Laba Bersih KAI Anjlok 73 Persen, Whoosh Jadi Beban
- Pendapatan KAI semester I 2026 mencapai Rp17,96 triliun, tetapi laba bersih anjlok 73% menjadi Rp314,03 miliar akibat tekanan Whoosh dan beban keuangan.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat pertumbuhan pendapatan pada semester I 2026. Namun, kenaikan pendapatan tersebut belum mampu mendorong laba bersih perusahaan karena tekanan dari kerugian anak usaha dan ventura bersama, termasuk proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh, serta meningkatnya beban keuangan.
Berdasarkan Laporan Keuangan KAI semester I 2026, pendapatan perusahaan mencapai Rp17,96 triliun, naik 6,61% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada periode yang sama, KAI membukukan laba bruto sebesar Rp6,79 triliun, sedangkan laba usaha mencapai Rp4,66 triliun. Laba usaha tersebut meningkat 25,79% secara tahunan.
Namun, pertumbuhan pada level pendapatan dan laba usaha tersebut tidak berlanjut hingga laba bersih. KAI hanya mencatat laba tahun berjalan sebesar Rp314,03 miliar, turun sekitar 73% dibandingkan semester I 2025 yang masih mencapai sekitar Rp1,18 triliun.
Pendapatan KAI Naik, Jumlah Penumpang Juga Bertambah
Pertumbuhan bisnis KAI pada semester I 2026 juga terlihat dari peningkatan jumlah pelanggan. KAI Group melayani hampir 259 juta pelanggan sepanjang semester I 2026. Jumlah tersebut meningkat 7,55% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan demikian, secara operasional bisnis utama KAI masih menunjukkan pertumbuhan. Pendapatan meningkat, jumlah pelanggan bertambah, laba bruto naik, dan laba usaha tumbuh cukup signifikan. Persoalan utama justru terlihat ketika kinerja operasional tersebut diteruskan hingga perhitungan laba bersih.
Salah satu faktor utama yang menekan laba KAI berasal dari kerugian perusahaan anak dan ventura bersama. Pada 30 Juni 2026, rugi bersih KAI dari anak usaha dan ventura bersama tercatat mencapai sekitar Rp2,996 triliun. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan sekitar Rp948,20 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Salah satu eksposur terbesar KAI berasal dari keterlibatannya dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh. KAI merupakan bagian dari konsorsium BUMN melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). PSBI menguasai 60% saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), perusahaan yang mengelola operasional Whoosh.
Di dalam PSBI, KAI memiliki sekitar 58,53% saham. Kerugian yang semakin besar dari anak usaha dan ventura bersama tersebut kemudian memberikan tekanan terhadap kinerja laba bersih KAI.
Baca juga : Hanya 7 Saham yang Naik Pembukaan LQ45 Hari Ini, Ada ASII
Nilai Investasi KAI di PSBI Turun Tajam
Dampak kerugian dari investasi terkait proyek kereta cepat juga terlihat pada nilai investasi KAI di PSBI. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, nilai investasi KAI di PSBI turun dari sekitar Rp3,24 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp235,85 miliar pada Juni 2026.
Penurunan tersebut terjadi ketika kerugian dari anak usaha dan ventura bersama, termasuk eksposur terhadap Whoosh, meningkat. Dengan kata lain, persoalan KAI bukan hanya terkait besarnya biaya operasional perusahaan, tetapi juga dampak investasi pada entitas yang berkaitan dengan proyek kereta cepat.
Keterlibatan KAI dalam proyek Whoosh tidak hanya melalui kepemilikan saham. Dalam laporan keuangannya, KAI juga mencatat adanya pinjaman kepada PSBI untuk membantu memenuhi kebutuhan pendanaan operasional proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang dijalankan oleh KCIC.
Hingga 30 Juni 2026, jumlah pinjaman yang telah dicairkan KAI kepada PSBI mencapai sekitar Rp1,72 triliun. Selain pinjaman tersebut, KAI juga terlibat dalam skema pembiayaan cost overrun atau pembengkakan biaya proyek KCJB. Dana tersebut diteruskan melalui PSBI kepada KCIC.
