Kenapa Kita Jadi Sat Set Saat Kepepet? Ini Penjelasan Ilmiahnya
- Kenapa manusia jadi sat set saat kepepet? Penelitian mengungkap peran hormon stres, fokus otak, dan deadline yang membuat produktivitas meningkat.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Hampir semua orang pernah mengalaminya, tugas yang berhari-hari tidak kunjung dikerjakan tiba-tiba selesai dalam semalam. Laporan yang tertunda berminggu-minggu mendadak rampung beberapa jam sebelum tenggat. Bahkan pekerjaan yang tampak mustahil justru bisa diselesaikan dengan cepat ketika waktu semakin mepet.
Fenomena ini sering disebut masyarakat Indonesia sebagai "mode sat set" atau kemampuan bekerja super cepat ketika berada dalam kondisi terdesak. Pertanyaannya, mengapa manusia justru sering menjadi lebih fokus, lebih cepat, bahkan lebih produktif saat kepepet?
Ternyata jawabannya tidak sekadar soal kemauan. Berbagai penelitian psikologi, neurosains, dan ilmu perilaku menunjukkan bahwa otak manusia memang mengalami perubahan cara kerja ketika menghadapi tekanan waktu dan ancaman kegagalan.
Otak Masuk Mode Darurat
Saat seseorang menghadapi deadline, ancaman kehilangan pekerjaan, tekanan akademik, atau situasi yang dianggap berisiko, tubuh akan mengaktifkan sistem respons stres.
Dalam kondisi ini, hormon kortisol dan adrenalin meningkat untuk mempersiapkan tubuh menghadapi ancaman.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Pharmacological Reports, peningkatan kortisol merupakan bagian dari mekanisme biologis alami manusia ketika menghadapi tekanan. Hormon ini membuat tubuh lebih waspada dan meningkatkan kesiapan menghadapi situasi darurat.
Secara evolusi, respons tersebut dahulu membantu manusia bertahan hidup saat menghadapi predator atau ancaman fisik. Di era modern, ancaman itu berubah menjadi deadline pekerjaan, target penjualan, ujian, atau tagihan yang harus segera dibayar.
Akibatnya, tubuh bereaksi seolah sedang menghadapi kondisi kritis sehingga energi dan perhatian menjadi lebih terpusat pada satu tujuan.
Baca juga : Mengenal Malam 1 Suro Solo, Ritual Sakral Warisan Kerajaan Jawa
Fokus Menyempit, Gangguan Berkurang
Salah satu alasan mengapa orang menjadi lebih "sat set" ketika kepepet adalah karena otak mulai memprioritaskan hal-hal yang dianggap paling penting.
Saat waktu masih panjang, seseorang cenderung memiliki banyak pilihan aktivitas. Media sosial, menonton film, bermain gim, hingga aktivitas lain mudah mengalihkan perhatian.
Namun ketika tenggat semakin dekat, otak mulai menghapus banyak distraksi dan memusatkan sumber daya mental pada tugas yang harus diselesaikan.
Dalam psikologi, kondisi ini sering disebut sebagai peningkatan fokus berbasis ancaman atau threat-based attention. Otak menganggap tugas yang belum selesai sebagai ancaman sehingga perhatian diarahkan secara lebih intens dibandingkan kondisi normal.
Otak Beralih ke Mode Otomatis
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychoneuroendocrinology menemukan bahwa stres akut membuat manusia lebih mengandalkan sistem kebiasaan atau habitual system dibandingkan proses berpikir yang panjang.
Dalam kondisi santai, seseorang cenderung mempertimbangkan banyak opsi sebelum mengambil keputusan. Sebaliknya ketika berada di bawah tekanan, otak memilih jalan yang lebih cepat dengan memanfaatkan pola perilaku yang sudah dikenal sebelumnya.
Inilah sebabnya banyak orang mampu mengetik laporan dengan cepat, menyelesaikan presentasi dalam waktu singkat, atau mengambil keputusan secara instan ketika waktu semakin sempit.
Otak tidak lagi menghabiskan energi untuk mempertimbangkan terlalu banyak kemungkinan.
