10 Saham Konglo Runtuh, Imbas Sentimen Iran
- Pasar saham IHSG terjun bebas 2,55% pada hari ini. Tekanan jual 10 emiten konglomerat dan konflik geopolitik militer Amerika Serikat dan Iran jadi penyebabnya.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka melemah pada awal perdagangan pagi ini, Rabu, 4 Maret 2026. Pelemahan indeks tersebut melanjutkan tren koreksi secara signifikan pada perdagangan kemarin saat pasar turun 0,96% dan ambruk hingga 2,65% 2 hari sebelumnya.
Kurang dari 30 menit setelah pasar dibuka, indeks utama tersebut langsung kehilangan 202 poin. Angka ini setara dengan pelemahan 2,55% yang menyeret pergerakan pasar meluncur tajam menuju level 7.736,92 di tengah hebatnya tekanan sentimen negatif dari berbagai kondisi bursa global.
Sebanyak 561 saham terpantau turun, 105 naik, dan 168 tidak bergerak sama sekali. Kondisi ini memperlihatkan tingginya tekanan aksi jual saham di bursa. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp5,97 triliun, melibatkan 11,07 miliar lembar saham dalam 693.762 kali aktivitas transaksi.
Saham Konglomerat Runtuh Bersamaan
Emiten tambang emas kompak merosot dan menjadi pemberat utama kinerja bursa pagi ini. Selain itu, emiten milik para konglomerat besar seperti Prajogo Pangestu, Hapsoro, Aguan, Bakrie, Hary Tanoe, hingga Garibaldi Thohir ikut berguguran sehingga semakin membebani langkah pemulihan pasar nasional.
Berikut adalah deretan saham yang menjadi penekan indeks, diawali oleh BREN yang anjlok 15,73 poin, disusul AMMN merosot 10,62 poin, dan TLKM melemah 10,52 poin. Penurunan tajam tersebut turut diikuti pergerakan saham BMRIyang jatuh drastis hingga mencapai 10,09 poin.
Selanjutnya, saham BRMS tergelincir 9,70 poin, TPIA terkoreksi 8,29 poin, serta BBCA turun 7,10 poin. Melengkapi daftar 10 besar pelemahan, saham BBRI melemah 6,29 poin, MDKA merosot 5,96 poin, dan emiten VKTR harus rela ditutup dengan koreksi sebesar 5,61 poin.
Gebrakan OJK Demi Standar MSCI
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih terus menghadapi tekanan berat akibat berbagai sentimen. Dari dalam negeri, Otoritas Jasa Keuangan mengungkapkan serangkaian perkembangan terbaru dalam upaya pemenuhan tuntutan krusial dari pihak penyedia indeks global MSCI agar pasar modal lokal lebih transparan.
Regulator mengonfirmasi adanya pemutakhiran terkait pengungkapan data kepemilikan saham di atas 1%. Sebagai langkah awal keterbukaan informasi, KSEI resmi mempublikasikan status kepemilikan saham para investor dengan porsi lebih dari 1% per tanggal 27 Februari 2026 pada hari Selasa 3/3/2026.
Otoritas juga menyampaikan progres mengejar target reklasifikasi dari 9 tipe investor menjadi 27 tipe yang kini telah mencapai 94%. Sementara itu, rencana peningkatan rasio minimal saham beredar dari 7,5% menjadi 15% sedang diproses secara internal oleh pihak bursa hari ini.
Eskalasi Mematikan Konflik Iran
Beralih ke faktor eksternal, harga komoditas minyak mentah melanjutkan tren kenaikan pesatnya. Harga kontrak minyak Amerika Serikat naik 0,87% menjadi US$75,21 per barel, sedangkan acuan minyak Brent melonjak 5,43% menuju level US$81,96 akibat krisis Timur Tengah yang semakin meluas.
Garda Revolusi Iran sebelumnya melontarkan peringatan keras bahwa jalur perairan vital Selat Hormuz kini telah ditutup total. Presiden Amerika Serikat Donald Trump merespons tegas dan menyatakan angkatan laut negaranya siap mengawal seluruh kapal tanker secara ketat melintasi area konflik tersebut.
Melalui platform Truth Social pada Selasa sore, Presiden Donald Trump menuliskan pernyataannya. "Apa pun yang terjadi, Amerika Serikat akan memastikan ALIRAN ENERGI BEBAS ke DUNIA. KEKUATAN EKONOMI dan MILITER Amerika Serikat adalah YANG TERBESAR DI BUMI; Tindakan lebih lanjut akan menyusul," tulis Trump.
Guncangan Hebat Bursa Wall Street
Semalam di Amerika Serikat, para investor menghadapi sesi perdagangan yang sangat bergejolak. Rasa khawatir mendalam terhadap konflik Timur Tengah yang melibatkan militer Iran ini sukses mengguncang psikologi pasar, sehingga memicu gelombang aksi jual secara masif di seluruh lapisan Wall Street.
Indeks Dow Jones harus rela kehilangan 403,51 poin atau 0,83% untuk ditutup pada level 48.501,27. Indeks S&P 500 ikut merosot 0,94% menjadi 6.816,63 dan sempat anjlok 2,5%. Sementara itu, indikator Nasdaq Composite tergelincir 1,02% dengan rekor kerugian menyentuh angka 2,7%.
Sentimen kepanikan global ini ternyata cepat menular ke berbagai bursa utama Asia. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok parah hingga 7,24% pada hari Rabu dan mencetak rekor penurunan terburuk dalam 19 bulan. Indeks Nikkei 225 Jepang juga terpaksa melepaskan 1,59% nilainya.
Menanti Manuver Ekonomi Tiongkok
Tekanan pasar terus berlanjut saat indeks S&P/ASX 200 Australia memulai aktivitas hari ini dengan catatan penurunan 1,81% sedangkan indikator Topix merosot 1,61%. Kontrak berjangka indeks Hang Seng berada di level 25.448, jauh lebih rendah dari nilai penutupan terakhir sebesar 25.768,08.
Di tengah kelesuan ini, para investor kawasan Asia Pasifik sangat menantikan agenda pertemuan parlemen tahunan Tiongkok. Pertemuan krusial bertajuk 2 Sesi tersebut terdiri dari pembukaan agenda kongres konsultatif terlebih dahulu, yang kemudian akan segera disusul acara Kongres Rakyat Nasional.
Puncak acara tersebut akan menampilkan Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang yang siap mengumumkan serangkaian target ekonomi terbaru negaranya. Ketetapan strategis ini sebenarnya telah disepakati sejak bulan Desember lalu dan diharapkan mampu menjadi katalis positif bagi pemulihan investasi bursa regional.

Alvin Bagaskara
Editor
