Meneropong Efek Domino Ekonomi Erupsi Anak Krakatau
- Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak pada penerbangan, pariwisata, hotel, UMKM, nelayan hingga logistik dan rantai pasok.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Erupsi Gunung Anak Krakatau menimbulkan gangguan terhadap aktivitas ekonomi di sejumlah wilayah. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor penerbangan, tetapi juga berpotensi merambat ke pariwisata, perhotelan, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), nelayan, hingga sektor logistik dan rantai pasok.
Gangguan konektivitas udara menjadi salah satu pemicu utama efek domino ekonomi tersebut. Penutupan dan pembatasan operasional sejumlah bandara akibat sebaran abu vulkanik menyebabkan penerbangan terganggu, perjalanan wisata tertunda, hingga distribusi barang menghadapi risiko keterlambatan.
Penerbangan Jadi Sektor Paling Terdampak
Sektor penerbangan menjadi salah satu sektor pertama yang terkena dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Abu vulkanik dapat membahayakan keselamatan penerbangan sehingga maskapai dan pengelola bandara harus melakukan penyesuaian operasional.
Sejumlah bandara terdampak, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK), Bandara Halim Perdanakusuma, dan Bandara Radin Inten II. Gangguan tersebut berdampak terhadap ratusan penerbangan domestik maupun internasional.
Secara keseluruhan, lebih dari 900 penerbangan dilaporkan mengalami gangguan, sementara delapan bandara sempat ditutup dan lebih dari 150.000 penumpang terdampak.

Dari sisi finansial, Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carrier Association (INACA), Bayu Sutanto memperkirakan kerugian industri penerbangan dapat mencapai sekitar Rp10 miliar-Rp19 miliar per hari. Jika gangguan berlangsung selama sepekan, nilai kerugian berpotensi melampaui Rp130 miliar.
Kerugian tersebut tidak hanya berasal dari pembatalan penerbangan dan tiket. Maskapai juga harus menanggung tambahan biaya bahan bakar akibat perubahan rute, kompensasi penumpang, akomodasi, serta biaya operasional lain yang muncul akibat kondisi darurat.
Abu vulkanik juga memiliki risiko terhadap mesin, avionik, dan bagian lain pesawat. Sejumlah kajian mengenai dampak abu vulkanik terhadap penerbangan menunjukkan bahwa gangguan tersebut dapat menimbulkan kerugian besar bagi operator dan bandara.
Pariwisata dan Hotel Ikut Tertekan
Gangguan penerbangan kemudian merambat ke sektor pariwisata dan perhotelan. Ketika akses menuju suatu daerah terganggu, wisatawan cenderung menunda atau membatalkan perjalanan.
Dampak tersebut mulai terlihat dari pembatalan sejumlah reservasi hotel. Di Banda Aceh, puluhan kamar dilaporkan dibatalkan oleh tamu dari kalangan korporasi, pemerintah, maupun pemesanan daring. Di Lampung, pembatalan reservasi hotel juga mulai terasa meskipun belum berada pada tingkat yang signifikan.
Sementara itu, aktivitas wisata di sejumlah destinasi mengalami penurunan. Di kawasan Pantai Canti, Lampung, jumlah wisatawan dilaporkan turun hingga 80%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa gangguan penerbangan dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas dibandingkan kerugian langsung yang dialami maskapai.
Jakarta dan Bali, yang menjadi simpul utama perjalanan bisnis dan pariwisata, juga berpotensi mengalami efek lanjutan ketika konektivitas udara terganggu. Perjalanan bisnis, kunjungan wisatawan, serta kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) dapat ikut tertunda.
Dalam kondisi tertentu, wisatawan juga dapat melakukan shifting destination atau mengalihkan tujuan wisata ke wilayah lain yang dianggap lebih aman dan mudah diakses.
Baca juga : Rupiah Kembali Melemah, Harga Minyak jadi Beban
UMKM Pariwisata Berpotensi Kehilangan Pendapatan
Pelaku UMKM menjadi kelompok yang ikut merasakan dampak ketika jumlah wisatawan dan aktivitas masyarakat menurun.
UMKM kuliner dan pedagang yang berada di sekitar kawasan terdampak abu vulkanik menghadapi penurunan aktivitas usaha. Di Bandar Lampung, misalnya, sejumlah pelaku UMKM kuliner terpaksa menghentikan sementara aktivitas perdagangan akibat abu vulkanik.
Penurunan kunjungan wisatawan juga dapat mengurangi permintaan terhadap makanan, oleh-oleh, jasa transportasi lokal, hingga berbagai produk UMKM yang bergantung pada aktivitas pariwisata.
Bagi UMKM dengan modal terbatas, gangguan aktivitas ekonomi dalam beberapa hari saja dapat memberikan tekanan cukup besar terhadap arus kas usaha.
Pendapatan Nelayan Lampung Selatan Turun
Dampak erupsi juga dirasakan masyarakat pesisir, termasuk nelayan di Lampung Selatan. Material vulkanik yang masuk ke perairan dapat memengaruhi kondisi kualitas air dan aktivitas ekosistem laut. Nelayan setempat dilaporkan mengalami penurunan pendapatan hingga 70%, salah satunya karena ikan menjauh dari wilayah tangkapan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak erupsi tidak hanya bersifat atmosferik atau berkaitan dengan penerbangan. Aktivitas ekonomi masyarakat pesisir juga dapat ikut terdampak ketika material vulkanik mencapai wilayah perairan.
Logistik dan Rantai Pasok Terancam Terganggu
Selain manusia, gangguan penerbangan juga dapat menghambat mobilitas barang. Konektivitas udara memiliki peran penting dalam distribusi komoditas bernilai tinggi, barang mudah rusak, produk dengan waktu pengiriman singkat, serta komponen tertentu yang dibutuhkan industri.
Ketika penerbangan dibatalkan atau rute harus dialihkan, pengiriman barang berpotensi mengalami keterlambatan. Dampaknya dapat merambat ke perusahaan yang bergantung pada pasokan tepat waktu.
Kadin Indonesia juga menyoroti potensi kerugian ekonomi yang lebih besar apabila gangguan transportasi udara berlangsung dalam waktu panjang karena dapat memengaruhi sektor logistik dan rantai pasok nasional.
Kerugian dalam rantai pasok tidak selalu terlihat sebagai kerugian langsung. Perusahaan dapat menghadapi biaya tambahan untuk penyimpanan barang, pengalihan moda transportasi, perubahan jadwal produksi, hingga keterlambatan pengiriman kepada pelanggan.
Baca juga : Mengenali 5 Penyebab Pekerja Rentan Perundungan di Kantor
Dampak ekonomi dari aktivitas Anak Krakatau juga dapat dilihat dari peristiwa tsunami pada 2018. Sejumlah penelitian mengenai tsunami Anak Krakatau 2018 mencatat bahwa tsunami menggenangi sekitar 5.793 hektare wilayah pesisir dan menimbulkan kerugian ekonomi sekitar Rp133 miliar.
Dampaknya dirasakan berbagai sektor, termasuk rumah tangga dan bisnis di kawasan pesisir. Industri asuransi juga memperkirakan nilai klaim kerusakan akibat tsunami 2018 mencapai sekitar US$1,1 miliar.
Pengalaman tersebut menjadi gambaran jika bencana yang berkaitan dengan aktivitas Anak Krakatau dapat menghasilkan dampak ekonomi yang jauh lebih luas daripada kerusakan fisik yang terlihat secara langsung.

Chrisna Chanis Cara
Editor
