Tren Ekbis

Kenapa Saham MDIA Terbang Padahal Rugi dan Terlilit Utang?

  • Saham MDIA melonjak 23,15% ke Rp266 meski fundamental masih lemah. Simak kinerja ANTV, utang PKPU Rp1,02 triliun, hingga status UMA dari BEI.
<p>Komisaris Utama PT Intermedia Capital Tbk. Anindya Novyan Bakrie mengumumkan Mantan Menteri Pariwisata Arief Yahya yang didaulat menjadi Direktur Utama PT Intermedia Capital Tbk. sebagai perusahaan media ANTV. / Facebook @bakrie.anindya</p>

Komisaris Utama PT Intermedia Capital Tbk. Anindya Novyan Bakrie mengumumkan Mantan Menteri Pariwisata Arief Yahya yang didaulat menjadi Direktur Utama PT Intermedia Capital Tbk. sebagai perusahaan media ANTV. / Facebook @bakrie.anindya

(Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Saham PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) kembali menjadi sorotan pasar setelah mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan Kamis, 6 Agustus 2026. 

Hingga penutupan sesi I, saham emiten media milik Grup Bakrie tersebut melesat 23,15% ke level Rp266 per saham, melanjutkan reli tajam yang telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.

Kenaikan tersebut semakin mempertegas pergerakan harga saham MDIA yang jauh melampaui kinerja fundamental perseroan. Dalam satu bulan terakhir, saham MDIA telah melonjak sekitar 204,2%, sementara secara year-to-date (YTD) menguat sekitar 145,4%.

Lonjakan harga tersebut terjadi ketika perusahaan masih membukukan rugi bersih, pendapatan menurun, serta memiliki liabilitas lebih dari Rp2 triliun dan kewajiban restrukturisasi utang melalui Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Emiten Pengelola ANTV Milik Grup Bakrie

PT Intermedia Capital Tbk merupakan perusahaan media yang mengelola stasiun televisi ANTV melalui anak usahanya, PT Cakrawala Andalas Televisi. Perseroan berada dalam ekosistem Grup Bakrie, sementara posisi Komisaris Utama dijabat oleh Anindra Ardiansyah Bakrie.

Sebagai perusahaan media, pendapatan MDIA sebagian besar berasal dari bisnis penyiaran televisi dan penjualan ruang iklan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir industri televisi nasional menghadapi tekanan akibat pergeseran belanja iklan menuju platform digital.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: HRTA dan CUAN Terbang, MAPI Tiarap

Kinerja Keuangan Q1 2026 Masih Tertekan

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, kinerja operasional MDIA masih menunjukkan tekanan. Beberapa indikator utamanya meliputi,

  • Pendapatan neto turun 15,15% menjadi Rp141,71 miliar, dari sebelumnya Rp167,02 miliar.
  • Beban usaha turun menjadi Rp127,44 miliar, dari Rp135,08 miliar.
  • Laba usaha anjlok sekitar 55%, dari Rp31,94 miliar menjadi Rp14,27 miliar.
  • Beban lain-lain neto turun drastis menjadi Rp22,58 miliar, dari Rp90,25 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
  • Rugi sebelum pajak menyempit sekitar 85,7%, dari Rp58,31 miliar menjadi Rp8,31 miliar.
  • Rugi bersih juga mengecil sekitar 85,8%, dari Rp58,26 miliar menjadi Rp8,28 miliar.

Meski rugi bersih berhasil ditekan, perbaikan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh turunnya beban lain-lain, bukan karena pertumbuhan pendapatan maupun peningkatan aktivitas bisnis. Di sisi lain, laba usaha justru terpangkas lebih dari separuh akibat melemahnya pendapatan operasional.

Baca juga : IHSG Dibuka Naik 0,14 Persen, SOLA dan MDIA Jadi Katalis

Liabilitas Masih Tembus Rp2,19 Triliun

Selain tekanan terhadap pendapatan, neraca perusahaan juga masih menjadi perhatian investor.

Per akhir Maret 2026:

  • Total aset mencapai Rp3,12 triliun, turun dari Rp3,33 triliun pada akhir 2025.
  • Total liabilitas masih sebesar Rp2,19 triliun, meski lebih rendah dibandingkan Rp2,39 triliun pada Desember 2025.

