Tren Pasar

Menguji Penguatan Saham Kesehatan di Tengah Maraknya Bencana

  • Erupsi Anak Krakatau menjadi katalis saham kesehatan. MEDS naik 34,72% dan SOHO 24,90% hingga menyentuh ARA pada perdagangan 7 September 2026.
Usaha_di_Bidang_Layanan_Kesehatan.jpeg
Ilustrasi saham kesehatan. (MNC Media)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Erupsi Gunung Anak Krakatau pada akhir pekan lalu menjadi katalis positif jangka pendek bagi sejumlah saham sektor kesehatan di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Kekhawatiran terhadap dampak abu vulkanik terhadap kesehatan masyarakat mendorong perhatian investor terhadap emiten yang memiliki bisnis masker, obat-obatan, hingga alat kesehatan.

Pada perdagangan Senin, 7 September 2026, indeks sektoral kesehatan IDXHEALTH memimpin penguatan sektoral dengan kenaikan 2,78%. Penguatan tersebut terjadi ketika pasar juga mencermati dampak erupsi terhadap mobilitas, penerbangan, serta aktivitas ekonomi di sejumlah wilayah.

Saham Kesehatan Melonjak, MEDS dan SOHO Tembus ARA

Sejumlah saham kesehatan mencatat kenaikan signifikan pada penutupan perdagangan 7 September 2026. PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS) menjadi salah satu yang paling mencolok dengan penguatan 34,72% ke Rp97, sekaligus menyentuh auto rejection atas (ARA).

MEDS menjadi perhatian karena perusahaan memproduksi masker dengan merek Evo Plusmed, sehingga sentimen meningkatnya kebutuhan perlindungan pernapasan akibat paparan abu vulkanik menjadi katalis bagi saham tersebut.

Baca juga : Ada Price Gouging di Balik Melambungnya Harga Masker Saat Erupsi

Selain MEDS, PT Soho Global Health Tbk (SOHO) juga melonjak 24,90% ke Rp1.505 dan mencapai ARA. Sementara itu, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) menguat 17,05% ke Rp515.

Berikut pergerakan sejumlah saham kesehatan pada penutupan perdagangan 7 September 2026:

  • PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS): Rp97, naik 34,72% (ARA)
  • PT Soho Global Health Tbk (SOHO): Rp1.505, naik 24,90% (ARA)
  • PT Kimia Farma Tbk (KAEF): Rp515, naik 17,05%
  • PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH): Rp78, naik 14,71%
  • PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA): Rp416, naik 11,23%
  • PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED): Rp252, naik 1,61%
  • PT Pyridam Farma Tbk (PYFA): Rp280, naik 1,45%

Analis: Kenaikan Saham Kesehatan Masih Bersifat Jangka Pendek

Meski saham kesehatan melonjak, penguatan tersebut belum dapat langsung diartikan sebagai perubahan fundamental bisnis emiten. Sentimen erupsi lebih berpotensi memberikan dorongan terhadap permintaan produk kesehatan dalam jangka pendek.

"Sentimen tersebut berpotensi menjadi katalis positif jangka pendek bagi emiten healthcare, khususnya perusahaan dengan eksposur pada produk masker, obat pernapasan, dan produk kesehatan terkait." tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, dikutip Senin, 7 September 2026.

Pandangan serupa disampaikan Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata. Menurutnya, kenaikan sejumlah saham tersebut berkaitan dengan kebutuhan darurat akibat bencana. "Yang naik adalah berkaitan dengan keperluan emergency terkait bencana alam." terang Liza.

Dengan demikian, investor perlu membedakan antara katalis sentimen dan perbaikan fundamental. Lonjakan harga saham yang terjadi saat ini belum otomatis mencerminkan peningkatan kinerja keuangan dalam jangka panjang.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: KLBF dan AADI Terbang, HRTA Tiarap

Tiga Faktor Penentu Arah Saham Kesehatan

Keberlanjutan reli saham kesehatan akan sangat bergantung pada perkembangan erupsi dan dampaknya terhadap aktivitas masyarakat. Jika kebutuhan masker dan produk kesehatan meningkat dalam waktu lebih lama, sentimen terhadap emiten terkait berpotensi bertahan.

Namun, jika aktivitas erupsi dan penyebaran abu vulkanik segera mereda, katalis tersebut juga dapat kehilangan kekuatannya. Investor perlu mencermati beberapa indikator utama:

  • Perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau, termasuk durasi dan intensitas erupsi.
  • Luas penyebaran abu vulkanik serta dampaknya terhadap masyarakat.
  • Volume dan keberlanjutan transaksi saham, untuk melihat apakah penguatan didukung minat beli yang konsisten atau hanya spekulasi jangka pendek.

Efek erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya dirasakan sektor kesehatan. Gangguan mobilitas justru memberikan tekanan kepada sektor penerbangan, transportasi, logistik, serta pariwisata.

Baca juga : IHSG Hari Ini Dibuka Turun 0,12 Persen ke Level 6.652

Sektor penerbangan menjadi salah satu yang paling terdampak karena abu vulkanik dapat mengganggu operasional penerbangan. Penutupan delapan bandara dan gangguan terhadap 963 penerbangan turut menjadi perhatian pasar.

Emiten seperti PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) menjadi perusahaan yang berada di lapisan pertama dalam menghadapi dampak gangguan penerbangan.

Sementara itu, sektor transportasi dan logistik berpotensi terkena efek lanjutan apabila distribusi barang terganggu. Industri pariwisata dan perhotelan juga berpotensi menghadapi pembatalan perjalanan apabila kondisi erupsi berlangsung lebih lama.