Tren Ekbis

Menyandingkan Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Q3 2026, Di Mana Posisi RI?

  • Ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% pada Q3 2026, sementara Vietnam mencapai 9,95%. Simak perbandingan pertumbuhan ekonomi ASEAN dan faktor pendorongnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2023 menyentuh 4,94 persen secara year on year (YoY).
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Panji Asmoro/TrenAsia)

JAKARTA, TRENASIA,ID – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 mencapai 5,47 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Angka ini meningkat dibandingkan kuartal II 2026 yang tumbuh 5,29 persen, tetapi masih lebih rendah dari capaian kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen.

Secara kuartalan atau quarter to quarter (qtq), ekonomi Indonesia tumbuh 1,59 persen. Adapun produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.741 triliun, sedangkan berdasarkan harga konstan sebesar Rp3.633,2 triliun.

Dikutip dari Antara, Kamis, 5 November 2026, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026 bila dibandingkan triwulan III 2025 atau secara year on year tumbuh sebesar 5,47 persen.

Pertumbuhan tersebut memperlihatkan ekonomi Indonesia kembali menguat setelah melambat pada kuartal II. Namun, ketika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara, capaian Indonesia masih menyisakan pekerjaan rumah.

Di kawasan ASEAN, Vietnam mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara negara yang telah merilis data kuartal III 2026, yakni mencapai 9,95 persen yoy. Sementara itu, Singapura tumbuh 5,4 persen dan Malaysia 5,3 persen.

Dengan capaian 5,47 persen, Indonesia berada di posisi kedua di antara negara-negara tersebut. Namun, selisih pertumbuhan Indonesia dengan Vietnam mencapai 4,48 poin persentase.

Perbedaan ini memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang membuat ekonomi Vietnam mampu tumbuh jauh lebih cepat, dan sejauh mana Indonesia dapat mengejar ketertinggalan tersebut?

Perbandingan Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Kuartal III 2026

Berikut perbandingan pertumbuhan ekonomi sejumlah negara ASEAN yang telah merilis data kuartal III 2026.

NegaraPertumbuhan ekonomi Q3 2026 (yoy)Keterangan
Vietnam9,95%Meningkat dari 8,81% pada Q2
Indonesia5,47%Meningkat dari 5,29% pada Q2
Singapura5,4%Melambat dari 6,2% pada Q2
Malaysia5,3%Melambat dari 6,0% pada Q2
Laos4,8%Pertumbuhan kumulatif Januari-September, bukan khusus Q3

Sumber: BPS, National Statistics Office Vietnam, Department of Statistics Malaysia, SingStat, dan Lao News Agency.

Perlu diperhatikan, angka Malaysia dan Singapura masih berupa estimasi awal yang dapat direvisi. Sementara itu, data Laos sebesar 4,8 persen merupakan pertumbuhan kumulatif sembilan bulan pertama 2026 sehingga tidak sepenuhnya sebanding dengan pertumbuhan yoy kuartal III negara lainnya.

Dari 11 negara anggota ASEAN, hingga Kamis, 5 November 2026, data pertumbuhan ekonomi kuartal III belum tersedia untuk Thailand, Brunei Darussalam, Kamboja, Myanmar, Filipina, dan Timor Leste.

Vietnam Melaju Berkat Industri, Investasi, dan Ekspor

Pertumbuhan ekonomi Vietnam sebesar 9,95 persen pada kuartal III 2026 bukan sekadar peningkatan dibandingkan Indonesia. Angka tersebut juga menunjukkan akselerasi ekonomi Vietnam sepanjang tahun.

National Statistics Office Vietnam mencatat pertumbuhan ekonomi negara tersebut mencapai 8,15 persen pada kuartal I dan 8,81 persen pada kuartal II 2026. Dengan demikian, pertumbuhan kuartal III menjadi yang tertinggi sepanjang tiga kuartal pertama tahun ini.

Kinerja tersebut ditopang oleh sektor industri dan konstruksi yang tumbuh 12,50 persen yoy. Sektor jasa juga tumbuh 9,54 persen, sedangkan pertanian, kehutanan, dan perikanan meningkat 4,21 persen.

Dari sisi pengeluaran, investasi atau akumulasi aset Vietnam tumbuh 21,39 persen. Konsumsi akhir meningkat 8,96 persen, sementara ekspor barang dan jasa naik 23,27 persen.

Pekerja di Vietnam sedang membenahi pembangkit listrik. (ASEAN Council)

Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan Vietnam ditopang oleh kombinasi aktivitas produksi, investasi, konsumsi, dan perdagangan internasional.