Hal ini membuat keterlibatan KAI terhadap proyek Whoosh tidak hanya berbentuk investasi saham, tetapi juga berkaitan dengan pendanaan proyek.
KAI Memiliki Pinjaman dari China Development Bank
Pendanaan proyek KCJB juga berkaitan dengan fasilitas pinjaman yang diterima KAI dari China Development Bank (CDB) dengan penjaminan pemerintah. Fasilitas tersebut terdiri dari pinjaman sebesar US$325,62 juta serta pinjaman dalam mata uang Renminbi yang setara dengan sekitar US$217,08 juta.
Jika digabungkan, total komitmen fasilitas pinjaman tersebut mencapai sekitar US$542,7 juta. Pada Juni 2026, saldo pinjaman jangka panjang KAI kepada CDB yang tercatat dalam laporan keuangan mencapai sekitar Rp9,87 triliun. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai sekitar Rp9,17 triliun.
CDB bukan satu-satunya kreditur KAI. Per Juni 2026, total pinjaman jangka panjang KAI mencapai Rp37,08 triliun, sedikit meningkat dibandingkan sekitar Rp37 triliun pada akhir 2025
Baca juga : Perlu Transformasi Ekonomi untuk Lepas dari Ketergantungan Tambang
Pinjaman tersebut berasal dari berbagai bank dan lembaga keuangan, termasuk Bank Mandiri, BNI, BRI, BCA, dan China Development Bank. Besarnya pinjaman tersebut juga menghasilkan beban keuangan bagi perusahaan.
Sepanjang semester I 2026, beban keuangan KAI mencapai Rp1,39 triliun, naik dari sekitar Rp1,26 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, beban bunga atas pinjaman CDB mencapai sekitar Rp152,09 miliar.
Utang Besar, tetapi Total Liabilitas KAI Turun
Meski memiliki pinjaman jangka panjang mencapai Rp37,08 triliun, kondisi keuangan KAI tidak hanya dapat dilihat dari besarnya pinjaman. Pada 30 Juni 2026, total liabilitas KAI justru turun menjadi sekitar Rp65,11 triliun, dari Rp66,14 triliun pada akhir 2025.
Pada periode yang sama, total aset KAI mencapai Rp104,79 triliun, sedangkan ekuitas perusahaan berada di level Rp39,69 triliun. Dari sisi likuiditas jangka pendek, aset lancar KAI mencapai sekitar Rp21,04 triliun, lebih tinggi dibandingkan kewajiban jangka pendek sekitar Rp15,17 triliun.
Artinya, meskipun jumlah pinjaman dan beban keuangan KAI cukup besar, struktur neraca perusahaan menunjukkan aset dan ekuitas yang masih signifikan serta total liabilitas yang menurun dibandingkan akhir 2025.
Jika dilihat secara keseluruhan, kinerja KAI pada semester I 2026 memperlihatkan perbedaan antara performa bisnis operasional dan hasil akhir perusahaan.
Baca juga : Kekhawatiran Warga Dunia Usai Suburnya Proyek Data Center AI
Pendapatan KAI meningkat menjadi Rp17,96 triliun. Laba usaha juga tumbuh 25,79% menjadi Rp4,66 triliun. Jumlah pelanggan KAI Group bahkan meningkat 7,55% menjadi hampir 259 juta pelanggan.
Namun, laba tahun berjalan justru merosot menjadi Rp314,03 miliar. Tekanan tersebut berkaitan dengan meningkatnya rugi dari anak usaha dan ventura bersama, keterlibatan pendanaan KAI pada PSBI yang berkaitan dengan proyek Whoosh, serta meningkatnya beban keuangan.
Dengan demikian, kenaikan pendapatan KAI pada semester I 2026 belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kenaikan laba bersih.

Chrisna Chanis Cara
Editor
