Ketika Anak Muda Dominasi Pelaku dan Korban Kecelakaan di Solo
- Kecelakaan lalu lintas di Solo mencapai 1.526 kejadian pada 2025, naik 40%. Yang ironis, remaja dan anak muda mencakup 51% korban dan 55% pelaku.

Chrisna Chanis Cara
Author


SOLO, TRENASIA.ID — Kecelakaan lalu lintas di Kota Solo meningkat tajam sepanjang 2025. Data Satlantas Polresta Solo menunjukkan terdapat 1.526 kejadian kecelakaan, naik sekitar 40% dibandingkan 2024.
Di tengah peningkatan tersebut, remaja dan anak muda menjadi kelompok yang paling menonjol. Mereka mencakup 51% korban kecelakaan sekaligus 55% pelaku pada 2025. Jumlah korban dari kelompok remaja dan anak muda juga meningkat 50% dibandingkan 2024, sementara jumlah pelaku dari kelompok yang sama naik 34%.
Selain mencatat 1.526 kejadian, data Satlantas Polresta Solo mencatat 78 korban meninggal dunia dan 1.771 luka ringan sepanjang 2025.
Data tersebut dipaparkan dalam konferensi pers AI&Me Solo Road Safety Festival di SMP Khusus Olahraga (SKO) Kota Solo, Selasa, 6 Oktober 2026. Road Safety Festival merupakan agenda yang berfokus pada isu keselamatan jalan dan akan berlangsung di SKO, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Direktur Transportologi Sukma Larastiti mengatakan tingginya keterlibatan anak muda dalam kecelakaan lalu lintas tidak bisa dilepaskan dari semakin luasnya akses terhadap kendaraan, terutama sepeda motor. “Akibat akses yang sudah begitu luas, anak muda itu lebih mudah mengakses kendaraan atau motor, kendati belum usianya,” kata Sukma.
Menurut dia, persoalan berikutnya adalah pengetahuan dan keterampilan berkendara yang belum matang. “Secara pengetahuan dan keterampilan nggak matang. Jadi akhirnya peningkatan tabrakannya tinggi,” ujar Lala, sapaan akrabnya.
Anak Muda di Dua Sisi Persoalan
Data Kota Solo menunjukkan persoalan keselamatan jalan memiliki dua sisi. Anak-anak dan anak muda berada dalam posisi sebagai kelompok korban yang besar, tetapi pada saat yang sama juga menjadi kelompok pelaku yang dominan.
Grafik data Satlantas Polresta Solo memperlihatkan peningkatan korban pada kelompok usia muda, terutama kelompok 15–19 tahun dan 20–24 tahun pada 2025 dibandingkan 2024. Pada sisi pelaku, kelompok usia 17–21 tahun dan 22–29 tahun juga terlihat menonjol dalam data 2025.
Kondisi tersebut membuat persoalan keselamatan jalan tidak cukup diselesaikan hanya dengan imbauan agar anak muda lebih berhati-hati ketika berkendara.

Lala menilai perlu ada pemahaman yang lebih luas mengenai bagaimana kecelakaan terjadi dan bagaimana sistem transportasi dapat mencegah kesalahan manusia berujung pada cedera serius atau kematian. “Semua orang bisa salah saat berkendara,” katanya.
Menurut dia, seseorang bisa saja melakukan kesalahan karena berbagai kondisi. Pengendara bisa kelelahan setelah bekerja, mengalami persoalan emosional, atau kehilangan konsentrasi ketika berada di jalan.
Karena itu, keselamatan jalan semestinya tidak hanya dibebankan kepada pengguna jalan. “Siapapun orang yang melakukan kesalahan itu, kalau bisa jangan sampai luka-luka, jangan sampai meninggal,” ujar Lala
Prinsip tersebut, lanjut dia, berarti keselamatan harus dibangun melalui berbagai lapisan, mulai dari infrastruktur, kendaraan, regulasi pemerintah hingga penanganan pascakecelakaan.
Hampir Semua Ruas di Solo Punya Titik Kecelakaan
Transportologi juga melakukan pemetaan titik kecelakaan selama dua tahun, yakni pada 2024 hingga 2025, menggunakan titik GPS untuk melihat lokasi kejadian.
Dari pemetaan tersebut, Lala mengatakan titik kecelakaan tersebar hampir di seluruh wilayah Kota Bengawan. “Hampir semua jalan, di wilayah Kota Solo, entah itu jalan kota, jalan nasional, jalan provinsi, ada titik kecelakaan,” katanya.
Artinya, persoalan kecelakaan tidak bisa begitu saja dikaitkan dengan satu jenis jalan atau satu kawasan tertentu. Menurut Lala, yang membedakan antarlokasi adalah tingkat keparahan kecelakaan dan risiko fatalitasnya.
Transprtologi menyebut kawasan Manahan sebagai salah satu wilayah yang memiliki jumlah titik kecelakaan tinggi. Sementara karakteristik jalan tertentu, termasuk jalan provinsi, dapat memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan ruas jalan yang lebih kecil.
“Blind Spot” dalam Data Keselamatan Jalan
Lala juga menyoroti masih adanya ruang kosong dalam data keselamatan jalan. Menurut dia, terdapat kondisi ketika penyebab kecelakaan tidak dapat dijelaskan secara memadai hanya dari catatan yang tersedia.
Hal tersebut menjadi semacam black hole dalam data keselamatan jalan. “Apakah masalah pencatatan, atau memang realitasnya seperti itu? Atau memang masalah infrastruktur jelek? Bisa banyak faktor," ujar dia.
Menurut Lala, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperbanyak riset keselamatan jalan untuk mengetahui faktor-faktor yang selama ini belum terlihat dalam data.
Karena itu, Transportologi mendorong anak muda untuk melakukan riset keselamatan jalan melalui rangkaian kegiatan AI&Me Solo Road Safety Festival. Riset tersebut diharapkan dapat membantu menemukan blind spot atau persoalan yang selama ini belum teridentifikasi karena minimnya data dan penelitian.
Bagi Lala, kebutuhan terhadap riset menjadi semakin penting karena keselamatan jalan tidak bisa hanya dijelaskan melalui satu penyebab. Ia menilai pendekatan keselamatan harus melihat keseluruhan sistem.
“Ketika manusia melakukan kesalahan, sistem transportasi seharusnya dirancang agar kesalahan tersebut tidak langsung berakhir menjadi kecelakaan fatal,” jelasnya.
Dengan angka kecelakaan yang meningkat 40% dan anak-anak serta anak muda berada di posisi yang dominan baik sebagai korban maupun pelaku, persoalan keselamatan jalan di Solo akhirnya bukan hanya menyangkut perilaku berkendara generasi muda.
Persoalan tersebut juga menyentuh bagaimana kota merancang jalan, menyediakan infrastruktur, mengatur kendaraan, membangun sistem transportasi, hingga memastikan korban mendapatkan penanganan yang tepat setelah kecelakaan.

Chrisna Chanis Cara
Editor
