Tren Pasar

Maduro Ditangkap, Harga Minyak Dunia Malah Diskon

  • Bingung kenapa harga minyak anjlok saat Presiden Venezuela ditangkap? Ternyata pasar melihat peluang 'gembok terbuka'. Pelajari analisis lengkapnya.
images (38).jpeg
Cadangan Minyak Irak (Amwaj.media)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Senin, 5 Januari 2026, panggung geopolitik dunia dikejutkan oleh langkah drastis otoritas Amerika Serikat yang menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beserta istrinya. 

Keduanya langsung diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan serius terkait konspirasi narko-terorisme. Peristiwa ini seharusnya menjadi resep sempurna untuk lonjakan harga minyak dunia.

Dalam teori ekonomi konvensional, konflik di negara produsen minyak utama biasanya memicu kepanikan pasokan (supply shock) yang berujung pada kenaikan harga. Namun, pasar finansial hari ini justru menampilkan anomali. Alih-alih meroket, harga minyak mentah dunia merespons berita besar tersebut dengan penurunan alias "diskon".

Mengapa penangkapan pemimpin negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia justru direspons dingin oleh pasar energi, sementara harga emas justru terbang? Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar komoditas sedang bermain logika Catur 4 Dimensi yang melihat jauh ke depan melampaui berita utama hari ini.

1. Paradoks Harga: Konflik Naik, Harga Turun

Pasar minyak mentah dunia bereaksi negatif sesaat setelah kabar penangkapan Maduro menyebar. Minyak mentah berjangka Brent sempat tergelincir lebih dari 1% sebelum akhirnya menutup kerugian dan diperdagangkan turun tipis 0,25%. Setali tiga uang, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 0,4%.

Respons ini membingungkan banyak pihak, mengingat status Venezuela sebagai salah satu pemain kunci dalam peta energi global. Logika pasar yang biasanya panik (panic buying) saat ada ketidakstabilan politik di negara OPEC, kali ini tidak berlaku. Investor justru melakukan aksi jual atau sell off pada kontrak minyak.

Anomali ini menegaskan bahwa sentimen pasar saat ini tidak digerakkan oleh ketakutan akan gangguan pasokan jangka pendek. Para trader minyak global tampaknya memiliki kalkulasi yang berbeda mengenai dampak kepergian Maduro terhadap neraca minyak dunia.

2. Teori 'Gembok Terbuka' (Sanctions Relief)

Penyebab utama jatuhnya harga minyak adalah spekulasi pasar mengenai potensi pencabutan sanksi. Maduro adalah figur sentral yang menjadi alasan utama Amerika Serikat menjatuhkan embargo ekonomi super-ketat terhadap Venezuela selama bertahun-tahun. Dengan disingkirkannya Maduro, pasar membaca peluang terjadinya pergantian rezim.

Investor berspekulasi bahwa pemerintahan baru yang terbentuk pasca-Maduro kemungkinan besar akan lebih lunak atau pro-terhadap Washington. Jika skenario ini terwujud, besar kemungkinan AS akan melonggarkan sanksi, sehingga keran ekspor minyak Venezuela yang selama ini tersumbat sanksi akan kembali terbuka lebar ke pasar global.

Dalam hukum penawaran dan permintaan, persepsi akan adanya "banjir pasokan" baru di masa depan inilah yang menahan harga. Pasar minyak global yang saat ini sudah cukup jenuh, berpotensi mendapatkan tambahan jutaan barel pasokan dari Caracas, yang secara fundamental akan menekan harga turun.

3. Realitas Industri yang Sudah 'Rock Bottom'

Faktor lain yang membuat pasar tidak panik adalah kondisi riil industri minyak Venezuela yang memang sudah terpuruk. Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), meski Venezuela memegang cadangan terbukti terbesar di dunia (303 miliar barel), kapasitas produksinya sudah lumpuh akibat mismanajemen dan sanksi.

Pasar menilai bahwa situasi chaos akibat penangkapan ini tidak akan memperburuk sisi suplai secara signifikan, karena suplai dari Venezuela memang sudah sangat minim dan telah diperhitungkan (priced in) oleh pasar. Industri minyak negara tersebut ibarat sudah berada di dasar jurang (rock bottom), sehingga tidak bisa jatuh lebih dalam lagi.

Justru, peristiwa ini dilihat oleh sebagian analis sebagai titik balik (turning point). Pergantian kekuasaan dianggap sebagai langkah awal yang diperlukan untuk perbaikan infrastruktur jangka panjang, yang pada akhirnya akan mengembalikan kapasitas produksi Venezuela ke level normal.

4. Emas vs Minyak: Beda Respons

Kontras dengan minyak, harga emas justru melonjak tajam. Emas di pasar spot tercatat naik lebih dari 1% menembus level US$4.383 per troy ons. Perbedaan respons antara dua komoditas ini menunjukkan karakteristik dasar yang berbeda dalam merespons isu geopolitik.

Emas bergerak sebagai aset lindung nilai (safe haven) murni yang bereaksi terhadap ketakutan dan ketidakpastian politik. Investor membeli emas karena khawatir konflik di Venezuela bisa memicu instabilitas regional atau perang saudara yang meluas, sehingga mereka perlu mengamankan kekayaan.

Sementara itu, minyak adalah komoditas industri yang digerakkan oleh neraca fisik ketersediaan barang. Ketakutan geopolitik pada minyak dikalahkan oleh kalkulasi matematis bahwa "Tanpa Maduro sama dengan Lebih Banyak Minyak di Masa Depan". Logika suplai inilah yang memenangkan sentimen di pasar energi.

5. Skenario Transisi: Apa yang Harus Dipantau?

Meskipun saat ini harga turun, volatilitas pasar masih sangat tinggi. Arah harga minyak ke depan sangat bergantung pada proses transisi kekuasaan di Caracas. Pasar kini mencermati siapa yang akan mengisi kekosongan kekuasaan dan bagaimana respons faksi militer di negara tersebut.

Jika transisi berjalan mulus dan sanksi dicabut, dunia harus bersiap menghadapi era harga minyak yang lebih moderat karena pasokan melimpah. Namun, risiko sebaliknya tetap ada. Jika perang saudara meletus dan merusak infrastruktur kilang yang tersisa, tesis "banjir pasokan" bisa batal seketika.

Oleh karena itu, penurunan harga saat ini mungkin bersifat sementara. Pelaku pasar disarankan untuk tidak hanya melihat berita utama, tetapi juga memantau perkembangan stabilitas keamanan di ladang-ladang minyak Venezuela dalam beberapa minggu ke depan