Medio 2025-2029, Investasi di 8 Sektor Didorong Hasilkan Rp3.839 Triliun
- Pemerintah menyiapkan hilirisasi 28 komoditas di 8 sektor untuk mengejar investasi Rp3.839,9 triliun hingga 2029.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Pemerintah membidik realisasi investasi sebesar Rp3.839,9 triliun dalam periode 2025-2029. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan hilirisasi menjadi salah satu motor utama untuk mencapai target investasi tersebut sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
“Investasi ke depan ditargetkan bisa 3.839 triliun dalam 4 tahun ke depan. Saat ini, realisasi hilirisasi di semester 1-2026 adalah Rp300 triliun, ini naik 6,9 persen dibandingkan dengan tahun lalu,” kata Airlangga.
Pemerintah sebelumnya telah menyusun peta jalan hilirisasi 28 komoditas yang mencakup berbagai sektor sumber daya alam. Program tersebut diproyeksikan membutuhkan investasi hingga US$618,1 miliar atau sekitar US$618 miliar.
Dari investasi tersebut, pemerintah memproyeksikan nilai ekspor mencapai US$857,6 miliar dan menciptakan nilai tambah sebesar US$235,9 miliar. Program hilirisasi juga diperkirakan mampu menghasilkan tambahan ekspor yang mendekati US$500 miliar.
Baca juga : UU Ketenagakerjaan Disahkan, Pekerja Muda Perlu Paham 9 Poin Krusial
Hilirisasi 28 Komoditas Mencakup 8 Sektor
Program hilirisasi pemerintah tidak hanya berfokus pada pertambangan. Peta jalan tersebut mencakup 28 komoditas yang tersebar di delapan sektor utama.
Kedelapan sektor tersebut meliputi mineral, batu bara, perkebunan, kehutanan, pertanian, perikanan, kelautan, serta minyak dan gas bumi.
Sektor mineral mencakup komoditas strategis seperti nikel, tembaga, bauksit dan timah. Sementara sektor perkebunan mencakup komoditas seperti kelapa sawit, karet, kelapa dan kakao.
Pendekatan tersebut diarahkan agar sumber daya alam tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi diproses menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi di dalam negeri.
Nikel menjadi salah satu contoh utama dampak kebijakan hilirisasi Indonesia. Airlangga mengatakan ekspor produk berbasis nikel meningkat tajam dari sekitar US$1,3 miliar pada 2016 menjadi US$34 miliar pada 2025.
Kenaikan ini menunjukkan perubahan struktur ekspor setelah pemerintah mendorong pembangunan industri pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri.
Hilirisasi juga diarahkan untuk membangun rantai industri yang lebih panjang, termasuk pengembangan produk antara dan produk akhir yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Dalam RPJMN 2025-2029, pemerintah memprioritaskan 15 komoditas strategis untuk dikembangkan melalui hilirisasi. Nikel menjadi salah satu komoditas utama dengan target investasi sekitar Rp365 triliun.
Selain nikel, komoditas yang menjadi perhatian pemerintah antara lain tembaga, minyak dan gas bumi, serta bauksit.
Baca juga : Kenapa Haji Isam Belum Masuk Daftar Pemegang Saham BYAN?
75,7% Investasi Hilirisasi Berada di Luar Jawa
Airlangga mengklaim hilirisasi memberikan dampak terhadap pemerataan investasi karena sebagian besar investasi hilirisasi berada di luar Pulau Jawa.
“Ini tercermin dari sekitar 75,7 persen investasi hilirisasi semester I tahun 2026 yang berada di luar Jawa dan berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan baru berbasis sumber daya alam,” ujarnya.
Sebaran investasi tersebut dinilai dapat mendorong munculnya pusat-pusat ekonomi baru di daerah yang memiliki sumber daya alam.
Dengan demikian, hilirisasi tidak hanya diposisikan sebagai kebijakan untuk meningkatkan ekspor, tetapi juga sebagai instrumen pemerataan pembangunan dan penciptaan aktivitas ekonomi baru di luar Jawa.
Selain hilirisasi berbasis sumber daya alam, pemerintah mendorong transformasi industri menuju sektor dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Baca juga : Duduk Perkara Penghentian Proyek Data Center AI Jatiluhur
Sektor yang menjadi perhatian mencakup agroindustri, manufaktur, digitalisasi, semikonduktor, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), hingga sektor jasa.
Ketersediaan energi yang kompetitif dan semakin ramah lingkungan juga dinilai penting untuk menjaga daya saing industri Indonesia. Kebutuhan tersebut semakin penting karena industri global mulai menghadapi tuntutan untuk menekan emisi dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi.

Chrisna Chanis Cara
Editor