Fenomena tersebut juga didukung oleh penelitian dalam jurnal Cognitive, Affective, & Behavioral Neuroscience yang menemukan bahwa stres dapat menurunkan aktivitas pada bagian otak bernama dorsolateral prefrontal cortex (dlPFC).
Wilayah otak ini bertanggung jawab terhadap perencanaan, analisis, evaluasi risiko, dan pengambilan keputusan yang kompleks. Ketika aktivitas dlPFC menurun, manusia cenderung berhenti berpikir terlalu lama dan lebih cepat bertindak.
Efek sampingnya, keputusan bisa menjadi kurang matang. Namun dalam situasi tertentu, kondisi ini justru meningkatkan kecepatan penyelesaian tugas. Karena itu banyak orang merasa lebih produktif saat mepet deadline meskipun kualitas hasilnya belum tentu selalu lebih baik.
Baca juga : Mengenal 7 Sumber Mikroplastik yang Jarang Kamu Sadari
Stres Tidak Selalu Buruk
Selama ini stres sering dianggap musuh produktivitas, padahal para peneliti menemukan bahwa tidak semua stres berdampak negatif. Dalam psikologi dikenal istilah eustress, yaitu stres positif yang mampu meningkatkan motivasi, energi, dan fokus.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Individual Differences menunjukkan bahwa tingkat kecemasan tertentu justru dapat membantu seseorang mencapai performa yang lebih baik.
Ketika tekanan masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan, otak memanfaatkannya sebagai sumber energi tambahan untuk mencapai target.
Itulah sebabnya sebagian orang mengaku bekerja lebih efektif ketika memiliki deadline yang jelas dibandingkan saat memiliki waktu yang terlalu longgar.
Mengapa Deadline Sering Membuat Orang Lebih Cepat Bergerak?
Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep psikologi yang dikenal sebagai Parkinson's Law, yakni pekerjaan akan menghabiskan waktu sebanyak waktu yang tersedia.
Jika seseorang diberi waktu satu bulan untuk menyelesaikan tugas yang sebenarnya bisa selesai dalam tiga hari, sering kali pekerjaan tersebut benar-benar memakan waktu hampir satu bulan.
Sebaliknya ketika tenggat hanya tersisa beberapa hari, otak segera menyesuaikan strategi dan meningkatkan prioritas pengerjaan. Akibatnya muncul kesan bahwa seseorang mendadak menjadi lebih rajin, lebih fokus, dan lebih cepat bekerja.
Meski mampu meningkatkan produktivitas jangka pendek, bekerja dalam kondisi kepepet secara terus-menerus bukan strategi yang sehat.
Penelitian dalam European Journal of Neuroscience menunjukkan bahwa stres berkepanjangan dapat mengubah cara otak mengakses memori dan membuat manusia lebih bergantung pada kebiasaan daripada pemikiran rasional.
Jika berlangsung terlalu lama, kondisi ini berisiko menurunkan kualitas pengambilan keputusan, meningkatkan kecemasan, memicu kelelahan mental, hingga menyebabkan burnout.
Karena itu para ahli menyarankan agar tekanan digunakan sebagai pemicu fokus, bukan menjadi pola kerja permanen.
Jadi, Kenapa Kita Jadi Sat Set Saat Kepepet?
Secara ilmiah, kondisi "sat set" saat kepepet terjadi karena otak memasuki mode darurat yang meningkatkan kewaspadaan, mempersempit fokus, mengurangi distraksi, dan mempercepat proses pengambilan keputusan.
Lonjakan hormon stres membuat tubuh mengalokasikan energi lebih besar pada tugas yang dianggap mendesak. Pada saat yang sama, otak mengurangi kecenderungan untuk terlalu banyak berpikir sehingga tindakan dapat dilakukan lebih cepat.
Singkatnya, ketika deadline semakin dekat, otak tidak tiba-tiba menjadi lebih pintar. Otak hanya berhenti membuang energi untuk hal-hal yang dianggap tidak penting dan memusatkan seluruh perhatian pada satu tujuan utama: menyelesaikan pekerjaan sebelum terlambat.

Muhammad Imam Hatami
Editor
