Tren Global

Mengenal Shenzen, Dulu Kota Miskin Sekarang Super Kaya

  • Pada akhir 1970-an, Shenzen hanyalah kota kecil dengan infrastruktur terbatas dan ekonomi yang bergantung pada sektor tradisional.
robert-bye-xQdUIo_MSQ4-unsplash.jpg
Kota Shenzen, China (Unsplash)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Sulit membayangkan bahwa Shenzhen, salah satu kota paling maju di China saat ini, pernah menjadi wilayah nelayan miskin dengan pendapatan rendah. 

Pada akhir 1970-an, kawasan yang berbatasan langsung dengan Hong Kong itu hanyalah kota kecil dengan infrastruktur terbatas dan ekonomi yang bergantung pada sektor tradisional. Namun dalam waktu kurang dari lima dekade, Shenzhen bertransformasi menjadi pusat teknologi, manufaktur canggih, dan inovasi global.

Keberhasilan Shenzhen kerap disebut sebagai salah satu contoh transformasi kota tercepat dalam sejarah modern, sekaligus menjadi model pembangunan yang banyak dipelajari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Titik Balik, Zona Ekonomi Khusus

Dikutip laman ensiklopedia Britanica, Jumat, 26 Desember 2025, perubahan besar Shenzhen dimulai pada 1980, ketika pemerintah China menetapkan wilayah tersebut sebagai Zona Ekonomi Khusus (Special Economic Zone/SEZ).

Kebijakan ini membuka pintu bagi investasi asing, deregulasi birokrasi, serta eksperimen ekonomi berbasis pasar—sebuah langkah berani di tengah sistem ekonomi sosialis yang masih dominan saat itu.

Pemerintah memberikan berbagai insentif, mulai dari kemudahan perizinan, pajak rendah, hingga fleksibilitas ketenagakerjaan. Hasilnya, modal asing mengalir deras dan industri manufaktur tumbuh pesat.

Pada fase awal, Shenzhen berkembang sebagai basis manufaktur berbiaya murah, memproduksi barang elektronik dan komponen industri untuk pasar global. Namun seiring waktu, kota ini tidak berhenti di sektor padat karya.

Shenzhen bertransformasi menjadi pusat teknologi dan inovasi, melahirkan perusahaan-perusahaan raksasa seperti Huawei, Tencent, BYD, DJI, dan ZTE. Investasi besar-besaran pada riset, pendidikan, dan ekosistem startup menjadikan Shenzhen bukan hanya “pabrik dunia”, tetapi juga laboratorium teknologi.

Kini, Shenzhen dikenal sebagai kota dengan penetrasi teknologi tinggi, mulai dari pembayaran digital, transportasi listrik, hingga layanan publik berbasis kecerdasan buatan.

Baca juga : Dividen ADRO Cair Januari, Boy Thohir-Edwin Cuan Melintir

Infrastruktur dan SDM Jadi Kunci

Kemajuan Shenzhen juga ditopang pembangunan infrastruktur masif dan terintegrasi. Transportasi publik modern, kawasan industri terencana, serta kota pintar (smart city) memperkuat efisiensi ekonomi.

Di sisi lain, pemerintah China secara konsisten mendorong pengembangan sumber daya manusia. Shenzhen menjadi magnet talenta dari seluruh China dan dunia, dengan budaya kerja kompetitif namun inovatif.

Dalam beberapa dekade terakhir, Shenzhen mencatat pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat. Data resmi pemerintah China menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) Shenzhen mencapai sekitar 3,68 triliun yuan pada 2024. Jika dikonversi dengan kurs rata-rata 1 dolar AS = 7,2 yuan, nilai tersebut setara dengan sekitar US$ 510 miliar.

Angka ini menempatkan Shenzhen sebagai salah satu kota dengan output ekonomi terbesar di China, hanya berada di bawah Shanghai dan Beijing. Bahkan, dalam beberapa indikator ekonomi, Shenzhen telah melampaui Hong Kong, terutama dari sisi manufaktur berteknologi tinggi dan ekspor.

Transformasi tersebut membuktikan bahwa kemiskinan struktural bukanlah takdir, melainkan tantangan yang bisa diatasi melalui kebijakan tepat dan konsistensi jangka panjang.

Bagi Indonesia, kisah Shenzhen menawarkan sejumlah pelajaran penting. Pertama, keberanian melakukan reformasi kebijakan ekonomi sangat menentukan. Penyederhanaan perizinan, kepastian hukum, dan iklim investasi yang kondusif menjadi fondasi utama.

Baca juga : Kaleidoskop Bursa 2025: IHSG Terbang, Saham Bank Tumbang

Kedua, pembangunan kawasan ekonomi khusus di Indonesia perlu didorong tidak hanya sebagai pusat industri, tetapi juga inkubator inovasi dan teknologi, dengan keterkaitan kuat antara industri, pendidikan, dan riset.

Ketiga, investasi pada SDM dan teknologi harus menjadi prioritas. Tanpa peningkatan kualitas tenaga kerja dan penguasaan teknologi, pertumbuhan ekonomi berisiko stagnan di sektor bernilai tambah rendah.

Perjalanan Shenzhen dari kota miskin menjadi kota kaya bukanlah hasil instan, melainkan buah dari visi jangka panjang, konsistensi kebijakan, dan keberanian mengambil risiko. Bagi Indonesia, kisah ini menjadi pengingat bahwa transformasi besar dimungkinkan jika pembangunan diarahkan pada inovasi, produktivitas, dan keberpihakan pada masa depan.

Shenzhen menunjukkan bahwa dengan strategi tepat, kota biasa pun bisa menjelma menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional—sebuah inspirasi yang relevan bagi Indonesia di tengah upaya mempercepat pembangunan dan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.