Tren Ekbis

Mengapa Harus Mulai Investasi Saham Tahun 2026?

  • Fondasi utama optimisme investasi saham tahun 2026 berasal dari kondisi ekonomi makro Indonesia yang relatif kuat.
<p>Wisma BNI 46 menjadi simbol gedung-gedung pencakar langit di Jakarta / Shutterstock</p>

Wisma BNI 46 menjadi simbol gedung-gedung pencakar langit di Jakarta / Shutterstock

(Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Tahun 2026 dinilai menjadi momentum bagi investor pasar saham, khususnya di Indonesia. Berbagai analis dan lembaga riset menilai prospek pasar modal tetap positif, meskipun menuntut pendekatan yang lebih selektif dan strategi yang terukur. Dalam kondisi ekonomi global yang mulai stabil pasca-gejolak suku bunga dan geopolitik, saham kembali dipandang sebagai instrumen menarik untuk pertumbuhan aset jangka panjang.

JP Morgan Indonesia memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang mencapai level 10.000 pada 2026, seiring kuatnya konsumsi domestik, meningkatnya belanja fiskal, serta terjaganya stabilitas ekonomi setelah transisi politik.

Menurut laporan JP MOrgan, fondasi utama optimisme investasi saham  tersebut berasal dari kondisi ekonomi makro Indonesia yang relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan berada di kisaran 5,4 persen, dengan inflasi yang tetap terkendali. 

Stabilitas ini didukung oleh konsumsi domestik yang terjaga, keyakinan konsumen yang membaik, serta aktivitas manufaktur yang menunjukkan tren positif.

Kombinasi pertumbuhan dan inflasi yang terkendali menjadi lingkungan ideal bagi kinerja korporasi, yang pada akhirnya tercermin dalam potensi kenaikan harga saham dan pembagian dividen.

Baca juga : #KaburAjaDulu, Saat Gen Z Sulit Cari Kerja Layak

Pasar Modal Semakin Bergairah

Aktivitas pasar modal sepanjang 2025 memberikan sinyal optimisme untuk 2026. Tercatat 24 perusahaan melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp15,2 triliun. Tingginya minat perusahaan untuk melantai di bursa mencerminkan kepercayaan terhadap iklim investasi dan likuiditas pasar.

Bagi investor, pasar yang aktif membuka lebih banyak peluang untuk menemukan saham dengan potensi pertumbuhan sejak tahap awal, sekaligus memperkaya pilihan investasi lintas sektor.

Dari sisi global, arah kebijakan moneter menjadi faktor pendukung penting. Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) diperkirakan melanjutkan penurunan suku bunga secara bertahap pada 2026. 

Lingkungan suku bunga yang lebih longgar umumnya meningkatkan likuiditas global dan mendorong aliran dana ke aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang seperti Indonesia.

Kondisi ini berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar saham, terutama bagi emiten dengan fundamental kuat dan prospek pertumbuhan jangka panjang.

Baca juga : 5 Lagu K-Pop yang Wajib Diputar Saat Tahun Baru Mengawali 2026

Sektor-Sektor Menarik untuk Dicermati

JP Morgan juga memproyeksikan sejumlah sektor yang akan menjadi penggerak pasar di tahyn 2026 karena ditopang tren struktural dan kebijakan pemerintah. 

Sektor teknologi dan digitalisasi tetap menarik seiring adopsi kecerdasan buatan (AI), komputasi awan, dan solusi digital untuk bisnis.

Di sisi lain, energi terbarukan berpotensi tumbuh sejalan dengan agenda transisi energi, pengembangan panel surya, kendaraan listrik, serta infrastruktur pendukungnya. 

Sektor kesehatan dan farmasi juga dinilai defensif, didukung meningkatnya kesadaran kesehatan dan permintaan produk farmasi, termasuk segmen halal.

Sementara itu, sektor konsumsi domestik berpeluang menguat seiring pemulihan daya beli masyarakat dan pertumbuhan bisnis makanan-minuman (F&B) serta ritel.

Meski prospek 2026 dinilai positif, investor tetap perlu waspada. Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2025 sebagian didorong oleh saham lapis dua dan tiga, yang secara historis lebih rentan terhadap koreksi.

Karena itu, investasi saham di 2026 menuntut strategi yang disiplin. Selektivitas menjadi kunci utama, dengan fokus pada fundamental perusahaan, bukan sekadar mengikuti tren jangka pendek. 

Diversifikasi antar sektor dan kelas aset, misalnya mengombinasikan saham dengan emas penting untuk mengelola risiko. Selain itu, pendekatan jangka panjang melalui strategi seperti Dollar-Cost Averaging (DCA) dapat membantu investor mengurangi risiko salah timing pasar.

Dengan kombinasi ekonomi makro yang stabil, pasar modal yang aktif, dukungan kebijakan global, serta peluang sektor-sektor strategis, tahun 2026 menjadi momentum yang layak dipertimbangkan untuk mulai atau memperkuat investasi saham. 

Bukan berarti tanpa risiko, tetapi dengan perencanaan matang dan disiplin, pasar saham tetap menawarkan potensi pertumbuhan aset yang menarik di tengah tantangan ekonomi yang terus berubah.