Tren Ekbis

Korupsi MBG Terkuak: Mengapa Program Sosial Besar Rentan Bancakan?

  • Kasus dugaan korupsi MBG yang menjerat tiga pejabat BGN membuka pertanyaan besar: mengapa program sosial bernilai jumbo kerap rentan korupsi? Simak pola dan risikonya.
korupsi ilustrasi.jpg
Ilustrasi Korupsi (TrenAsia)

JAKARTA, TRENASIA. – Kasus dugaan korupsi yang menyeret tiga mantan pejabat Badan Gizi Nasional (BGN) membuka babak baru dalam polemik Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kejaksaan Agung menetapkan mantan Kepala BGN Dadan Hindayana, mantan Deputi Penyediaan dan Penyaluran Sony Sonjaya, serta mantan Deputi Promosi dan Kerja Sama Lodewyk Pusung sebagai tersangka dugaan korupsi tata kelola MBG periode 2025-2026.

Penyidik menduga para tersangka memiliki keterkaitan dengan sejumlah yayasan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menerima aliran dana program MBG. Yayasan-yayasan tersebut diduga terafiliasi langsung maupun tidak langsung dengan para tersangka sehingga menimbulkan konflik kepentingan dalam pengelolaan anggaran negara.

Jika dugaan tersebut terbukti di pengadilan, kasus ini bukan lagi sekadar persoalan penyimpangan administratif atau penipuan oleh pihak luar. Kasus tersebut menunjukkan risiko yang jauh lebih serius: pengelola program diduga ikut menikmati manfaat dari sistem yang seharusnya mereka awasi.

Namun di luar aspek hukum yang sedang berjalan, kasus ini juga memunculkan pertanyaan yang lebih besar. Mengapa program sosial berskala besar hampir selalu menghadapi risiko korupsi yang tinggi?

Bukan Kasus Pertama

MBG bukan program sosial pertama yang menghadapi persoalan tata kelola. Dalam dua dekade terakhir, Indonesia telah menjalankan berbagai program bantuan sosial berskala nasional.

Mulai dari Bantuan Langsung Tunai (BLT), Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), hingga bantuan sosial saat pandemi COVID-19. Sebagian berhasil mencapai target penerima manfaat. Namun tidak sedikit yang tersandung persoalan penyimpangan.

Kasus korupsi bantuan sosial COVID-19 pada 2020 menjadi salah satu contoh paling dikenal. Saat itu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap praktik suap dalam pengadaan paket bantuan sosial yang menyebabkan kerugian negara dan mengurangi efektivitas bantuan kepada masyarakat.

Indonesia Corruption Watch (ICW) dalam sejumlah kajiannya juga mencatat sektor pengadaan barang dan jasa pemerintah secara konsisten menjadi salah satu area dengan risiko korupsi tertinggi.

Program sosial umumnya melibatkan kombinasi tiga faktor yang sangat rentan terhadap penyalahgunaan:

  • anggaran besar,
  • distribusi yang luas,
  • dan pelaksanaan yang harus dilakukan dalam waktu cepat.

MBG memiliki ketiganya sekaligus.

Ketika Uang Besar Bertemu Pengawasan yang Belum Matang

Dalam APBN 2026, anggaran MBG mencapai sekitar Rp268 triliun. Nilai tersebut menjadikan MBG sebagai salah satu program sosial terbesar yang pernah dijalankan pemerintah Indonesia.

Untuk memberikan gambaran, anggaran tersebut lebih besar dibanding total anggaran banyak kementerian dan lembaga negara. Besarnya dana bukan masalah selama sistem pengawasan mampu mengimbanginya. Masalah muncul ketika program berkembang lebih cepat dibanding kapasitas pengawasannya.

Guru Besar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Agus Pramusinto, dalam kajiannya tentang tata kelola publik menjelaskan bahwa risiko korupsi meningkat ketika suatu program melibatkan jaringan pelaksana yang sangat luas tetapi belum memiliki sistem pengawasan yang matang.

