KSEI: Mayoritas Investor Reksa Dana, Target 2026 Saham
- KSEI menargetkan penambahan 2 juta investor baru pada 2026 dengan fokus peningkatan kualitas. Total investor 2025 tembus 20,2 juta didominasi Gen Z.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menetapkan target moderat penambahan dua juta investor baru untuk periode tahun 2026 mendatang. Regulator kini mulai menggeser fokus utama dari sekadar pertumbuhan kuantitas menuju peningkatan kualitas investor pasar modal domestik. Strategi ini diambil setelah jumlah investor berhasil menembus angka psikologis 20 juta.
Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat menegaskan bahwa peningkatan kualitas investor tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Kolaborasi aktif dengan seluruh pelaku industri sangat dibutuhkan untuk mencapai target pertumbuhan yang berkelanjutan di masa depan. Ekosistem pasar modal harus bergerak sinergis untuk mengedukasi masyarakat luas.
Sepanjang tahun 2025 total jumlah investor pasar modal tercatat telah melampaui angka 20 juta identitas tunggal pemodal. Capaian historis ini menjadi fondasi kuat bagi otoritas untuk menata ulang strategi pengembangan basis investor yang lebih berkualitas. "Mudah-mudahan ini bisa kami capai," harap Samsul belum lama ini.
1. Sinergi Kejar Target
Manajemen Kustodian Sentral Efek Indonesia menyadari bahwa target dua juta investor baru mustahil dicapai tanpa dukungan pelaku pasar. Peran aktif dari perusahaan efek dan bank kustodian menjadi kunci utama dalam menjaring minat calon pemodal baru. Sinergi lintas institusi diperlukan untuk memperluas jangkauan akses investasi.
Selain sekuritas peran agen penjual reksa dana juga sangat vital dalam mendistribusikan produk pasar modal ke daerah. Otoritas mendorong para agen penjual untuk lebih agresif dalam melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat awam. Strategi jemput bola dianggap efektif untuk meningkatkan partisipasi publik.
Keterlibatan seluruh elemen ekosistem pasar modal diharapkan mampu menciptakan gelombang baru pertumbuhan investor yang inklusif di tahun depan. Target kuantitas tetap dijaga namun dibarengi dengan upaya peningkatan literasi yang lebih mendalam kepada nasabah. "Tentunya ini sangat membutuhkan peran dari para pelaku pasar," kata Samsul.
2. Tantangan Kualitas Investor
Samsul menyoroti fakta bahwa sebagian besar basis investor saat ini didominasi oleh pemegang unit penyertaan reksa dana. Kelompok investor ini cenderung memiliki karakter konservatif dan pasif dalam melakukan aktivitas perdagangan di bursa efek. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pendalaman likuiditas pasar saham.
Data statistik menunjukkan bahwa hampir delapan belas juta orang atau mayoritas pemodal merupakan investor produk reksa dana. Profil investor seperti ini biasanya berorientasi jangka panjang dan jarang melakukan transaksi jual beli secara harian. Otoritas ingin mendorong mereka agar naik kelas menjadi investor saham aktif.
Edukasi berkelanjutan diperlukan untuk mengubah pola pikir investor pasif menjadi lebih berani mengambil keputusan investasi mandiri. Peningkatan kualitas ini dinilai krusial agar pasar modal Indonesia tidak hanya besar dalam angka statistik semata. "Investornya memang bukan seperti investor saham yang aktif," ucapnya.
3. Rekor Tembus 20 Juta
Meskipun fokus beralih ke kualitas namun pencapaian kuantitas sepanjang tahun 2025 tetap patut mendapatkan apresiasi tinggi. Otoritas Jasa Keuangan mencatat total investor telah mencapai 20,2 juta identitas tunggal per tanggal 23 Desember 2025. Angka ini melampaui target yang ditetapkan pada awal tahun.
Pertumbuhan jumlah investor tercatat melesat tajam hingga 35,88% secara tahunan dibandingkan posisi akhir tahun 2024 lalu. Penambahan investor baru mencapai angka fantastis yakni lebih dari lima juta orang dalam kurun waktu satu tahun. Tren ini menunjukkan minat investasi masyarakat semakin tinggi.
Pencapaian ini juga menjadi bukti keberhasilan program inklusi keuangan yang digencarkan oleh regulator bersama pelaku industri keuangan. Kemudahan akses digital menjadi katalis utama lonjakan jumlah investor ritel dari berbagai lapisan masyarakat. "Menjelaskan keberhasilan upaya inklusi keuangan," kata Eddy Manindo Harahap.
4. Dominasi Gen Z vs Aset
Struktur demografi investor tahun 2025 memperlihatkan dominasi generasi muda di bawah usia 30 tahun sebesar 54,23%. Generasi Z dan milenial menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan jumlah investor baru di pasar modal tanah air. Mereka sangat antusias memanfaatkan teknologi untuk memulai perjalanan investasi.
Namun total aset yang dimiliki oleh kelompok usia muda ini berbanding terbalik dengan jumlah populasi mereka. Investor muda tercatat hanya menguasai aset sebesar Rp80,57 triliun yang merupakan porsi terkecil dari seluruh kelompok umur. Kemampuan modal mereka masih terbatas dibandingkan generasi senior.
Sebaliknya investor berusia di atas 60 tahun justru menguasai total aset jumbo senilai Rp1.201 triliun saat ini. Meskipun jumlah orangnya sedikit namun kekuatan finansial generasi boomer masih menjadi penopang utama likuiditas pasar modal. "Potensi besar terhadap generasi muda kita," tambah Eddy.
5. Sebaran Wilayah dan Gender
Berdasarkan data persebaran wilayah investor pasar modal masih sangat terkonsentrasi di Pulau Jawa dengan porsi mencapai 68,91%. Sementara itu wilayah Sumatra hanya berkontribusi sebesar 16,29% dan Kalimantan di angka satu digit saja. Ketimpangan ini menjadi pekerjaan rumah pemerataan akses investasi.
Dari sisi gender investor laki-laki masih mendominasi komposisi pemodal dengan persentase mencapai 66,35% sepanjang tahun 2025. Partisipasi perempuan dalam investasi pasar modal perlu terus didorong untuk menciptakan inklusivitas finansial yang lebih baik lagi. Potensi investor perempuan dinilai masih sangat besar.
KSEI berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan layanan ke luar Jawa guna menjaring potensi investor di daerah. Pemerataan literasi dan infrastruktur investasi menjadi agenda penting dalam mengejar target pertumbuhan tahun 2026 nanti. Pasar modal harus bisa diakses oleh seluruh rakyat Indonesia.

Alvin Bagaskara
Editor
