Nasional

Mengenang Sapardi Djoko Damono, Penyair yang Jadi Ikon Google Doodle Hari Ini

  • Puisi Sapardi Djoko Damono banyak dikagumi karena banyak kesamaan syair dengan yang ada dalam persajakan Barat yang sering disebut dengan simbolisme
google-doodle-sapardi-djoko-damono_169.gif

JAKARTA - Hari ini, 20 Maret 2023, Google merayakan hari lahir Sapardi Djoko Damono. Perlu diketahui, Sapardi adalah salah satu sosok pujangga paling berpengaruh pada perkembangan dunia kesusastraan Indonesia.

Sama seperti salah satu puisinya, yakni rintik hujan di bulan Juli, dalam ikon Google hari ini, Sapardi tampak tengah berdiri di tengah rintik hujan sambil membawa sebuah buku dan payung.

Untuk mengetahui lebih lanjut dan lebih dalam, lantas siapakah sosok Sapardi ini?

Sapardi Djoko Damono merupakan seorang maestro perangkai kata. Sepanjang hayat dan karirnya Sapardi dikenal sebagai seorang penyair, dosen, pengamat sastra, kritikus sastra dan pakar sastra.

Ia lahir di Surakarta 20 Maret 1940. Artinya, hari ini merupakan hari lahir sang maestro yang ke 83 jika Ia masih ada.

Sayangnya, Sapardi telah menghembuskan napas terakhir dan meninggalkan dunia pada 19 Juli 2019 pada usianya yang ke-80 tahun.

Sapardi merupakan putra pertama dari pasangan Sadyoko dan Saparian. Setelah lulus SMA, ia kuliah di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dalam memperdalam ilmunya, Sapardi pernah belajar  tentang kajian kemanusiaan (humanities) di University of Hawaii, Amerika Serikat (1970-1971).

Pada tahun 1969, Sapardi merilis kumpulan puisi pertamanya, “dukaMu abadi”. Pada zaman itu, sebagian besar penyair Indonesia berfokus pada refleksi dan gagasan masyarakat. Namun Sapardi malah mengangkat kondisi manusia pada awal debutnya.

Kendati begitu buku tersebut sukses dan mengantarkan Sapardi menjadi guru besar sastra di Universitas Indonesia. Namun karyanya tidak berhenti di sana, dia kembali menulis tiga kumpulan puisi lagi dengan gayanya yang lugas dan introspektif.

Pada 1980, Sapardi memperoleh gelar doktor dalam ilmu sastra dengan disertasi berjudul Novel Jawa Tahun 1950-an: Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur. Pada 1995, ia dikukuhkan sebagai guru besar di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.

Selain mengajar sebagai dosen, Sapardi aktif dalam berbagai lembaga seni dan sastra pada 1970-1980an.

Ia pernah menjabat sebagai Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia Jakarta pada 1973-1980, Redaksi majalah sastra Horison pada 1973, Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin pada 1975, serta Anggota Dewan Kesenian Anggota Badan Pertimbangan Perbukuan Balai Pustaka Jakarta sejak 1987.

Pada 1986, Sapardi mengemukakan perlunya mendirikan organisasi profesi kesastraan di Indonesia. Ia mendirikan organisasi bernama Himpunan Sarjana-Kesusasteraan Indonesia (Hiski) pada 1988. Saat itu, Ia terpilih sebagai Ketua Umum Hiski Pusat selama tiga periode.

Selain aktif di dunia sastra dalam negeri, Sapardi Djoko Damono juga sering menghadiri berbagai pertemuan internasional. Seperti Translation Workshop dan Poetry International di Rotterdam, Belanda (1971), Seminar on Literature and Social Exchange in Asia di Australia National University Canberra, dan lainnya.

Dalam dunia sastra Indonesia, Sapardi Djoko Damono mempunyai peran penting. Dalam Ikhtisar Kesusasteraan Indonesia Modern (1988) karya Pamusuk Eneste, Sapardi dimasukkan dalam kelompok pengarang Angkatan 1970-an. Dalam Sastra Indonesia Modern II (1989) karya A Teeuw, Sapardi digambarkan sebagai cendekiawan muda yang mulai menulis sekitar 1960.

Hal ini terlihat perkembangan jelas dalam puisi Sapardi terutama dalam hal susunan formal puisi-puisinya. Ia dianggap sebagai penyair yang orisinil sekaligus kreatif.

Puisi Sapardi Djoko Damono banyak dikagumi karena banyak kesamaan syair dengan yang ada dalam persajakan Barat yang sering disebut dengan simbolisme. Simbolisme sendiri diketahui ada sejak akhir abad ke-19.

Sapardi juga dikenal sebagai salah satu penyair romantis Indonesia. pasalnya, banyak puisi-puisinya romantisnya mampu menyentuh hati masyarakat. Salah satu puisi yang paling dikenal adalah "Aku Ingin", puisi tahun 1989 yang merupakan bagian dalam buku kumpulan puisi berjudul "Hujan di Bulan Juni".

Sajaknya yang fenomenal dan menyentuh hati kurang lebih berbunyi "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”

Selain rintik hujan di bulan Juli, karya lain dari Sapardi Djoko Darmono ini antara lain adalah Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978), Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang (1979), Kesusasteraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan (1999), Novel Jawa 1950-an: Telaah Fungsi, Isi dan Struktur (1996), Politik, Ideologi dan Sastra Hibrida (1999), Sihir Rendra: Permainan Makna (1999), dan Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan: Sebuah Catatan (2004).

Tak sekadar menulis puisi, Sapardi rupanya juga aktif sebagai penerjemah buku klasik. Adapun karya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia antara lain Seperti Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea karya Hemingway), Puisi Cina Klasik, Puisi Klasik, Shakuntala, Amarah I dan II (The Grapes of Wrath karya John Steinbeck), dan lain-lain.

Selain itu, Sapardi Djoko Damono telah menerima berbagai penghargaan dan hadiah sastra dari dalam dan luar negeri.

Pada 1963 Sapardi mendapat Hadiah Majalah Basis atas puisi Ballada Matinya Seorang Pemberontak. Pada 1978 ia menerima Cultural Award dari pemerintah Australia. Pada 1983, ia memperoleh hadiah Anugerah Puisi-Puisi Putera II atas bukunya Sihir Hujan dari Malaysia.

Pada 1984 Dewan Kesenian Jakarta memberi penghargaan atas buku Perahu Kertas. Mataram Award diterima Sapardi pada 1985. Hadiah SEA Write Award (Hadiah Sastra Asean) dari Thailand diterima pada 1986.

Tags: