Ketika Kelas Menengah Makin Terengah-engah
- Kenaikan harga BBM, suku bunga 5,50%, dan pelemahan rupiah menekan kelas menengah RI. Simak dampaknya terhadap konsumsi, dan risiko bagi target pertumbuhan ekonomi nasional.

Chrisna Chanis Cara
Author


Suasana sejumlah pekerja melintas saat jam pulang kerja di kawasan Dukuh Atas, Sudirman, Jakarta, Rabu, 4 November 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID – Dalam beberapa hari terakhir, kelas menengah Indonesia menerima tiga kabar buruk sekaligus. Harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter. Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50%. Di saat yang sama, rupiah masih bertahan di kisaran Rp17.900 per dolar AS.
Bagi jutaan keluarga kelas menengah perkotaan, semuanya bermuara pada satu hal yang sama: biaya hidup yang semakin mahal dan rasa aman ekonomi yang semakin menipis.
Mereka adalah kelompok yang membayar pajak, mencicil rumah, membeli kendaraan, membayar sekolah anak, membeli asuransi, berinvestasi di pasar modal, dan menjadi pelanggan utama berbagai sektor jasa.
Ketika kelompok ini mulai menahan belanja dan beralih ke mode bertahan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga. Pertumbuhan ekonomi nasional juga ikut terancam.
Data yang Menunjukkan Lampu Kuning
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai indikator menunjukkan tekanan terhadap kelas menengah Indonesia semakin nyata.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah masyarakat yang masuk kategori rentan miskin terus meningkat. Per Maret 2026, kelompok rentan miskin mencapai sekitar 67,9 juta orang atau 24,12% dari total penduduk Indonesia.
Kelompok ini berada sedikit di atas garis kemiskinan, tetapi sangat rentan kembali jatuh ketika terjadi guncangan ekonomi seperti kenaikan harga energi, inflasi pangan, atau pelemahan daya beli.
Di saat yang sama, sejumlah kajian menunjukkan ukuran kelas menengah Indonesia tidak lagi tumbuh secepat satu dekade lalu.
Laporan World Bank juga memperingatkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menjaga mobilitas ekonomi masyarakat agar tidak terjebak dalam kategori rentan secara permanen.
Jurang Tabungan Makin Lebar
Salah satu indikator yang paling menarik untuk diamati adalah data simpanan perbankan. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan pertumbuhan dana simpanan tidak terjadi secara merata.
Kelompok masyarakat dengan tabungan kecil justru mengalami tekanan yang cukup besar. Dalam berbagai laporan perbankan, rata-rata saldo kelompok nasabah dengan simpanan di bawah Rp100 juta mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Sebaliknya, kelompok dengan simpanan miliaran rupiah justru mencatatkan pertumbuhan dana yang jauh lebih cepat. Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat menggunakan tabungan untuk mempertahankan konsumsi sehari-hari, sementara kelompok berpenghasilan tinggi masih mampu menambah akumulasi aset.
Ekonom Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, dalam sejumlah kajian mengenai ketimpangan ekonomi menjelaskan bahwa perlambatan daya beli kelas menengah sering menjadi sinyal awal melemahnya konsumsi domestik.
"Ketika kelompok menengah mulai mengurangi belanja, efeknya bisa menjalar ke banyak sektor karena mereka merupakan penggerak utama konsumsi rumah tangga," ujarnya.
Kelas Menengah Mulai Tekan Pengeluaran
Tekanan ekonomi yang dihadapi kelas menengah hari ini berbeda dibanding kelompok berpendapatan rendah. Mereka mungkin tidak langsung jatuh miskin. Mereka masih bekerja, masih menerima gaji. Namun mereka mulai mengubah perilaku.
Liburan ditunda. Pembelian kendaraan ditangguhkan. Renovasi rumah dibatalkan. Investasi ditahan. Belanja non-esensial pun dikurangi. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebut fenomena ini sebagai perubahan perilaku konsumsi dari mode ekspansi menuju mode bertahan.
"Risiko terbesar saat ini bukan hanya penyusutan jumlah kelas menengah, tetapi hilangnya rasa aman ekonomi. Orang masih bekerja, masih memiliki pendapatan, tetapi merasa masa depannya semakin tidak pasti," kata Yusuf dalam sebuah diskusi mengenai kondisi kelas menengah Indonesia.
Menurutnya, pertumbuhan konsumsi kelas menengah kini cenderung lebih rendah dibanding kelompok bawah yang masih mendapatkan berbagai dukungan bantuan sosial dan subsidi pemerintah.

