Menu Trading Jumat: CDIA dan ARTO Potensi Rebound, Minat?
- IHSG diprediksi sideways Jumat, 6 Februari 2026. Phintraco soroti potensi technical rebound saham CDIA dan ARTO. Cek juga target harga SCMA hingga ISAT.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG harus rela menutup perdagangan Kamis, 5 Februari 2026, sore di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,53%. Indeks terkoreksi ke level 8.103,88 justru di tengah rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal empat yang mencatatkan hasil positif di atas ekspektasi pasar.
Merespons kondisi tersebut Tim Riset Phintraco Sekuritas memprediksi pergerakan indeks akan cenderung mendatar atau sideways pada perdagangan akhir pekan ini. Tekanan jual dari sentimen global dinilai masih cukup dominan membayangi pasar meskipun data domestik menunjukkan perbaikan fundamental ekonomi yang solid.
Dalam riset hariannya Phintraco menyoroti level psikologis 8.000 sebagai area pertahanan kuat yang harus dijaga oleh indeks gabungan hari ini. Sementara itu level 8.200 ditetapkan sebagai area resisten terdekat yang akan diuji jika terjadi pembalikan arah teknikal secara tiba-tiba.
1. Kutipan Analisis Teknikal
Dalam laporannya Tim Riset Phintraco Sekuritas menjelaskan kondisi teknikal indeks yang menunjukkan sinyal beragam namun cenderung wait and see. Mereka menuliskan, "Secara teknikal Stochastic RSI masih mengindikasikan reversal di area oversold dan sedikit penyempitan histogram negatif pada indikator MACD," jelasnya dalam riset pada Jumat, 6 Februari 2026.
Lebih lanjut tim riset menambahkan bahwa posisi indeks saat ini masih relatif aman dalam tren jangka panjangnya di bursa. "IHSG masih berada di atas garis MA200, namun ditutup di bawah MA5. Sehingga diperkirakan IHSG akan bergerak sideways di kisaran 8.000-8.200."
Prediksi pergerakan menyamping ini mengindikasikan bahwa pasar sedang mencari keseimbangan baru pasca rilis data ekonomi makro yang beragam. Investor disarankan untuk tidak terlalu agresif dan tetap disiplin memperhatikan level teknikal tersebut dalam mengambil keputusan transaksi harian di pasar reguler.
2. Paradoks Data PDB
Phintraco juga menyoroti data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal keempat 2025 yang tumbuh 5,39% secara tahunan atau di atas estimasi pasar. "Pertumbuhan ini adalah yang paling kuat sejak kuartal III-2022 dengan didukung oleh pertumbuhan sektor swasta dan investasi yang meningkat," tulis riset tersebut.
Meskipun data PDB positif pasar saham justru merespons dingin karena tertutup oleh sentimen negatif yang datang dari bursa regional Asia. Hal ini menandai pertumbuhan kuartalan selama tiga kuartal berturut-turut meskipun sempat melambat akibat adanya dampak bencana alam di wilayah Sumatra.
Untuk tahun penuh 2025 ekonomi Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,11% secara tahunan atau sedikit di bawah target pemerintah sebesar 5,2%. Namun angka ini dinilai masih lebih baik dibandingkan capaian tahun 2024 yang hanya mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,03% saja.
3. Sentimen The Fed
Tekanan eksternal dipicu oleh ketidakpastian kebijakan suku bunga Amerika Serikat pasca komentar hawkish dari pejabat bank sentral The Fed. Phintraco mencatat, "Gubernur Fed Lisa Cook menyatakan tidak akan mendukung penurunan suku bunga tambahan karena lebih memprioritaskan risiko inflasi."
Komentar tersebut dikombinasikan dengan sentimen pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed berikutnya yang dinilai kurang ramah pasar ekuitas. "Hal ini menyebabkan investor memprediksi laju penurunan suku bunga berpotensi akan berjalan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya," tambah analisis Phintraco Sekuritas.
Dampak dari sentimen ini membuat harga emas berbalik melemah hingga turun di bawah level psikologis US$5.000 per troy ounce. Koreksi harga komoditas lindung nilai ini turut memberatkan langkah IHSG karena menekan kinerja saham-saham berbasis pertambangan emas di bursa domestik.
4. Potensi Technical Rebound
Phintraco Sekuritas menyoroti saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang ditutup menguat signifikan sebesar 3,24% ke level Rp1.115. Dalam risetnya analis memberikan catatan khusus pada saham ini yakni adanya sinyal "Potensi technical rebound" yang menarik untuk dicermati pelaku pasar.
Rekomendasi serupa juga diberikan untuk saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) meskipun harganya terkoreksi 1,62% ke level Rp2.430 kemarin. Tim riset melihat penurunan ini sebagai peluang beli jangka pendek karena saham bank digital ini memiliki "Potensi technical rebound" yang kuat.
Kedua saham ini dinilai memiliki indikator teknikal yang mendukung adanya pembalikan arah harga dalam waktu dekat di pasar reguler. Volatilitas harga yang terjadi saat ini dapat dimanfaatkan oleh trader untuk mengambil keuntungan cepat memanfaatkan momentum pantulan teknikal tersebut.
5. Pilihan Trading Lainnya
Selain potensi rebound, Phintraco juga merekomendasikan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) sebagai menu "Pilihan Trading" hari ini. Saham media ini ditutup menguat tipis 0,68% ke level Rp148, menunjukkan adanya minat beli yang mulai stabil di area harga bawah.
Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang turun 1,10% ke Rp6.725 dan PT Indosat Tbk (ISAT) yang turun 0,47% ke Rp2.130 juga masuk daftar. Phintraco memasukkan kedua emiten big caps ini ke dalam kategori "Pilihan Trading" untuk dicermati pergerakannya.
Rekomendasi ini mengindikasikan strategi jangka pendek yang memanfaatkan fluktuasi harian saham-saham berkapitalisasi besar di tengah kondisi pasar yang sideways. Investor diharapkan tetap waspada dan menyesuaikan strategi entry serta exit sesuai dengan dinamika pasar yang terjadi pada perdagangan hari Jumat, 6 Februari 2026.

Alvin Bagaskara
Editor