"Semakin panjang rantai birokrasi dan distribusi anggaran, semakin banyak titik rawan yang harus diawasi," tulis Agus dalam berbagai publikasi mengenai tata kelola pemerintahan.

Dalam konteks MBG, rantai tersebut mencakup pemerintah pusat, BGN, mitra yayasan, SPPG, pemasok bahan baku, hingga penerima manfaat di lapangan. Setiap mata rantai membuka potensi munculnya konflik kepentingan.

Tiga Pola yang Selalu Berulang

Penelitian Bank Dunia (World Bank) mengenai program bantuan sosial di berbagai negara berkembang menunjukkan terdapat tiga pola yang sering muncul dalam kasus penyimpangan.

1. Pendataan yang Belum Sempurna

Program berskala besar membutuhkan basis data yang akurat. Ketika data penerima manfaat tidak mutakhir atau sulit diverifikasi, ruang manipulasi menjadi lebih besar.

Pada berbagai program bantuan sosial sebelumnya, pemerintah beberapa kali menghadapi persoalan ketidaktepatan sasaran akibat masalah data.

2. Terlalu Banyak Pintu Masuk

Semakin banyak pihak yang terlibat dalam distribusi anggaran, semakin besar risiko munculnya perantara yang tidak perlu.

Dalam kasus MBG, keberadaan yayasan dan berbagai mitra pelaksana menciptakan lapisan tambahan dalam alur distribusi dana.

Jika tidak diawasi secara ketat, struktur seperti ini berpotensi membuka ruang konflik kepentingan.

3. Pengawasan Selalu Tertinggal

Banyak program sosial diluncurkan dengan target yang ambisius dan tekanan politik yang tinggi. Akibatnya, implementasi sering berjalan lebih cepat dibanding pembangunan sistem pengawasan. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia.

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam berbagai laporan tata kelola publik menyebut program bantuan sosial darurat maupun berskala besar sering menghadapi dilema antara kecepatan penyaluran dan kualitas pengawasan.

Mengapa Korupsi Program Sosial Lebih Berbahaya?

Korupsi dalam proyek infrastruktur memang merugikan negara. Namun korupsi dalam program sosial memiliki dampak tambahan yang lebih luas. Setiap rupiah yang diselewengkan berarti berkurangnya manfaat yang seharusnya diterima kelompok rentan.

Dalam kasus MBG, sasaran program adalah anak-anak usia sekolah dan kelompok yang membutuhkan intervensi gizi. Artinya, jika terjadi kebocoran anggaran, dampaknya bukan hanya pada laporan keuangan negara. Dampaknya juga dapat memengaruhi kualitas layanan yang diterima penerima manfaat.

Ekonom pembangunan dari Universitas Indonesia, Prof. Vid Adrison, dalam penelitian mengenai efektivitas belanja sosial menjelaskan bahwa tata kelola yang buruk dapat mengurangi dampak program meskipun anggarannya besar.

"Besarnya anggaran tidak otomatis menghasilkan manfaat yang besar jika mekanisme implementasi dan pengawasannya tidak berjalan efektif," tulisnya dalam sejumlah publikasi akademik.

Pelajaran dari Kasus MBG

Kasus yang kini menjerat mantan pejabat BGN masih berada dalam proses hukum dan seluruh pihak tetap memiliki hak atas asas praduga tak bersalah. Namun terlepas dari hasil akhirnya nanti, kasus ini memberikan pelajaran penting mengenai tantangan program sosial berskala besar.

Sejarah menunjukkan bahwa risiko terbesar dalam program bantuan bukan hanya kekurangan dana. Justru ketika dana tersedia dalam jumlah sangat besar, tantangan sesungguhnya adalah memastikan uang tersebut sampai kepada pihak yang membutuhkan.

Karena itu, keberhasilan MBG pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah makanan yang dibagikan atau besarnya anggaran yang disediakan. Keberhasilannya juga akan ditentukan oleh kemampuan pemerintah membangun sistem yang transparan, akuntabel, dan mampu mencegah konflik kepentingan sejak awal.