Kilas Balik Perang Tanker 1980-an, Ketika Energi Jadi Alat Perang
- Irak serang Pulau Kharg 1984, Israel serang Shahran 2026. Infrastruktur minyak jadi senjata perang dua zaman. Ini sejarah Perang Tanker dan dampaknya ke harga energi global.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Asap hitam tebal mengepul dari Depo Minyak Shahran di pinggiran barat laut Teheran. Pada Sabtu, 8 Maret 2026, Israel melancarkan serangan udara yang menghantam empat fasilitas penyimpanan minyak dan satu pusat transfer produk minyak di Teheran dan Provinsi Alborz, menurut media pemerintah Iran.
Bagi siapa pun yang pernah mempelajari sejarah Teluk Persia, pemandangan itu terasa seperti kilas balik yang mengerikan, kembalinya momok yang telah tidur selama hampir empat dekade.
Untuk memahami mengapa serangan ke infrastruktur minyak begitu mengguncang pasar global, perlu mundur ke era 1980-an masa ketika Teluk Persia pertama kali berubah menjadi arena perang energi.
Flashback Perang Tanker 1984 -1988
Dilansir Ensiklopedia Britanica, Selasa, 10 Maret 2026, perang Tanker adalah serangkaian serangan militer Iran dan Irak terhadap kapal-kapal dagang di Teluk Persia dan Selat Hormuz antara 1981 hingga 1988.
Irak bertanggung jawab atas 283 serangan, sementara Iran melancarkan 168 serangan. Akar konflik ini berawal dari invasi Irak ke Iran pada September 1980, perang darat berdarah yang segera merembet ke laut.
Perang Tanker dimulai ketika Irak menyerang terminal minyak dan kapal tanker di Pulau Kharg, fasilitas ekspor minyak utama Iran, pada awal 1984. Strategi Irak jelas, potong urat nadi keuangan Iran dengan menghancurkan ekspor minyaknya.
Perang Tanker adalah kampanye attrisi ekonomi dan intimidasi politik. Irak menyerang kapal-kapal yang melayani pelabuhan Iran untuk mengurangi ekspor minyak Iran, yang sepenuhnya lewat jalur laut dan membiayai upaya perang Iran.
Baca juga : Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Hantu Inflasi Impor Pangan Kian Nyata
Iran membalas mulai 1984, menyerang kapal tanker milik negara-negara yang mendukung Irak, termasuk Kuwait dan Arab Saudi. Situasi memanas sehingga Amerika Serikat turun tangan lewat Operation Earnest Will (24 Juli 1987 – 26 September 1988) yang merpuakan operasi perlindungan militer Amerika atas kapal tanker milik Kuwait dari serangan Iran, konvoi angkatan laut terbesar sejak Perang Dunia II.
Klimaksnya terjadi 18 April 1988 kala Presiden Ronald Reagan mengizinkan Operation Praying Mantis sebagai respons atas kapal Angkatan Laut AS yang menghantam ranjau Iran di Selat Hormuz. Dalam salah satu pertempuran paling tidak seimbang dalam sejarah angkatan laut modern, AS menghancurkan sekitar 40% armada laut Iran.
Baca juga : Perang Timur Tengah Bisa Bikin Kopi Favoritmu Makin Mahal
Harga Minyak Era Perang Tanker
Yang menarik dari Perang Tanker 1984 -1988 adalah dampaknya terhadap harga minyak global ternyata lebih kecil dari yang diperkirakan. Pada awalnya, Perang Tanker memang memicu penurunan pengiriman komersial sebesar 25% dan lonjakan tajam harga minyak mentah.
Namun secara keseluruhan, Perang Tanker tidak mengganggu pengiriman minyak secara signifikan. Iran bahkan menurunkan harga minyaknya untuk mengimbangi premi asuransi yang lebih tinggi, dan harga minyak global riil justru terus menurun sepanjang 1980-an.
Mengapa? Karena lalu lintas kapal di Selat Hormuz tidak pernah benar-benar berhenti. Menurut beberapa perkiraan, kampanye anti-pengiriman gabungan Iran dan Irak tidak pernah mengganggu lebih dari dua persen kapal di Teluk.
Sebuah artikel dari United States Naval Institute tahun 1988 memperkirakan hanya 1–2% lalu lintas kapal dagang melalui Selat Hormuz yang diserang selama Perang Tanker. Ribuan kapal melewati selat itu tanpa gangguan sepanjang perang. Setelah Operation Praying Mantis menghancurkan armada Iran, harga minyak justru turun 5,9%. Pasar lega karena navigasi di Hormuz tetap terjamin.

Chrisna Chanis Cara
Editor