Perseroan juga masih memiliki sejumlah kewajiban yang berasal dari proses restrukturisasi utang melalui PKPU, antara lain:

  • Sisa utang PKPU sekitar Rp322,67 miliar.
  • Total utang yang direstrukturisasi melalui PKPU mencapai sekitar Rp1,02 triliun.
  • Utang usaha pihak ketiga jangka pendek meningkat 27,97%, dari Rp28,54 miliar menjadi Rp36,53 miliar.

Besarnya liabilitas tersebut menunjukkan bahwa proses pemulihan kondisi keuangan perusahaan masih belum sepenuhnya selesai.

Harga Saham Justru Terbang Tinggi

Di tengah kondisi fundamental tersebut, harga saham MDIA justru melesat sangat tajam. Hingga penutupan sesi I perdagangan Kamis, 6 Agustus 2026:

  • Harga saham naik 23,15% menjadi Rp266.
  • Dalam satu bulan terakhir saham telah melonjak sekitar 204,2%.
  • Sejak awal tahun (YTD), kenaikannya mencapai sekitar 145,4%.

Reli tersebut terjadi tanpa adanya aksi korporasi besar ataupun perubahan fundamental yang sebanding.

Sudah Dua Kali Disuspensi Bursa

Pergerakan saham MDIA telah beberapa kali mendapat perhatian Bursa Efek Indonesia (BEI). Berikut kronologinya,

  • 22 April 2026: Harga sempat menyentuh Rp156 sebelum ditutup di Rp144.
  • 23 April 2026: BEI menghentikan sementara perdagangan saham MDIA sebagai langkah cooling down.
  • 28 April 2026: Manajemen menggelar public expose insidental dan menyatakan pergerakan saham merupakan mekanisme pasar yang wajar.
  • 30 Juli 2026: MDIA masuk daftar Unusual Market Activity (UMA) bersama saham DEWI dan GULA.
  • 31 Juli 2026: Harga kembali melonjak 34,62% hingga mencapai Rp175.
  • 5 Agustus 2026: Bursa kembali melakukan suspensi karena kenaikan harga kumulatif dinilai tidak wajar.
  • 6 Agustus 2026: Setelah kembali diperdagangkan, saham kembali melesat 23,15% ke level Rp266 pada penutupan sesi I.

Suspensi tersebut dilakukan BEI sebagai bentuk perlindungan investor sekaligus memberikan waktu bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan keputusan investasinya.

Baca juga : Prospek Saham BUMI Usai Laba Bersih Naik 188 Persen

Mengapa Pergerakan MDIA Menjadi Sorotan?

Perhatian pelaku pasar muncul karena terdapat kesenjangan yang cukup besar antara kondisi fundamental perusahaan dengan lonjakan harga sahamnya.

Beberapa faktor yang menjadi perhatian antara lain:

  • Pendapatan perusahaan turun 15,15%.
  • Perseroan masih membukukan rugi bersih sekitar Rp8,28 miliar.
  • Total liabilitas masih mencapai Rp2,19 triliun.
  • Utang yang direstrukturisasi melalui PKPU mencapai sekitar Rp1,02 triliun.
  • Utang usaha jangka pendek meningkat hampir 28%.
  • Di sisi lain, harga saham justru melonjak lebih dari 200% dalam satu bulan.
  • Saham telah dua kali disuspensi dan masuk dalam daftar UMA BEI.

Selain itu, industri televisi yang menjadi bisnis utama MDIA masih menghadapi tekanan akibat perpindahan belanja iklan ke platform digital. Di luar laporan keuangan, ANTV juga sempat menjadi sorotan terkait laporan tunggakan pembayaran honor kepada sejumlah artis, termasuk Inul Daratista.

Status Unusual Market Activity (UMA) bukan berarti emiten melakukan pelanggaran terhadap peraturan pasar modal. Namun, status tersebut menunjukkan Bursa mendeteksi adanya pola transaksi atau pergerakan harga yang tidak biasa sehingga memerlukan perhatian lebih dari investor.

Investor umumnya disarankan mencermati keterbukaan informasi perusahaan, mengevaluasi kondisi fundamental, serta mempertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi, terutama pada saham yang telah beberapa kali mengalami suspensi perdagangan.

Dengan masih melemahnya pendapatan, posisi rugi, liabilitas yang besar, serta kewajiban restrukturisasi utang yang belum sepenuhnya selesai, reli harga saham MDIA menjadi salah satu fenomena paling menarik di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2026.