Prospek Saham BUMI Usai Laba Bersih Naik 188 Persen
- Kinerja BUMI membaik dengan laba Rp1,05 triliun, produksi batu bara naik, dan rencana diversifikasi mineral kritis melalui akuisisi Loyal Metals.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi salah satu emiten yang paling mencuri perhatian pada perdagangan Rabu, 5 Agustus 2026.
Harga saham perusahaan tambang batu bara tersebut ditutup menguat 6,55% ke level Rp179 per saham, didorong oleh lonjakan laba bersih semester I-2026 serta optimisme pasar terhadap strategi diversifikasi bisnis perusahaan.
Tidak hanya menguat dari sisi harga, saham BUMI juga menjadi salah satu yang paling aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Volume transaksi mencapai 4,55 miliar saham dengan frekuensi 72.892 kali dan nilai transaksi sekitar Rp799,40 miliar.
Penguatan tersebut terjadi setelah perusahaan merilis laporan keuangan semester I-2026 yang menunjukkan pertumbuhan kinerja di hampir seluruh indikator utama.
Baca juga : Pertumbuhan Ekonomi Melambat ke 5,29 Persen, RI Mulai Kehilangan Momentum
Laba Bersih BUMI Melonjak 188%
Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, BUMI membukukan pendapatan sebesar US$866,8 juta, meningkat 27,9% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sejalan dengan kenaikan pendapatan, laba bruto naik 36,3% YoY menjadi US$145,9 juta.
Kinerja paling mencolok terlihat pada laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk. BUMI mencatat laba bersih sebesar US$58,9 juta, atau sekitar Rp1,05 triliun, melonjak 188,4% dibandingkan semester I-2025.
Perusahaan juga memperkuat posisi neracanya. Hingga akhir Juni 2026, total aset meningkat menjadi US$4,59 miliar dari US$4,22 miliar pada akhir 2025.
Di sisi likuiditas, kas dan setara kas bertambah menjadi US$179,69 juta, meningkat dari US$118,59 juta pada akhir tahun lalu.
Produksi Batu Bara dan Harga Jual Meningkat
Pertumbuhan kinerja keuangan BUMI didukung oleh peningkatan volume produksi maupun penjualan batu bara. Selama semester I-2026, perusahaan membukukan volume produksi sebesar 38,5 juta ton, tumbuh 7,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, volume penjualan batu bara mencapai 38,8 juta ton, meningkat 11,7% YoY.
BUMI juga menikmati kenaikan harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) menjadi US$62,9 per ton, atau naik sekitar 2,6% dibandingkan semester I-2025.
Kombinasi pertumbuhan volume produksi, peningkatan efisiensi operasional, serta membaiknya harga jual menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan profitabilitas perusahaan.
Baca juga : Penutupan LQ45 Hari Ini: KLBF dan AMRT Meroket, MAPI Tiarap
Asing Borong Saham BUMI
Sentimen positif terhadap laporan keuangan turut tercermin dari aktivitas investor asing. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, saham BUMI mencatat net buy investor asing sekitar Rp175 miliar, menjadi yang terbesar di pasar pada perdagangan 5 Agustus 2026.
Sementara itu, data Kompas.com mencatat pembelian bersih asing di saham BUMI mencapai sekitar Rp33,33 miliar.
Menariknya, aksi akumulasi di saham BUMI terjadi ketika secara keseluruhan investor asing justru masih membukukan jual bersih (net sell) sekitar Rp65,81 miliar di seluruh pasar.
Hal tersebut menunjukkan minat investor terhadap saham BUMI tetap tinggi meski arus dana asing secara umum masih keluar dari Bursa Efek Indonesia.
Di sisi lain, BUMI sebelumnya memutuskan tidak membagikan dividen dari laba tahun buku 2025. Keputusan tersebut ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 18 Juni 2026.
Manajemen memilih mengalokasikan laba perusahaan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung strategi diversifikasi bisnis ke sektor nonbatu bara.
Keputusan tersebut sempat memberikan tekanan terhadap harga saham BUMI pada akhir Juni lalu.
Baca juga : IHSG Ditutup Menguat 0,5 Persen, Cek Data Lengkapnya
Akuisisi Loyal Metals Jadi Katalis Baru
Selain kinerja keuangan yang membaik, perhatian investor juga tertuju pada rencana ekspansi perusahaan.
BUMI telah memberikan klarifikasi kepada Bursa Efek Indonesia terkait rencana akuisisi Loyal Metals Limited, perusahaan tambang yang tercatat di Bursa Australia (ASX).
Loyal Metals bergerak di sektor mineral kritis dengan fokus pada komoditas tembaga dan emas, dua mineral yang diperkirakan memiliki prospek jangka panjang seiring meningkatnya kebutuhan industri kendaraan listrik dan transisi energi.
Manajemen menegaskan proses akuisisi masih berada pada tahap awal dan belum terdapat pengalihan dana maupun keputusan final.
Apabila terealisasi, langkah tersebut dipandang sejalan dengan strategi jangka panjang BUMI untuk mengurangi ketergantungan terhadap bisnis batu bara melalui diversifikasi ke sektor pertambangan mineral.
Kinerja operasional yang terus membaik, lonjakan laba bersih, peningkatan posisi kas, hingga rencana ekspansi ke sektor mineral kritis menjadi sejumlah katalis yang menopang optimisme investor terhadap BUMI.
Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan harga batu bara global, realisasi rencana akuisisi Loyal Metals, serta kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan laba di tengah dinamika pasar komoditas.
Dengan kombinasi fundamental yang membaik dan strategi diversifikasi bisnis, saham BUMI diperkirakan masih akan menjadi salah satu emiten tambang yang terus menjadi perhatian investor dalam beberapa waktu ke depan.

Chrisna Chanis Cara
Editor