Kinerja ekspor juga menjadi salah satu faktor penting. National Statistics Office Vietnam mencatat nilai ekspor barang selama kuartal III mencapai US$167,85 miliar, meningkat 30,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, pertumbuhan ekspor tersebut juga diikuti peningkatan impor yang lebih cepat. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, Vietnam mencatat defisit perdagangan barang sebesar US$19,42 miliar.

Artinya, pertumbuhan tinggi Vietnam tidak berarti seluruh aspek ekonominya tanpa tantangan. Ketergantungan pada perdagangan internasional dan kebutuhan impor tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Indonesia Masih Mengandalkan Konsumsi Domestik

Berbeda dengan Vietnam yang mencatat pertumbuhan tinggi dari sektor industri, investasi, dan ekspor, ekonomi Indonesia masih memiliki karakter kuat sebagai pasar domestik.

Konsumsi rumah tangga tetap menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan. Pada kuartal III 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen dan memberikan kontribusi 2,62 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Komponen investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,06 persen, dengan kontribusi 1,91 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi produksi, industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 1,20 poin persentase. Sektor perdagangan menyumbang 0,94 poin persentase, konstruksi 0,62 poin persentase, dan informasi serta komunikasi 0,49 poin persentase.

Data tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih memiliki fondasi pertumbuhan yang cukup kuat dari konsumsi dan investasi domestik.

Namun, besarnya pasar dalam negeri juga menyimpan tantangan. Indonesia perlu memastikan konsumsi tidak hanya mendorong aktivitas perdagangan, tetapi juga terhubung dengan peningkatan produksi, produktivitas, dan nilai tambah industri domestik.

Pertumbuhan investasi juga perlu dilihat lebih jauh dari sekadar kenaikan angka. Investasi yang mampu meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat industri pengolahan, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas akan memberikan dampak lebih besar bagi perekonomian dalam jangka panjang.

Singapura dan Malaysia Mulai Melambat

Di tengah akselerasi Vietnam dan penguatan ekonomi Indonesia, Singapura dan Malaysia justru mencatat perlambatan pertumbuhan pada kuartal III.

Singapura tumbuh 5,4 persen yoy, lebih rendah dibandingkan kuartal II 2026 yang mencapai 6,2 persen. Secara kuartalan yang disesuaikan secara musiman, ekonomi Singapura tumbuh 1,1 persen, melambat dari 1,5 persen pada kuartal sebelumnya.

Menurut Departemen Statistik Singapura, pertumbuhan pada kuartal III ditopang oleh sektor teknologi, terutama aktivitas manufaktur yang berkaitan dengan elektronik dan rekayasa presisi.

Sementara itu, Malaysia tumbuh 5,3 persen yoy, melambat dari 6 persen pada kuartal II. Department of Statistics Malaysia mencatat pertumbuhan masih ditopang sektor jasa, manufaktur, dan konstruksi.

Perlambatan kedua negara tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi kawasan tidak bergerak seragam. Kinerja masing-masing negara sangat dipengaruhi oleh struktur industri, permintaan global, dan kondisi domestik.

Pertumbuhan Tinggi Belum Tentu Ekonomi Lebih Kuat

Perbandingan pertumbuhan ekonomi ASEAN memperlihatkan Vietnam berada jauh di depan Indonesia pada kuartal III 2026. Namun, angka pertumbuhan satu kuartal tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa daya saing ekonomi suatu negara secara keseluruhan lebih unggul.

Pertumbuhan PDB mengukur peningkatan aktivitas ekonomi, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan kualitas pertumbuhan tersebut.

Hal yang juga perlu diperhatikan adalah produktivitas, pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, nilai tambah industri, dan kemampuan perusahaan domestik masuk ke rantai pasok global.

Vietnam menunjukkan akselerasi kuat melalui industri, investasi, dan perdagangan internasional. Indonesia memiliki kekuatan dari pasar domestik yang besar, konsumsi rumah tangga, dan basis industri yang luas.

Tantangan bagi Indonesia adalah bagaimana mengubah keunggulan pasar domestik menjadi pertumbuhan produktivitas dan daya saing industri yang lebih tinggi.

Dengan kata lain, pertanyaan bagi Indonesia bukan hanya bagaimana mempertahankan pertumbuhan di atas 5 persen, tetapi juga bagaimana memperbesar nilai tambah ekonomi agar mampu bersaing dengan negara-negara ASEAN yang sedang melaju lebih cepat.