Perang Timur Tengah Bisa Bikin Kopi Favoritmu Makin Mahal
- Konflik Iran vs AS-Israel bukan sekadar drama geopolitik jauh di sana. Ada jalur transmisi nyata membentang dari Selat Hormuz langsung ke racikan kopimu.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Kamu mungkin tidak mengikuti berita perang Iran versus Amerika Serikat dan Israel. Tapi diam-diam, konflik yang meletus sejak akhir Februari 2026 itu mulai menyentuh hal-hal yang jauh lebih dekat, salah satunya ke harga kopi favoritmu.
Selain itu harga daging ayam di warteg favoritmu, tarif ojek online yang tiba-tiba naik, sampai minyak goreng yang kembali merangkak di rak minimarket. Itulah cara inflasi bekerja, Ia tidak datang dengan pengumuman resmi. Ia datang lewat struk belanja yang angkanya terus bergerak ke atas.
Bahkan sebelum kita bicara soal perang, data sudah memberi sinyal yang perlu diwaspadai. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan Indonesia pada Februari 2026 mencapai 4,76% level tertinggi sejak Maret 2023.
Inflasi bulanan tercatat 0,68%, membalik dari deflasi 0,15% pada Januari 2026. Kondisi tersebut terjadi sebelum ketegangan Timur Tengah benar-benar mengguncang pasar energi global.
Selat Hormuz, Jalur Ekonomi Penting
Untuk memahami bagaimana perang di Timur Tengah bisa memengaruhi harga kopi di depan kantormu, kamu perlu tahu satu nama, Selat Hormuz. Selat Hormuz adalah jalur yang dilewati sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Ketika Iran menutupnya sebagai respons atas serangan AS dan Israel, harga minyak mentah Brent langsung melonjak ke level US$84 per barel pada 3 Maret 2026, tertinggi sejak Januari.
Dalam satu minggu, harga minyak mentah Brent sempat melonjak hampir 30%, menyentuh US$92,69 per barel. Para ekonom memperingatkan bahwa lonjakan harga energi ini berisiko menghidupkan kembali api inflasi global justru di saat berbagai negara mengira guncangan harga terburuk sudah lewat.
Bagi Indonesia, situasi ini bukan sekadar angka di layar. Konsumsi nasional mencapai hampir 1,6 juta barel minyak per hari, sementara produksi dalam negeri tidak sampai setengahnya. Ketergantungan terhadap impor membuat Indonesia sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak dunia dan fluktuasi nilai tukar dolar AS.
Alur Inflasi
Ini adalah bagian yang jarang dijelaskan secara jelas. Bagaimana minyak mentah di Teluk Persia akhirnya bisa membuat harga nasi goreng di kosanmu naik?
Mekanismenya berlangsung berlapis. Menurut Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi, kenaikan harga minyak dunia merambat ke ongkos transportasi dan logistik, yang ujungnya mendorong inflasi biaya pada pangan dan barang konsumsi termasuk Kopi favoritmu.
Pada saat yang sama, gejolak geopolitik biasanya memicu arus modal global berpindah ke aset aman sehingga rupiah menghadapi tekanan dan imbal hasil obligasi negara berisiko naik karena investor meminta kompensasi risiko lebih tinggi. Ketika rupiah melemah, semua barang impor termasuk bahan baku pangan dan produk olahan otomatis lebih mahal. Pengusaha kave pun tidak punya pilihan selain menyesuaikan harga jual.
Dalam model transmisi inflasi Bank Indonesia, setiap kenaikan harga minyak global sekitar US$10 per barel dapat menambah inflasi domestik sekitar 0,2 - 0,4 poin persentase, terutama melalui komponen administered prices seperti BBM dan tarif listrik.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan setiap kenaikan 10% harga Pertalite berpotensi menambah sekitar 0,27 poin persentase terhadap inflasi domestik. Jika harga minyak bertahan di atas asumsi APBN, pemerintah berpotensi menyesuaikan harga BBM bersubsidi dan ini yang langsung dirasakan di dompet.
APBN Tertekan, Subsidi Jadi Taruhan
Di sini terletak dilema terbesar pemerintah saat ini. Asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN 2026 ditetapkan US$70 per barel lebih rendah dari ICP APBN 2025 yang dipatok US$82 per barel. Sementara harga aktual kini sudah bergerak di kisaran US$78–80 per barel, melampaui asumsi anggaran.
Konsekuensinya tidak kecil, sekretaris Kemenko Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menjelaskan bahwa setiap kenaikan US$1 harga ICP memaksa pemerintah menambah belanja Rp10,3 triliun untuk subsidi dan kompensasi energi. Di sisi lain, tambahan penerimaan dari sumber daya alam hanya sekitar Rp3,6 triliun defisit yang terus melebar.
Dilansir Antara, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sudah memberi sinyal bahwa harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax akan disesuaikan mengikuti harga minyak dunia dalam waktu dekat, meski Pertalite akan dipertahankan harganya selama tidak ada perubahan kebijakan pemerintah.
Ketua MPP PKS Mulyanto memperingatkan bahwa jika harga crude menembus US$100 per barel skenario yang kini tidak lagi terdengar mustahil beban APBN bisa membengkak Rp105 hingga Rp120 triliun.
Pemerintah kini terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama tidak nyaman, menaikkan harga BBM dan memicu inflasi langsung, atau menahan harga dengan subsidi dan membiarkan APBN jebol perlahan.
Dua lembaga keuangan utama Indonesia kompak mengirimkan sinyal waspada. Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman menyatakan bank sentral terus mencermati risiko inflasi domestik akibat kenaikan harga minyak dunia yang dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, termasuk pangan.
Dari sisi pengawasan, Pjs. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyebutkan setidaknya ada tiga jalur transmisi risiko yang dipetakan kenaikan harga minyak, potensi volatilitas pasar keuangan, dan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter global yang akan memengaruhi arah suku bunga domestik.

Muhammad Imam Hatami
Editor
