEU).

Namun,  jumlah 440,9 kg jika diperkaya lebih lanjut ke tingkat sekitar 90 %, secara teoritis dapat menghasilkan material fisil untuk sekitar 10 hingga 12 hulu ledak nuklir, tergantung pada desain dan efisiensi perangkat.

Dikutip laman Arab Times Kuwait, Kamis, 4 Maret 2026, Sebagian stok uranium tersebut dilaporkan disimpan di kompleks terowongan bawah tanah di fasilitas nuklir Isfahan. Fasilitas ini termasuk yang menjadi target serangan Amerika Serikat dan Israel pada Juni 2025.

Sejak serangan itu, IAEA menyatakan tidak lagi memiliki akses langsung ke fasilitas yang terdampak. Akibatnya, badan pengawas nuklir PBB kehilangan apa yang disebut sebagai “kontinuitas pengetahuan” atas material nuklir Iran.

Baca juga : 10 Saham Konglo Runtuh, Imbas Sentimen Iran

IAEA menyebut mereka kini hanya dapat memantau aktivitas di sekitar lokasi melalui citra satelit, tanpa verifikasi langsung terhadap jumlah, lokasi pasti, dan komposisi material yang ada.

Tingkat pengayaan 60 % jauh melampaui batas 3,67 persen yang ditetapkan dalam kesepakatan nuklir 2015, yaitu Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Iran berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai, termasuk untuk energi dan riset medis. Namun negara-negara Barat tetap menyuarakan kekhawatiran bahwa tingkat pengayaan tinggi tersebut dapat memperpendek waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi senjata nuklir jika keputusan politik diambil.

Apakah Iran Bisa Jadi Bom Atom?

Berdasarkan laporan U.S. Department of Energy (DOE), Office of Nuclear Energy, bila dihitung secara teknis, 400 kg uranium yang diperkaya hingga 60% tidak dapat langsung digunakan sebagai bahan inti bom nuklir karena senjata berbasis uranium umumnya memerlukan tingkat kemurnian sekitar 90% U-235 atau highly enriched uranium (HEU). 

Level 60% masih berada di bawah ambang yang secara umum dikaitkan dengan material tingkat senjata. Oleh karena itu, dalam kondisi tersebut, uranium tersebut belum bisa langsung difungsikan sebagai inti perangkat nuklir.

Meski demikian, level 60% dianggap sangat dekat secara teknis dengan tingkat senjata. Dalam proses pengayaan uranium, tahapan awal dari kadar rendah (sekitar 3–5%) menuju kadar menengah membutuhkan usaha yang jauh lebih besar dibandingkan peningkatan dari 60% ke 90%. 

Karena itu, ketika suatu negara telah mencapai 60%, waktu dan upaya tambahan untuk mencapai 90% relatif lebih singkat dibandingkan tahap-tahap sebelumnya. Inilah yang membuat level 60% sering disebut sebagai posisi “ambang” dalam isu proliferasi nuklir.

Dalam berbagai analisis terbuka, sering dikutip bahwa sekitar 25 kg uranium dengan kemurnian 90% dapat cukup untuk satu perangkat nuklir sederhana, meskipun angka ini sangat bergantung pada desain, efisiensi reaksi, dan tingkat kehilangan material dalam proses produksi. 

Baca Juga : Iran dan Kisah Harga Bensin Termurah

Jika seluruh 400 - 440 kg uranium 60% secara hipotetis berhasil diperkaya lebih lanjut menjadi 90% dengan efisiensi tinggi, secara teori material tersebut bisa mencukupi untuk sekitar 10 –12 bom nuklir sederhana. 

Namun, angka ini bukan kepastian matematis, ia sangat dipengaruhi oleh faktor teknis seperti efisiensi pengayaan lanjutan, kualitas desain senjata, serta kemungkinan penyusutan atau limbah material selama proses konversi.

Penting untuk ditekankan bahwa memiliki bahan fisil saja tidak otomatis berarti memiliki bom siap pakai. Pengembangan senjata nuklir memerlukan teknologi tambahan yang kompleks, termasuk perancangan perangkat, sistem peledakan presisi tinggi untuk memicu reaksi berantai, serta sistem pengantaran seperti rudal atau pesawat. Tanpa komponen-komponen tersebut, bahan nuklir tetap hanya berupa material mentah berpotensi tinggi, bukan senjata operasional.

Sebagai perbandingan historis, bom yang dijatuhkan di Hiroshima pada 1945, yaitu Little Boy, memiliki daya ledak sekitar 15 kiloton TNT. Jika secara hipotetis dibuat 10–12 bom dengan desain dan daya ledak setara, total potensi daya ledaknya dapat mencapai sekitar 150–180 kiloton TNT secara akumulatif, atau setara 10–12 kali bom Hiroshima. 

Namun perlu dicatat bahwa bom modern dapat memiliki daya ledak yang jauh lebih besar atau justru lebih kecil, dan besarnya yield tidak hanya ditentukan oleh jumlah uranium, melainkan juga oleh desain dan efisiensi perangkat.

Secara keseluruhan, 400 - 440 kg uranium 60% belum dapat langsung menjadi bom. Akan tetapi, jika diperkaya lebih lanjut ke 90%, secara teori jumlah tersebut dapat cukup untuk sekitar 10–12 perangkat nuklir sederhana. 

Sementara itu, status aktual dan verifikasi material tersebut bergantung pada pengawasan internasional, termasuk oleh International Atomic Energy Agency (IAEA).