Kredit Korporasi dan Jenius Tumbuh, SMBC Indonesia Raup Laba Rp1,4 T
- SMBC Indonesia membukukan laba bersih Rp1,4 triliun semester I-2026, naik 40,3% secara tahunan. Pertumbuhan didorong kredit korporasi hingga penguatan dana murah (CASA).

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Bank SMBC Indonesia Tbk mencatatkan kinerja positif sepanjang semester I-2026 dengan membukukan laba bersih konsolidasi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,4 triliun, meningkat 40,3% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penguatan bisnis inti, optimalisasi portofolio kredit, serta struktur pendanaan yang semakin efisien. Pada paruh pertama tahun ini, SMBC Indonesia juga menjalankan tahap pertama pengalihan portofolio kredit pensiun kepada PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN).
Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengalokasikan modal ke segmen bisnis dengan potensi pertumbuhan lebih tinggi sekaligus menjaga kualitas portofolio.
Direktur Utama SMBC Indonesia Henoch Munandar mengatakan transformasi portofolio menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam memperkuat fundamental bisnis di tengah dinamika industri perbankan dan ekonomi.
"Kami terus memperkuat fundamental bisnis agar Perseroan mampu tumbuh secara sehat dan berkelanjutan. Setiap langkah strategis diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara pencapaian kinerja dan penciptaan nilai tambah agar hidup seluruh pemangku kepentingan menjadi bersama lebih bermakna," ujar Henoch.
Kredit Tumbuh di Segmen Korporasi hingga Digital
Hingga akhir Juni 2026, SMBC Indonesia membukukan penyaluran kredit konsolidasi sebesar Rp185,3 triliun.
Pertumbuhan terutama berasal dari sejumlah segmen strategis, yakni:
- kredit korporasi dan komersial tumbuh 12,8% secara tahunan;
- kredit segmen digital savvy melalui layanan Jenius (di luar Digital Micro) meningkat 9,9%;
- pembiayaan BTPN Syariah naik 8,7%;
- pembiayaan Grup OTO tumbuh 5,8%.
Pertumbuhan kredit tersebut turut mendorong pendapatan operasional konsolidasi menjadi Rp8,6 triliun, terdiri atas pendapatan bunga bersih sebesar Rp7,5 triliun dan pendapatan operasional lainnya Rp1 triliun.
Di sisi lain, biaya kredit (credit cost) berhasil ditekan 14,8% menjadi Rp2,1 triliun, mencerminkan kualitas pengelolaan risiko kredit yang tetap terjaga.
Secara keseluruhan, total aset konsolidasi SMBC Indonesia meningkat 4,7% menjadi Rp245,5 triliun.
Sementara itu, laba bersih bank secara bank only mencapai Rp1,066 triliun, melonjak 86% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Anak Usaha Ikut Mendorong Pertumbuhan
Kontribusi positif juga datang dari entitas anak.
BTPN Syariah membukukan laba bersih Rp655 miliar, meningkat 1,8% secara tahunan, dengan total pembiayaan mencapai Rp11 triliun atau tumbuh 8,7%.
Sementara itu, Grup OTO mencatatkan kinerja yang lebih kuat dengan laba bersih Rp382 miliar, melonjak 251,8% dibandingkan semester I-2025.
Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan pembiayaan sebesar 5,8% serta membaiknya kualitas pembiayaan yang menekan biaya kredit.
CASA Melonjak, Likuiditas Semakin Kuat
Di sisi pendanaan, SMBC Indonesia berhasil meningkatkan dana murah (Current Account Saving Account/CASA) secara signifikan.
Hingga Juni 2026, saldo CASA mencapai Rp60,1 triliun, meningkat 37,4% dibandingkan tahun sebelumnya.
Rasio CASA juga naik menjadi 47,5%, dari sebelumnya 39,8%, didorong pertumbuhan dana murah dari segmen korporasi, komersial, usaha kecil dan menengah (UKM), serta ritel.
Menurut Henoch, penguatan CASA menjadi fondasi penting dalam menjaga efisiensi biaya dana sekaligus meningkatkan kapasitas pembiayaan.
"Penguatan CASA merupakan bagian penting dari upaya kami untuk membangun struktur pendanaan yang semakin sehat dan efisien. Dengan likuiditas yang tetap kuat, kami memiliki fleksibilitas yang lebih besar untuk mendukung kebutuhan nasabah sekaligus memperkuat kapasitas Perseroan dalam mengembangkan bisnis secara berkelanjutan," katanya.
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) SMBC Indonesia berada di level 30,7%, jauh di atas ketentuan minimum regulator, sehingga memberikan ruang yang cukup bagi ekspansi bisnis ke depan.
Perkuat Literasi Keuangan
Selain memperkuat bisnis, SMBC Indonesia juga melanjutkan program literasi dan inklusi keuangan melalui inisiatif Daya. Sepanjang semester I-2026, program tersebut menjangkau 4.830 peserta melalui berbagai seminar dan 18 sesi konsultasi keuangan individual.
Perseroan juga mengembangkan program edukasi bagi guru SMK, komunitas perempuan, hingga karyawan korporasi dengan materi yang mencakup pengelolaan keuangan pribadi, perencanaan dana pensiun, hingga edukasi mengenai risiko pinjaman daring ilegal dan utang konsumtif.
Salah satu program baru yang dikembangkan adalah kurikulum literasi keuangan "Masa Depan Lebih Bermakna melalui Kesiapan Finansial" untuk siswa SMK.
Program tersebut diawali dengan pelatihan bagi enam guru dari dua sekolah dan akan diterapkan kepada sekitar 1.000 siswa kelas X mulai Agustus 2026. SMBC Indonesia juga memperluas edukasi melalui platform digital Daya.id.
Hingga akhir Juni 2026, platform tersebut mencatat 451.558 pengunjung, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 173.177 pengunjung.
Sejak diluncurkan, Daya.id telah memiliki lebih dari 238.000 pengguna terdaftar yang dapat mengakses lebih dari 5.000 konten edukasi mengenai keuangan, kewirausahaan, dan gaya hidup.
Fokus pada Pertumbuhan Berkualitas
Kinerja semester pertama SMBC Indonesia mencerminkan strategi industri perbankan yang kini semakin menekankan pertumbuhan berkualitas dibandingkan ekspansi agresif.
Optimalisasi portofolio kredit, penguatan dana murah, serta efisiensi biaya dana menjadi faktor penting untuk menjaga profitabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi global dan persaingan yang semakin ketat.
Dengan likuiditas yang kuat, kualitas aset yang terjaga, serta modal yang memadai, SMBC Indonesia memiliki ruang lebih besar untuk memperluas pembiayaan pada segmen-segmen yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.

Chrisna Chanis Cara
Editor