Tiga tekanan yang muncul hampir bersamaan pekan ini sebenarnya memiliki karakteristik yang sama. Ketiganya paling banyak dirasakan kelas menengah perkotaan. Kenaikan harga Pertamax terutama berdampak pada pemilik kendaraan pribadi. Kenaikan BI Rate memengaruhi cicilan kredit dengan bunga mengambang (floating rate), termasuk KPR.
Sementara pelemahan rupiah meningkatkan harga barang impor, biaya pendidikan luar negeri, perangkat elektronik, hingga berbagai layanan digital berbasis dolar. Artinya, tekanan yang muncul tidak terjadi pada satu pos pengeluaran saja. Ia datang dari berbagai arah sekaligus.
Ekonom Senior INDEF, Aviliani, mengingatkan bahwa daya beli kelas menengah sangat sensitif terhadap kenaikan biaya tetap rumah tangga. Ketika pengeluaran rutin seperti transportasi, cicilan, dan pendidikan meningkat bersamaan, ruang untuk konsumsi lain akan menyempit.
Ancaman Pertumbuhan Ekonomi
Persoalan kelas menengah bukan sekadar isu kesejahteraan rumah tangga. Ini juga persoalan pertumbuhan ekonomi. Data BPS menunjukkan konsumsi rumah tangga secara konsisten menyumbang lebih dari 50% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Dengan kata lain, mesin utama ekonomi Indonesia bukan ekspor atau investasi, melainkan belanja masyarakat. Kelompok yang paling banyak menopang konsumsi tersebut adalah kelas menengah.
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam berbagai kajiannya menyebut kelas menengah berfungsi sebagai jangkar stabilitas ekonomi karena memiliki kemampuan konsumsi yang relatif tinggi dan berkelanjutan.
Kelompok ini menjadi pelanggan utama:
- sektor perumahan,
- pendidikan,
- otomotif,
- pariwisata,
- kesehatan,
- jasa keuangan,
- hingga UMKM modern.
Ketika kelas menengah mulai menahan pengeluaran, efeknya dapat menjalar ke seluruh rantai ekonomi.
Siapa yang Akan Menopang Target Pertumbuhan 6,5%?
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai sekitar 6,5% pada 2027. Target tersebut membutuhkan konsumsi domestik yang kuat, investasi yang meningkat, dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Namun muncul pertanyaan, bagaimana target tersebut bisa dicapai jika kelompok yang selama ini menjadi motor konsumsi justru mulai menahan belanja?
World Bank dalam laporan Aspiring Indonesia: Expanding the Middle Class pernah menegaskan bahwa memperbesar kelas menengah merupakan salah satu syarat utama agar Indonesia dapat keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap).
Artinya, tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan hanya mengurangi kemiskinan. Tantangan berikutnya adalah memastikan kelas menengah tidak terus menyusut atau turun kelas akibat tekanan ekonomi yang datang bertubi-tubi.
Yang membuat fenomena ini lebih berisiko adalah sifatnya yang tidak dramatis. Tidak ada antrean panjang di bank. Tidak ada gelombang PHK massal yang langsung terlihat, atau tidak ada krisis finansial seperti 1998.
Yang terjadi lebih samar seperti keluarga mulai mengurangi belanja, terkikisnya tabungan, penundaan investasi, hingga hilangnya rasa aman finansial.
Sejarah banyak negara menunjukkan bahwa ketika kelas menengah mulai kehilangan optimisme terhadap masa depan, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi bisa berlangsung jauh lebih lama dibanding gejolak pasar keuangan yang datang dan pergi.

Chrisna Chanis Cara
Editor
