Kenapa IHSG Terus Tertekan?
- Mengapa IHSG terus melemah padahal laba emiten dan ekonomi masih tumbuh? Simak faktor foreign outflow, pelemahan rupiah, dan sentimen pasar.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Bursa saham Indonesia kembali mengalami hari yang berat. Pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 254 poin atau 4,11% ke level 5.941,07.
Sepanjang perdagangan, IHSG bahkan sempat menyentuh level 5.842 sebelum memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan pasar. Posisi ini menjadi yang terendah dalam lima tahun terakhir dan menghapus hampir seluruh kenaikan yang tercipta sejak ekonomi Indonesia mulai pulih dari pandemi.
Yang membuat kondisi ini membingungkan banyak investor adalah fakta bahwa ekonomi Indonesia sebenarnya tidak sedang berada dalam situasi krisis.
Tidak ada gelombang kebangkrutan perbankan seperti 1998. Tidak ada penghentian aktivitas ekonomi seperti saat pandemi COVID-19 pada 2020. Pertumbuhan ekonomi masih bertahan di atas 5%, sementara bank-bank besar masih mencatatkan laba.
Namun pasar saham justru terus tertekan. Inilah yang membuat sebagian pelaku pasar mulai menyebut kondisi saat ini sebagai sebuah anomali.
Baca juga : Kado Pahit untuk Ritel di Hari Pasar Modal
Alasan IHSG Terus Tertekan
Penyebabnya bukan hanya satu faktor. Tekanan datang dari kombinasi beberapa sentimen negatif yang muncul hampir bersamaan, mulai dari derasnya arus keluar dana asing, pelemahan rupiah, hingga meningkatnya keraguan investor terhadap sejumlah perkembangan domestik.
Masing-masing faktor sebenarnya sudah muncul sejak beberapa waktu lalu. Namun ketika semuanya terjadi dalam waktu berdekatan, dampaknya menjadi jauh lebih besar terhadap pasar.
Dana Asing Keluar Besar-besaran
Salah satu tekanan terbesar datang dari aksi jual investor asing.
Data menunjukkan sepanjang periode 1 Januari hingga 29 Mei 2026, investor asing telah mencatatkan net sell mencapai Rp77,41 triliun di pasar reguler. Angka tersebut belum termasuk tekanan jual yang terjadi pada awal Juni.
Aksi jual ini tidak lepas dari keputusan sejumlah penyedia indeks global yang mengeluarkan beberapa saham Indonesia dari indeks acuan mereka.
MSCI menghapus enam saham Indonesia dari Global Standard Index, termasuk AMMN, BREN, dan TPIA. Sementara itu, 13 saham lainnya keluar dari Small Cap Index. Pada saat yang sama, FTSE Russell juga melakukan penyesuaian terhadap sejumlah emiten domestik.
Akibatnya, dana-dana pasif global yang mengikuti indeks tersebut terpaksa menjual saham-saham terkait. Bukan karena kinerja perusahaannya memburuk, melainkan karena aturan investasi mereka memang mengharuskan hal itu.
Rupiah Ambrol
Di saat yang sama, rupiah juga terus berada dalam tekanan.
Pada perdagangan Rabu, mata uang Garuda sempat menyentuh level Rp17.926 per dolar AS. Pelemahan ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kenaikan harga minyak dunia hingga meningkatnya ketidakpastian global.
Bagi investor asing, pelemahan rupiah menciptakan risiko tambahan. Mereka bukan hanya menghadapi potensi kerugian dari penurunan harga saham, tetapi juga dari depresiasi nilai tukar.
Kondisi ini sering kali menciptakan efek berantai. Ketika rupiah melemah, investor asing menjual saham. Ketika saham dijual, aliran modal keluar semakin besar dan tekanan terhadap rupiah kembali meningkat.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan IHSG saat ini.
Baca juga : Indeks LQ45 Turun Hampir 5 Persen, AMMN dan MDKA Ambles
Sentimen Domestik Ikut Memburuk
Tekanan pasar juga bertambah setelah muncul sejumlah sentimen domestik yang dinilai mengurangi kepercayaan investor.
Salah satunya terkait keputusan Moody's yang memberikan peringkat Baa2 dengan outlook negatif kepada PT Danantara Investment Management, sejalan dengan outlook negatif yang sebelumnya diberikan kepada Indonesia.
Perhatian pasar bukan semata pada peringkat tersebut, melainkan catatan Moody's yang menyebut lembaga tersebut belum memiliki rekam jejak operasional yang panjang dan belum beroperasi secara independen.
Bagi investor global, isu seperti ini sering kali menjadi faktor tambahan dalam menilai tingkat risiko suatu negara.
Benarkah Ini Sebuah Anomali?
Jika melihat kinerja emiten, istilah anomali memang cukup beralasan. Hingga akhir Mei, sejumlah bank besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI masih membukukan pertumbuhan laba. Tidak ada tanda-tanda penurunan tajam pada kualitas aset maupun kondisi permodalan mereka.
BBCA misalnya masih mempertahankan fundamental yang kuat meskipun menjadi salah satu saham yang paling banyak dilepas investor asing.
Inilah yang membedakan situasi sekarang dengan krisis 1998 maupun pandemi 2020. Pada periode tersebut, harga saham jatuh seiring memburuknya kondisi ekonomi dan kinerja perusahaan.
Saat ini yang mengalami tekanan terutama adalah harga saham, sementara banyak perusahaan besar masih mampu menghasilkan keuntungan.
Karena itu, sebagian analis melihat koreksi pasar lebih banyak dipicu faktor sentimen dan likuiditas dibanding memburuknya fundamental korporasi.
Bukan Krisis, Tapi Jelas Belum Pulih
Kondisi pasar saham Indonesia saat ini memang belum bisa disebut sebagai krisis ekonomi. Fundamental perusahaan-perusahaan besar masih relatif sehat, pertumbuhan ekonomi tetap berjalan, dan sektor perbankan masih menghasilkan laba yang kuat.
Meski demikian, pasar juga belum bisa dikatakan berada dalam kondisi normal.
Kombinasi arus keluar dana asing, pelemahan rupiah, serta meningkatnya ketidakpastian baik dari dalam maupun luar negeri membuat investor memilih bersikap lebih berhati-hati.
Selama faktor-faktor tersebut belum mereda, tekanan terhadap IHSG masih berpotensi berlanjut meski valuasi saham-saham Indonesia mulai terlihat semakin murah secara historis.

Muhammad Imam Hatami
Editor
